Gaza, HMINEWS.COM – Birruh, biddam, navdikiya gaza“. Dalam bahasa Indonesia kira-kira berarti “Dengan jiwa, dengan darah kami, kami akan berjuang untuk Gaza!”. Itulah slogan yang selama sebulan penuh kami pekikkan. Sejak 2 Desember 2010, konvoi bergerak dari India, Iran, Turki, Syiria, Libanon, Syria dan Mesir akhirnya menembus Gaza pada 2 January.

Malam pukul 11, yel-yel itu kembali menggema, tepat di gerbang masuk kota Gaza, setelah sehari sebelumnya – sejak pukul 5 pagi – kami melewati saat-saat menegangkan mulai dari kota Latakia (Syria), Damaskus, dan Mesir. Menggunakan tiga buah bus yang disediakan oleh Gubernur Latakia, kami mulai bergerak dari kota Latakia menuju Damaskus untuk akhirnya terbang menuju Al-Arish (Mesir) dan akan bergerak menuju Gaza menggunakan kapal.

Sempat waktu itu, sebelum kami sampai di Damaskus – sekitar pukul 9 pagi – kami mendapat informasi bahwa kapal kami, SALAM, yang yang membawa logistik bantuan untuk masyarakat Gaza dibuntuti oleh kapal perang Israel dari jarak sekitar 2 mil (baca HMINEWS, 2/1/2011, “Kapal Bantuan Bergerak ke Gaza“). Melalui sambungan radio kepada awak kapal, Israel juga sempat menanyakan siapa-siapa yang ada di dalam rombongan.

Alhamdulillah, sore harinya – sekitar pukul 15 – kami dapat kabar bahwa kapal tersebut berhasil merapat di pelabuhan Al-Arish (Mesir) dengan selamat.

Rombongan inti (termasuk saya sendiri) sampai di bandara Damaskus sekitar jam 12.30. Dari Damaskus, kami terbang sekitar 2 jam menuju ke Al-Arish (Mesir). Sekitar jam 4 sore waktu setempat, kami mendara di bandara Al-Arish untuk selanjutnya direncanakan kami bergabung dengan kapal SALAM menuju Gaza.

Kapal SALAM membawa misi menembus Gaza

Di bandara Al-Arish, kami sempat tertahan oleh petugas keamanan Mesir yang tidak mengizinkan kami masuk. Kami tertahan sampai malam. Mereka tidak mengizinkan kami lansung menuju Gaza, mereka menginginkan agar kami bergerak ke Gaza esok harinya saja, tanggal 3 januari.

Parahnya, pihak mesir tidak sedikitpun simpati kepada kami. Mereka tidak bersedia menyediakan fasilitas apapun untuk kami. Jangankan tempat menginap, sekedar makan malam pun mereka tidak bersedia. Tak ada makanan! Padahal semenjak dari Damaskus pagi tadi, perut kami sudah keroncongan karena belum sempat makan sedikitpun.

Menghadapi situasi tersebut, kami tidak bisa berbuat banyak. Kami hanya bisa berdoa kepada Allah, kami munajat, kami membaca Qur’an. Suasana bandara menjadi riuh oleh suara masing-masing dari kami yang berzikir dan membaca Qur’an.

Dan kemudian… keajaibanpun datang! Kami memutuskan untuk bernegosiasi. Ya,… kami bernegosiasi ulang dengan pihak keamanan Mesir agar diperkenankan menembus Gaza malam itu. Dan… puji syukur pada Allah, akhirnya pemerintah Mesir mengizinkan kami memasuki Gaza malam itu juga. Saat itu juga, pukul 10 malam, kami bergerak menuju Gaza menaiki kapal kebanggaan kami, SALAM.

Sekitar pukul 11 malam, akhirnya kami berhasil menembus Gaza perbatasan. Kami semua memekikkan slogan yang selalu kami gemuruhkan selama dalam perjalanan: “Dengan jiwa kami, dengan darah kami, kami akan merebut Gaza!”.

Yes!!! Kami berhasil menembus Gaza. “Mission accomplished”! Allahu Akbar!!!

Setelah melakukan seremoni sambutan dan konferensi pers, sekitar jam 1 kami lalu bergerak menuju pusat kota Gaza. Pukul 2 dini hari, kami tiba di pusat kota Gaza, kota para mujahid berjuang melawan penindasan Israel. [] Nasrul

Laporan Langsung dari Gaza oleh

Nasrul Sani M Toaha (eksistensialisme@gmail.com), relawan HMI pada the Asia to Gaza Solidarity Caravan

.