Syahrul Efendi Dasopang

Pada awalnya saya tidak ingin mengungkapkan kasus ini secara terbuka. Tetapi setelah merenungkan dan menyerap masukan-masukan yang diberikan oleh orang-orang yang simpati kepada saya—di antaranya disampaikan: guna keamanan diri, lebih baik diungkapkan—maka saya pun mengungkapkan kasus yang menimpa saya tersebut, meskipun sudah terjadi 6 hari yang lalu. Di samping itu, saya mengungkapkan informasi ini agar tidak terjadi simpang-siur dan clear.

Lebih jelasnya dapat dibaca sebagai berikut:

Waktu Keterangan Peristiwa
Rabu, 12 Januari 2011, kira-kira pukul 15.00 WIB Sekitar pukul 15.00 WIB, dari Ciputat, saya naik sepeda motor menuju kawasan Senen dengan membawa 4 buah buku di dalam tas dengan maksud:

1)  Untuk memenuhi pesanan seorang pembeli yang menghubungi saya lewat telepon yang disepakati bertemu di sekitar Kwitang-Senen pada sekitar pukul 17.00 WIB.

2)  Sebelum jam 17.00 WIB, sekitar pukul 16.00 WIB, saya sudah tiba di kawasan Senen. Mengingat waktu belum sampai pukul 17.00 WIB, saya pun menuju distributor buku yang berada di kawasan Gunung Sahari 3 dengan maksud hendak mengurus suplai buku ke distributor tersebut.

Rabu, 12 Januari 2011, kira-kira pukul 16.20 WIB Dengan mengendarai sepeda motor, saya pun melaju ke arah Gunung Sahari 3 melalui jalan Gunung Sahari 1 membelok melewati jalan Bungur Besar. Tetapi sebelum tiba di tujuan, di tengah jalan, rupanya sedang digelar razia. Saya lalu membelok ke kiri ke tepi jalan dengan maksud berhenti, tetapi rupanya di pinggir jalan ada beberapa polisi dengan tidak memakai pakaian dinas. Sedangkan jarak saya dengan razia yang digelar itu sekitar 50 meter. Lalu oleh polisi yang tidak berpakaian dinas tersebut saya disuruh berhenti, kemudian kunci motor saya dicabut dan diambil. Otomatis motor berhenti.

Sembari menanya kartu identitas saya, tas saya turut digeledah. Ditemukan 4 buah buku dengan judul SBY Antek Yahudi-AS? Suatu Kondisional Menuju Revolusi karya Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si. Akhirnya perkara beralih kepada masalah buku yang saya bawa di dalam tas. Jujur saya tidak habis pikir mengapa buku sebagai buah pemikiran tersebut dipandang bermasalah oleh polisi tersebut. Saya pun kemudian dibawa ke markas Kepolisian Sektor Kemayoran untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Rabu, 12 Januari 2011, kira-kira pukul 16.35 WIB Sekitar pukul 16.35 WIB, saya tiba di markas Polsek Kemayoran Jakarta Pusat dengan cara dibonceng oleh seorang polisi yang tidak memakai pakaian dinas dengan mengendarai sepeda motor saya dan dikawal seorang polisi dengan menggunakan motor yang lain. Di tempat itu saya dibawa masuk ke ruangan kantor bagian intelkam—kalau saya tidak keliru. Rupanya petugas yang harus menangani kasus saya belum ada di tempat. Jadi saya menunggu terlebih dahulu. Kemudian beberapa saat kemudian muncul petugas bernama Ricki yang bertindak membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Lalu saya pun menjalani BAP. Diselingi shalat Ashar dan Maghrib, BAP terus dilakukan kepada saya. Dalam BAP itu saya ditanya untuk siapa buku yang dibawa itu, darimana diperoleh, dan apa sebetulnya isi buku itu. Itulah sekitar pertanyaan dalam BAP yang saya ingat, selain tentunya pertanyaan tentang siapa saya, nama ayah saya, dan tempat tanggal lahir saya.

Adapun jawaban saya tentang isi buku itu, saya katakan bahwa buku itu tidaklah istimewa. Buku itu mengulas tentang pasang-surut kepemimpinan politik di Indonesia, dimana dalam pasang-surut itu, bermain pengaruh asing, khususnya Amerika Serikat dan Yahudi. Dalam buku-buku lain pun, pembahasan semacam itu juga ada.

Rabu, 12 Januari 2011, kira-kira pukul 20.00 WIB Pada sekitar pukul 20.00 WIB, BAP selesai dan saya diijinkan pulang. Menurut keterangan Ricki, petugas yang melakukan BAP, buku sejumlah 4 buah yang ditemukan di tas saya, guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut, ditahan dulu. Sedangkan saya sendiri disampaikan untuk selalu bersiap kalau nanti dipanggil oleh Polres Jakarta Pusat. Mengapa Polres Jakarta Pusat? Sebab kasus akan dilimpahkan dari Polsek Kemayoran ke Polres Jakarta Pusat.

HARAPAN DAN CATATAN SAYA ATAS KASUS YANG MENIMPA SAYA

Setelah merenungkan masalah ini beberapa hari, saya berharap,  kasus ini selesai saja, tidak lagi dipanggil oleh Polres Jakarta Pusat. Sebab bagaimana pun, beberapa jam saja diBAP di kantor Polisi, sudah membebani pikiran saya hingga hari ini.

Tiadalah maksud saya membeberkan perkara yang menimpa saya ini ke publik selain supaya beban pikiran saya sedikit lebih ringan dan musibah semacam ini tidak terulang kepada siapa pun di masa mendatang. Sebab saya masih percaya, membawa buku dengan judul SBY Antek Yahudi-AS? yang masih dengan tanda tanya itu, tidak perlu seharusnya berurusan dengan kepolisian. Apalagi di zaman demokrasi sekarang ini dimana kebebasan mengungkapkan pikiran dilindungi dan dihargai.

Terakhir kepada saudara Ricki yang bertugas menjalankan BAP kepada saya, melalui kesempatan ini saya haturkan rasa hormat dan apresiasi saya karena telah memperlakukan saya dengan baik dan sopan saat saya menjalani BAP.

Demikianlah catatan kronologi dan harapan atas peristiwa yang menimpa saya hingga berurusan dengan kepolisian pada tanggal 12 Januari 2011 yang lalu.

Wassalam

Syahrul Efendi Dasopang

Mantan Ketua Umum PB HMI 2007/2009