Jumat, Hari Kemarahan Rakyat Mesir Menuntut Mundur Presiden Mubarak!

HMINEWS- Menyusul pergolakan di Tunisia, gelombang protes anti-pemerintah yang lalim merambah ke negara-negara lain, khususnya di Arab. Mesir termasuk negara yang terkena imbas pergolakan di Tunisia. Media-media massa Arab memberitakan masyarakat Mesir terjun ke jalan-jalan utama di seluruh penjuru negara ini. Para pengamat politik menyebut aksi demonstrasi massal di Mesir sebagai “Hari Kemarahan.” Demonstrasi di Mesir kali ini dapat dikatakan sebagai pergolakan yang belum pernah terjadi di negara ini. Para analis politik bahkan memastikan kebangkitan masyarakat Mesir akan berakhir pada perubahan pemerintah di negara ini.

Para demonstran dalam aksi protes mereka juga nekad merobek dan membakar gambar Presiden Mesir, Hosni Mubarak. Kondisi ini tentunya mengkhawatirkan posisi Mubarak dan kroni-kroninya. INN belum lama ini mengutip keterangan International Business Times (26/1) melaporkan, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Susan Mubarak, istri Presiden Mesir, telah meninggalkan negaranya menuju London. Koran Times terbitan New Delhi juga menurunkan laporan bahwa Gamal Mubarak, telah meninggalkan Kairo menuju London. Padahal Gamal Mubarak digadang-gadang untuk menjadi pengganti ayahnya sebagai presiden mendatang Mesir. Akan tetapi pergolakan di negara ini membuat keluarga Mubarak pesimis akan kondisi terakhir.

Pasukan keamanan di Mesir dalam menghadapi para demonstran menggunakan kekerasan. Menurut laporan yang ada, korban luka dan tewas terus bertambah menyusul tindakan keras aparat keamanan. Meski demikian, massa terus terjun ke jalan-jalan utama di penjuru negara ini menuntut perubahan sistem pemerintah di Mesir.

Ibrahim Munir, salah satu pemimpin Ikhwanul Muslimin yang selalu menjadi penentang pemerintah Hosni Mubarak, menyatakan bahwa Mubarak akan senasib dengan Mantan Presiden Tunisia, Ben Ali. Dikatakannya, ” Senasib dengan Ben Ali, Mubarak ketika terguling, akan mendengar suara rakyat yang menyuarakan sikap anti-rezim.” Munir dalam wawancaranya dengan Koran Al-Hiwar mengomentari kondisi saat ini di Mesir dan mengatakan, “Kondisi anti-rezim tidak akan mereda, bahkan terus akan memanas.”

Partai Al-Wafd yang juga termasuk oposisi pemerintah menghendaki pembubaran parlemen dan penyusunan kembali undang-undang dasar Mesir. Mohammad Badi dalam konferensi pers menyatakan, “Partai ini menghendaki pembubaran parlemen, sebab legalitasnya dipertanyakan.” Ditegaskannya, kekuatan di Mesir harus berputar dan prinsip kerakyatan dan demokrasi harus menjadi perhatian pemerintah, serta undang-undang baru hak-hak berpolitik perlu dikeluarkan.”

Lebih lanjut, ketua Partai Al-Wafd menuturkan, “Kami senantiasa memprotes bahaya monopoli kekuasaan di tangan satu partai selama 30 tahun. Sementara seluruh partai politik nasional dipinggirkan dan partai penguasa telah menutup seluruh kanal legal bagi kebebasan berekspresi dan memonopoli kekuatan.”[]irib/ian