Susilo Bambang Yudhoyono

HMINEWS- Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono menggenjot pembangunan proyek infrastruktur sepanjang tahun ini. Dana yang dianggarkan mencapai Rp126 triliun. Jumlah yang tidak sedikit, sebab sepanjang tahun ini pemerintah menganggarkan belanja negara sebesar Rp1.229 triliun. Tak pelak, untuk pertama kalinya Kementerian Pekerjaan Umum mendapat pagu anggaran paling besar, mengalahkan Kementerian Pendidikan yang selama ini mendapat jatah anggaran terbesar.

Nilai pagu anggaran Kementerian Pekerjaan Umum mencapai Rp57,9 triliun. Jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp37,9 triliun. Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan, hampir 50 persen dari alokasi anggaran ini terkonsentrasi pada infrastruktur.

Infrastruktur menjadi pusat perhatian karena pemerintah berniat menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen per tahun. Tahun ini ditargetkan ekonomi tumbuh 6,4 persen dan naik terus hingga tahun-tahun berikutnya. Bahkan, pemerintah Yudhoyono menargetkan produk domestik bruto mencapai US$1 triliun dalam beberapa tahun ke depan.

“Infrastruktur menjadi poin terpenting. Pemerintah harus mempercepat pembangunan infrastruktur untuk mencapai target tersebut,” kata ekonom Raden Pardede

Selama ini, menurut dia, pembangunannya sangat terlambat. “Tanpa itu, keinginan ini tak akan terwujud.

Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan juga mengatakan, pemerintah terlihat sangat serius memperhatikan pembangunan infrastruktur. Itu jelas terlihat dari APBN 2011 yang mengalokasikan dana infrastruktur sangat besar. “Pemerintah juga memberi peluang bermitra dengan swasta, asing, dan lokal,” katanya, Selasa 4 Januari 2010.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Sofjan Wanandi, menilai selama ini pemerintah hanya memberikan janji-janji saja berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, namun tidak ada yang ditepati. “Mana hasilnya sampai saat ini infrastruktur ya segitu-segitu saja.”

Menurut dia, buruknya penataan infrastruktur membuat investasi tidak tumbuh maksimal. Kondisi pelabuhan yang sangat padat, jalan yang macet, membuat pengusaha berfikir ulang menanamkan investasinya, terutama pada sektor manufaktur. Padahal sektor ini yang sangat menyokong perekonomian dan banyak menyerap tenaga kerja.

Karena buruknya infrastruktur ini, industri yang tumbuh hanyalah sektor yang memiliki keuntungan besar, seperti sektor pertambangan dan perkebunan. “Mereka bisa bikin jalan dan pelabuhan sendiri karena marginnya besar,” katanya. Namun, jika mengandalkan pada sektor-sektor ini, pertumbuhan ekomi tidak akan sehat. “Sumber daya alam ini bisa habis,” ujarnya.

Proyek-proyek Unggulan

Dalam program ini, Yudhoyono akan menggenjot proyek-proyek yang banyak ditunggu publik. Proyek-proyek itu antara lain sebagai berikut”

Pertama, proyek Mass Rapid Transit (MRT). Pembangunan MRT merupakan salah satu proyek transportasi prestisius yang meliputi 13 stasiun perhentian, dengan nilai investasi sekitar Rp11 triliun. Tujuh stasiun berada di permukaan tanah, dan sisanya di bawah tanah (subway).

Jaringan MRT terbagi menjadi dua koridor. Koridor-1 merupakan Jalur Utara-Selatan, terbentang dari Lebak Bulus hingga Kampung Bandan. Sedangkan Koridor-2 merupakan Jalur Timur-Barat, terbentang dari Balaraja hingga Cikarang.

Kedua, jalan tol Trans Jawa. Jalan tol terpanjang di Indonesia ini menghubungkan Anyer hingga Banyuwangi. Jalan ini diperkirakan menelan dana investasi Rp46,77 triliun.

Salah satu ruas tol Tran Jawa yang sudah beroperasi adalah Kanci-Pejagan di Cirebon. Pemerintah akan terus menggenjot mengerjakan 21 ruas sisa yang belum tergarap.

Ketiga, proyek monorel. Proyek yang tertunda-tunda ini semula diperkirakan menelan anggaran Rp5,4 triliun. Namun, tahun ini, pemerintah rencana akan membereskan soal pendanaan, sekaligus memulai tender pembangunan.

Monorel akan dibangun dalam dua jalur yaitu Green Line dan Blue Line. Green Line membentang sepanjang 14,2 kilo meter melintasi Semanggi-Kuningan-Semanggi. Adapun jalur Blue Line sepanjang 12,2 km melintasi Kampung Melayu-Casablanca-Tanah Abang-Roxy.

Keempat, pembangunan bandara. Ini merupakan salah satu agenda prioritas pemerintah SBY. Proyek ini mencakup bandara internasional, domestik, dan bandara perintis.

Bandara internasional misalnya Bandara Lombok, Bandara Ahmad Yani (Semarang) dan Bandara Ngurah Rai (Bali). Sedangkan, bandara domestik antara lain Bandara Samarinda Baru dan Bandara Sorong. Sedangkan angkutan perintis dibangun di Kepulauan Maluku dan Papua.

Bandara Internasional Lombok saat ini dalam tahap penyelesaian. Bandara ini dibangun di lahan seluas 538 hektare dengan landasan 2.750 x 45 meter. Bandara yang dibangun dengan biaya hampir Rp1 triliun ini mampu menampung pesawat-pesawat besar. Total kapasitas penumpang bandara ini mencapai 3 juta orang setiap tahun.

Sebenarnya proyek-proyek itu sudah lama. Sejak zaman pemerintahan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan Megawati proyek-proyek tersebut sudah diagendakan. Namun, pemerintah terkendala pada soal pendanaan dan pembebasan lahan. Misalnya saja proyek monorel yang terkendala soal pendanaan, dan proyek jalan tol terhambat pembebasan lahan.

Pemerintah telah menerbitkan Public Private Partnership (PPP) Book pada Maret 2009. Melalui PPP ini, investor swasta, baik asing maupun lokal, bisa melakukan kerja sama dengan pemerintah membangun infrastruktur.

PPP Book ini berisi rencana proyek infrastruktur pemerintah yang akan ditawarkan kepada pihak swasta. PPP Book dibagi dalam tiga kategori, yakni proyek yang siap ditawarkan, proyek prioritas dan proyek potensial. PPP Book edisi perdana ini berisi 87 proyek senilai US$34,139 miliar yang akan dilaksanakan di 18 provinsi.

Sedangkan persolan pembebasan lahan, pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat kini terus membahas RUU Pembebasan Lahan. Awalnya pemerintah janji kelar akhir 2010, namun sampai saat ini belum selesai juga.(vv/ian)