Bahtiar Ali Rambangeng (Pemerhati Demokrasi)

“Dan di antara Manusia ada pembicaraannya tentang kehidupan Dunia mengagumkan engkau(Muhammad) dan dia bersaksi kepada Allah SWT mengenai isi hatinya, Padahal dia adalah penantang yang paling keras”(QS; Al-Baqarah ayat 204)

Mereka hidup dengan darahnya

Mereka beratapkan derita

Mereka menggantungkan diri

Mereka adalah korban dari zaman dan perilaku kaum berkuasa

“Banyak diantara kita, anda, mereka

Mengorbankan hidup yang lain

Untuk menghasilkan kehidupan buatnya”

(Bahtiar)

Anarkis tidak lagi hanya dirmaknai sebagai sikap atau perilaku yang dilakukan dengan cara memukul seseorang dengan tangan dan bentuk kekerasan fisik lainnya. Anarkis bisa di dalam bentuk media, anarkis bisa dalam bentuk simbol, anarkis bisa dalam bentuk kebijakan dan politik penganggaran APBD. Sementara kaum intelektual adalah mereka yang memiliki wawasan keilmuan yang menempatkannya memiliki status sosial, status sebagai kaum cerdas, kaum bangsawan diantara mereka yang kurang mendapat akses pengetahuan yang memadai. Intelektual adalah mereka yang menyandang gelar akademik baik, Profesor, Doktor dan peneliti lainnya.

Anarkisnya kaum intelektual penulis maknai sebagai tindakan yang dilakukannya dalam bentuk kekerasan dengan modus intelektual atau kekerasan dengan menghasilkan produk keilmuan yang bisa menyengsarakan orang lain. Anarkisnya Intelektual bisa bermakna perilaku kaum yang berilmu untuk menyakiti orang lain dengan cara-cara halus dan terstrutur. Intelektual yang anarkis penulis maknai dengan istilah Al Qur’an dengan Nama Bal’an, Bal’an di dalam Alqur’an bisa dimaknai sebagai seseorang intelektual yang melindungi penguasa dengan ilmunya. Lantas bagimana anarkisnya kaum intelektual tersebut?

Anarkisnya kaum intelektual Pertama anarkis dengan menghasilkan Produk tontonan kekerasan, Produk tontonan mematikan kreativitas, produk tontonan karton yang membuat anak menjadi bengis dan berprilaku masa bodoh. Kita bisa melihat saat ini banyak produk-produk siaran media yang sebenarnya adalah sampah untuk otak, sampah untuk kecerdasan, produk-produk tersebut bisa dilihat dimana-mana, Misalnya siaran berita kekerasan antara geng siswa, kekerasan rumah tangga, pembunuhan berdarah, perang antara suku, pencurian, seksualitas, gulat. Ada beberapa tipologi penonton berita, Pertama Pononton aktif adalah seorang yang menonton berita tidak sekedar mengikuti berita tetapi sekaligus terlibat mengoreksinya, Kedua hanya sekedar penikmat saja model pononton yang kedua ini, dia menonton hanya untuk menhibur mata dan menikmati apa saja yang disiarkan berita, Ketiga Penonton yang menonton sekaligus mempelajari apa yang dia tonton untuk dilaksanakannya, penonton berita yang ketiga ini banyak dilakukan oleh pelajar dan pelaku kejahatan untuk mempelajari strategi melanjutkan kejahatannya atau meningkatkan kualitas dan kemampuannya sebaga seorang penjahat, Keempat penonton yang jadi objek tentonannya biasanya penonton jenis ini dilakukan oleh anak-anak. Kelima penonton yang menjadi subjek tontonan, penonton yang seperti ini lebih umum dan kebanyakan dilakukan oleh masyarakat secara luas.

Pada prinsipnya semua siaran berita, iklan dan lebih banyak menimbulkan mudarat dari pada mamfaat. Dan penonton yang menonton siaran media masih lebih banyak yang menjadi objek sasaran, objek penderita, pasif dan komsumtif. Sementara media sebagai sarana untuk mendpatkan informasi hanya menyiarkan kekerasan struktural, kekerasan seksualitas dan siaran juga berfungsi membunuh kreatifitas sang penonton. Pada proses penyiaran dan interaksi media dengan pononton menghasilkan hubungan subjek-objek, penonton hanya sebagai penerima atau objek penderita berita sebagai sebuah fakta dan ulasan media, kemudian fakta tersebut terseva kedalam bawah sadarnya,dan menjadikan masyarakat terkonstruksi secara otomatis kesadarannya untuk mengikuti keinginan media.

