Herdi Sahrasad Raih Doktor Sosiologi Politik Islam

HMINEWS- Alumni Himpunan Mahasiswa Islam yang juga Wartawan senior,  Herdi Sahrasad meraih gelar doktor (PhD) di bidang sosiologi politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.  Herdi Sahrasad melakukan penelitian mengenai kesenjangan sosial-ekonomi antara golongan Muslim dan Tionghoa serta polarisasi sosial dan kekerasan politik di dalamnya pada era Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto.

Dalam sidang doktor yang dipimpin Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Dr Musa Asyari itu, promovendus (Herdi) menguraikan konflik, ketegangan, dan kerusuhan berbau suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA yang dialami etnis Tionghoa dipengaruhi oleh faktor kesenjangan sosial-ekonomi, perbedaan suku, agama, dan kultur yang tumpang tindih dan berhimpitan. Hal itu berulangkali meletupkan kekerasan rasial di Indonesia pada masa Presiden Soeharto.
‘’Namun kekerasan anti-Tionghoa itu juga terjadi pada era kolonial dan Orde Lama Presiden Soekarno,’’ kata Herdi yang juga peneliti senior Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina.
Bertindak sebagai promotor sekaligs penguji ialah Prof Dr H Djoko Suryo, sejarawan dan guru besar Universitas Gadjah Mada dan Prof Dr Iskandar Zulkarnain, guru besar dan Direktur Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga. Selain di hadapan mereka, Herdi mempertahankan desertasinya di depan tim penguji, yakni Prof Ratno Lukito (UIN Sunan Kalojaga), Dr Suharko (UGM), Dr Sukamta (UIN Sunan Kalijaga).
Herdi menulis disertasi berjudul Polarisasi Sosial dan Kekerasan Politik: Studi tentang Kesenjangan antara Pribumi Muslim dan Etnis Tionghoa di Indonesia pada Era Orde Baru 1966-1998 setebal 580 halaman. Desertasi itu mengangkat tema negara, Muslim dan Tionghoa: kesenjangan, keterbelahan dan kekerasan. Tema ini berangkat dari kepedulian dan keprihatinannya atas berbagai kerusuhan rasial di Indonesia sejak era pascakolonial.
Berdasarkan pendekatan sosiologi dan kesejarahan, dengan terori konflik yang berkaitan dengan kekerasan politik dan polarisasi sosial, studi Herdi itu menemukan bahwa kesenjangan ekonomi dan polarisasi sosial antara pribumi Muslim dan etnis Tionghoa di era Orde Baru (1966-1998), telah menyebabkan seringnya terjadi kerusuhan rasial dan kekerasan politik berbau SARA.
‘’Saya melihat, menelaah, dan menganalisis bahwa walaupun faktor ‘rekayasa’ dalam kerusuhan bisa saja disebabkan oleh kepentingan politik, penguasa, militer, kelompok atau golongan tertentu di masyarakat. Namun, faktor kesenjangan ekonomi paling besar kontribusinya terhadap terjadinya kerusuhan dan kekerasan politik,’’ jelasnya dalam sidang terbuka promosi doktor tersebut, di Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogaykarta, Senin (10/1/2011) petang.
Signifikansi disertasi ini terletak pada sumbangannya untuk menyingkapkan kesenjangan ekonomi antara kaum pribumi muslim dan etnis Tionghoa dengan data observasi dan penelitian lapangan berbekal pendekatan multidisipliner, serta sumbangannya untuk menyingkapkan kegagalan kebijakan Orde Baru dalam mengakulturasikan dan mengintegrasikan etnis Tionghoa sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
‘’Studi ini juga memperkaya kajian mengenai masalah pembangunan bangsa yang menyangkut hubungan antara Muslim bumiputera dan minoritas Tionghoa di era kapitalisme negara Orde Baru,’’ kata Herdi Sahrasad yang dikenal dekat dengan kalangan kiai Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah itu. []ian