HMINEWS-  Menutup aurat adalah sebuah kewajiban bagi wanita muslimah. Ketika ayat tentang ini turun kaum wanita Bani Anshor segera melepas tirai dan kain-kain panjang yang ada di rumahnya untuk menutupi auratnya, menyembunyikan rambutnya, serta seluruh tubuhnya kecuali bagian muka dan telapak tangan.

Saat ini menggunakan jilbab dan kerudung sudah berubah menjadi semacam tren. Segala bentuk dan jenis penutup kepala (kerudung) dikembangkan menjadi lebih menarik dan lebih mudah dipakai, walaupun tidak sedikit yang menentang pemakaian jilbab yang sekenanya alias yang kurang panjang serta tidak menutupi hingga bagian bawah dada..

Tapi saya tidak akan membahas soal panjang pendeknya kerudung, atau sedikitnya lapangan kerja yang diperuntukkan bagi muslimah, ataupun kesenjangan antar wanita tentang pemakaian jilbab. Saya hanya sekedar ingin memberitahu kaum adam tentang apa yang terjadi dibalik jilbab? Mengapa ada wanita yang tiba–tiba melepas jilbabnya?

Ibarat memakan buah simalakama, jilbab adalah syariat Islam yang diwajibkan kepada kaum muslimah, yang dimaksudkan untuk melindungi kaum wanita dari kejahatan kaum adam dengan menyembunyikan “perhiasannya”. Namun jilbab juga dapat membuat rambut wanita mudah rontok karena lembab dan panas yang menyebabkan keringat dikulit kepala tidak bisa menguap keluar, dan yang paling parah mengalami sakit kepala akibat ikatan dan beban yang mengikat di kepalanya.

Tidak sampai disitu, untuk daerah tropis, menggunakan jilbab menyebabkan panas yang tidak karuan, keringat yang mengucur deras dan tidak bisa kering karena pengapnya baju yang dipakai. Bahkan seringkali ditemui bahwa para wanita yang tidak mau memakai deodoran (karena alasan alkohol, juga tidak mau memakai tawas karena ribet) biasanya tercium bau menyengat ketika berada di dekatnya.

Belum lagi deker yang dipakai kaum muslimah untuk menghindari tersingkapnya lengan dari baju yang dipakainya. Deker ini mencengkram erat bagian lengan dan panasnya bukan main. Seringkali sehabis melepas dekker ini tangan serasa lega dan butiran keringat mencuat dari pori–porinya.

Tidak sampai di situ ada halaqoh dan beberapa golongan  yang menganggap wanita yang memakai celana panjang (jeans dan sebagainya) itu belum paham tentang pemakaian jilbab yang sesungguhnya, karena mereka dianggap masih tidak dapat membedakan mana pakaian wanita dan mana pakaian yang menyerupai laki–laki.

Sesungguhnya menggunakan rok sangatlah repot. Pertama, si wanita harus menyediakan dobelan panjang untuk dipakai di balik roknya atau minimal kaos kaki yang setinggi lutut. Kedua, si wanita jadi terbatas geraknya, menjadi lebih susah untuk melompat (jika ada kubangan air, lobang, dsb), memanjat (mendaki tempat yang agak tinggi), juga naik motor jika roknya tidak benar-benar lebar. Dan bagi pengguna rok lebar pun mereka harus berhati-hati memegang roknya ketika mereka diboncengi karena bisa saja roknya masuk ke dalam jeruji sepeda motornya.

Dan mengenai kaos kaki, banyak kaum muslimah yang bertahan untuk tidak melepas kaos kakinya ketika hujan. Ketika ia sampai di tempat yang di tuju, ia bertahan dalam keadaan kaos kaki basah, rok basah serta dobelan lengan baju dan dekker yang basah karena ia berpikir tidak mungkin menyingkapkan pakaiannya pada saat hujan dan membiarkan kaum Adam melihatnya.

Adalah wanita-wanita yang hebat, ketika dia memutuskan untuk memakai jilbab dan konsisten untuk tidak melepasnya. Karena sepanjang hidupnya mungkin ia akan mengalami sakit di kepalanya atau rontok pada rambutnya (bahkan tonic apapun tidak dapat mengurangi kerontokan ini ketika rambutnya tetap ditutup, terlebih ketika basah habis keramas dan harus segera keluar rumah sehingga ia harus menutupi kepalanya).

Banyak keluhan tentang sakit kepala akibat pemakaian jilbab hingga pemakainya melepas jilbab tersebut. Namun banyak juga cemooh dari kaum Adam yang jelas-jelas tidak merasakannya bahwa jilbab is pain

Jika ada seorang pria yang ingin benar-benar mencoba menggunakan jilbab – tentunya dengan rok yang lebar, kerudung yang panjang, lengkap dengan dekker dan kaos kaki, serta tidak melepaskannya ketika hujan – maka ia akan tahu bagaimana perjuangan kaum muslimah dalam memperjuangkan jilbab.

Ning Darajat, aktivis perempuan