Akhir-akhir ini banyaknya perilaku seksual bebas oleh anak remaja dan usia dini, pembunuhan berantai, perampokan sersistematis, pembunuhan antara tetangga, istri pembunuh suami dan suami pembunuh istrinya, semuanya lebih banyak diinisisi dan diberi contoh oleh siaran media. Masyarakat kita masih sebatas sebagai penikmat dan penyontek media sekaligus masyarakat peniruan-peniruan dari hasil tentonan. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas siaran media? Tentu saja jawabannya adalah pemilik Media dan yang lebih bertanggung jawab lagi adalah para konseptor yang merumuskan siaran sampai menjadi berita dan nota-benenya mereka bercokol di belakang siaran media. Mereka inilah yang penulis maksudkan sebagai intektual anarkis yang menjalankan fungsi-fungsi keintelektualannya dengan jalan menciptakan berita kekerasan.

Kedua Produk Hukum Kaum Intelektual, banyak sekali kebijakan-kebijakan publik yang dihasilkan jauh dari kebutuhan dasar masyarakat, jauh dari aspirasi masyarakat, sebab proses pembuatannya sudah salah dengan tidak melibatkan masyarakat, padahal semuanya diproduk untuk kebutuhan memenuhi kebutuh dasar masyarakat, kemudian banyak kebijakan yang dihasilkan oleh pemerintah hanya untuk memproduk sebuah kebijkan yang pro terhadap kekuasaannya. sementara isisi lain produk hukum tersebut  bertentangan dengan kebutuhan dasar masyarakat.Coba bayangkan I PERDA yang tidak mengayomi kebutuhan dasar masyarakat apalagi kalau bertentangan dengan kebutuhan masyarakat akan mengakibatkan kerusakan dan penderitaan bagi masyarakat. Misalnya Perda yang akan mengatur pembayaran Rumah kos-kosan di Makassar. Perda ini akan mengatur biaya yang harus ditanggung oleh pemilik kos pertahun kepada pemerintah Kota Makassar sebagai upaya meningkapkan PAD daerah, tentu saja perda ini akan berimbas bagi kenaikan tarif kos-kosan Mahasiswa basa jadi kos-kosan yang harga kontraknya hanya 2 juta menjadi 3 juta. Kebijakan ini akan menjadikan penderitaan bagi Mahasiswa dan orang tua Mahasiswa, apalagi kalau Mahasiswanya sudah miskin dan asalnya dari Daerah miskin, bisa-bisa Mahasiswanya berhenti kuliah. Tau tidak dari mana asalnya produk PERDA tersebut jelas dari pemerintah, namun otak kebijakan itu dimotori kaum intelektual.

Ketiga penyusunan anggaran, penyusunan anggaran masih jauh dari harapan, hasil pamantauan KOPEL (2010) masih banyak anggaran pemborosan. Penyusunan anggaran di setiap daerah di SULSEL lebih banyak dilakukan untuk membiayayai hal-hal yang tidak penting dan biaya rekreasi pejabat, seperti banyaknya anggaran yang digunakan pada biayaya operasional atau perjalanan dinas keluar daerah dan biaya studi banding pejabat, padahal pejabatnya hanya mencari tempat hiburan saja sehingga lebih banyak memilih ke bali dari pada tempat lainnya. Setelah jalan-jalan apa hasilnya kecuali nol besar(bukan berarti tidak ada yang berhasil, cuman masih jauh lebih banyak yang hanya sekedar untuk menghabiskan anggaran). Anggaran yang tidak pro terhadap rakyat akan mengakibatkan rakyat sengsara dan kehilangan dasar hidupnya, apalagi kita masih termasuk daerah miskin. Anda tau siapa yang membuat anggaran? Tidak lain adalah para intelektual.(aku berlindung kepada Allah SWT atas perilaku seperti itu).

Intelektula anarkis harus bergeser menjadi intelektual ideologis berwawasan. Perbedaan mendasar antara intelektual anarkis dengan intelektual ideologis karena intelektual ideologis menempatkan diri sebagai ilmuan yang memiliki tanggungjawam sosial atas ilmu yang dimilikinya. Bukan hanya itu intelektual ideologis berwawasan melandaskan semua produk pengetahuannya pada dasar ontologis spekulatif eksperimentasi objektif, sehingga produk-produk penegetahuannya tidak menghasilkan kisruh dan masalah kerakyata dan melukai keadilan.

Bahtiar Ali Rambangeng

(Pemerhati Demokrasi)