New York Pamerkan 1001 Temuan Ilmuwan Muslim

Marium Sattar

New York – Marissa Campis, bocah delapan tahun, tengah menikmati sebuah permainan di pameran “1,001 Inventions: Discover the Muslim Heritage in Our World” (1001 Penemuan: Temukan Warisan Muslim di Dunia Kita) yang baru saja digelar di New York Hall of Science di Queens, New York. Tampak pada layar sentuh di hadapannya sebuah ruangan keluarga. Di situ pengunjung diminta memilih benda-benda apa saja yang diciptakan pada masa seribu tahun keemasan Islam, dari abad ke-7 hingga abad ke-17.

“Apa yang mereka ciptakan menarik sekali – kamera kuno misalnya,” kata Marissa tentang penemuan favoritnya, yaitu sebuah kamera bilik gelap (kamera obscura), sebuah penemuan yang membuka jalan bagi munculnya fotografi zaman modern. Tanpa menyadarinya, sesungguhnya Marissa tengah belajar tentang budaya Muslim di Asia, Afrika dan Eropa Selatan.

New York Hall of Science adalah persinggahan pertama pameran ini di Amerika, setelah sebelumnya pameran yang sama menggebrak London dan Istanbul dengan menembus rekor 800.000 pengunjung.

Pameran ini tidak saja menerangkan kepada pengunjung mengenai terjadinya penemuan ilmiah, namun juga bertindak dalam melawan stereotip negatif tentang Muslim, yang dianggap sebagai hal lumrah akibat ulah beberapa orang yang mengaitkan aksi kebencian mereka dengan Islam. Ini tercermin dari penelitian Pew Research Center pada tahun 2009 yang menyatakan bahwa 38 persen orang Amerika menilai Islam lebih mendorong kekerasan dibanding agama-agama lain.

Pameran tersebut meruntuhkan stereotipe bahwa Muslim identik dengan kekerasan. Dengan memaparkan kepada pengunjung tentang kekayaan warisan budaya Muslim, pameran ini berupaya menghilangkan pandangan negatif yang terbentuk dalam Orientalisme, yakni perspektif Barat tentang Timur yang kerap dikritik lantaran merepresentasikan secara keliru budaya Timur sebagai budaya yang kurang inovatif dan secara umum berseberangan dengan budaya Barat. Pandangan ini telah tersebar selama berabad-abad di Barat. Capaian-capaian ilmiah dari masa keemasan Islam pun mengejutkan semua pengunjung, terlepas dari apa agama mereka. Bagi banyak Muslim Amerika pun, pameran ini adalah kali pertama mereka belajar mengenai penemuan-penemuan itu, karena masa keemasan Islam adalah periode sejarah yang tidak diajarkan di kebanyakan sekolah di Barat.

Meskipun era yang ditampilkan dalam pameran tersebut dipandang sebagai zaman keemasan Islam, era yang sama merupakan zaman kegelapan Eropa. Perbedaan ini disinggung dalam film pendek 1001 Inventions and The Library of Secrets (1001 Penemuan dan Perpustakaan Rahasia) yang ditayangkan pada awal pameran. Film ini dibintangi oleh aktor pemenang Academy Award, Ben Kingsley, yang memerankan ilmuwan Turki abad ke-12, Al-Jazari. Film tersebut bercerita seputar remaja abad ke-21 yang dipandu oleh Al-Jazari dalam sebuah petualangan untuk menemui para ilmuwan dan insinyur pada zaman keemasan Islam. Film ini memenangi penghargaan Film Pendidikan Terbaik di Festival Film Cannes 2010.

Begitu pengunjung menyusuri ruang pameran yang dihiasi warna ungu dan emas, mereka akan diarahkan menuju ekshibisi utama, yakni sebuah replika jam tenaga air setinggi 20 kaki—atau sekitar 6 meter—yang diciptakan oleh Al-Jazari. Di seberang jam ini ada sebuah model mesin terbang yang didesain oleh ilmuwan abad ke-9, Abbas ibn Firnas, yang dianggap sebagian orang sebagai ilmuwan pertama yang melakukan upaya ilmiah untuk menerbangkan manusia. Peragaan populer lainnya adalah sebuah lukisan kapal Zheng He (Cheng Ho), laksamana Muslim dari China abad ke-15, yang memiliki kapal dengan perkiraan besar seluas lapangan sepak bola.

Pameran tersebut juga menonjolkan para ilmuwan dan penemu non-Muslim, seperti Maimonides – tabib Yahudi abad ke-12 dari Kordoba, Spanyol – yang bekerjasama dengan para filsuf Muslim. Kehadirannya dalam pameran ini menandakan keberhasilan kemitraan lintas budaya yang dijalin para ilmuwan, yang menyumbangkan berbagai penemuan ilmiah terbesar dalam sejarah.

Sejarah kemitraan ini juga mencerminkan fakta bahwa para penemu dari masa keemasan Islam memang mengembangkan capaian pengetahuan dari para pendahulu mereka di zaman kejayaan Romawi dan Yunani, dan karya para ilmuwan Muslim pun nantinya dikembangkan oleh para penemu Eropa di zaman Renaissance.

Kesalingterkaitan ini memperlihatkan kekayaan warisan capaian pengetahuan yang sama-sama diupayakan manusia.

Pameran “1,001 Inventions”, diprakarsai Foundation for Science, Technology and Civilisation, sebuah organisasi akademik nirlaba non-agama di Inggris, akan digelar di New York hingga April nanti. Pameran berikutnya akan digelar di California Science Center, Los Angeles, sebelum nantinya pindah ke National Geographic Museum, Washington DC pada 2012. Dengan ini, para pengunjung pameran dapat menyadari bahwa berbagai perbedaan antara Timur dan Barat saat ini dapat kita kesampingkan, karena sejarah menunjukkan bahwa penemuan-penemuan ilmiah terbesar yang masih digunakan sekarang sebetulnya adalah hasil dari kerjasama para ilmuwan dari seluruh dunia.

###

* Marium Sattar tumbuh besar di London dan kini tengah menempuh studi masternya di School of Journalism, Columbia University. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).