HMINEWS.COM

 Breaking News

2011, Tahun Kebenaran Mengakhiri Kebohongan

January 18
11:57 2011

2011: Tahun Kebenaran Mengakhiri Kebohongan

Oleh Dr. Rizal Ramli *

Assalamualaikum Wr Wb.Salam Sejahtera.Merdeka!

Selamat datang kepada Tokoh-tokoh Pergerakan Intelektual Kritis, Tokoh LSM dan Serikat Pekerja, Tokoh-tokoh Pemuda dan Mahasiswa, Masyarakat Sipil dan Kawan-2 Media: selamat datang, selamat memperjuangkan kebenaran, dan menjadikan tahun 2011 sebagai tahun untuk menyatakan kebenaran.

Mengapa tahun kebenaran?  Enam tahun telah lewat, tahun-tahun yang penuh dengan pencitraan dan bungkus palsu tetapi tanpa prestasi yang menonjol. Kesejahteraan mayoritas rakyat merosot dan pengangguran semakin banyak. Mayoritas bangsa kita semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan. Pendapatan rakyat tetap dan sangat kecil, tetapi harga-harga makanan, pendidikan, kesehatan dan energi semakin mahal karena disesuaikan dengan harga internasional. Itu adalah cara yang paling cepat untuk meningkatkan proses kemiskinan struktural. Tidak mungkin kesejahteraan mayoritas rakyat meningkat karena pekerjaan nyaris tidak ada, dan kalaupun ada, pendapatan sangat rendah sementara semua harga kebutuhan pokok naik.

Pemerintah hanya sibuk menonjolkan keberhasilan “kepala kerbau” yang memang dinamis dan sangat sehat karena harga komoditas yang sangat tinggi dan aliran uang panas yang sangat besar tetapi “kepala kerbau” itu hanyalah 10% dari rakyat Indonesia yang paling atas, yang terutama bergerak di sektor keuangan dan eksploitasi sumber daya alam. Tetapi “badan kerbau”, bagaikan 80% rakyat Indonesia, sedang sakit-sakitan, kurang gizi, bahkan banyak yang terpaksa bunuh diri. Mayoritas dari rakyat Indonesia menganggur, atau memiliki pendapatan tetap yang sangat kecil, sementara harga-harga kebutuhan pokok naik tinggi.

Lebih parah lagi, proses pencitraan dan “bungkus palsu” tersebut disubsidi oleh Negara. Pemerintah neoliberal ini dengan bersemangat telah menghapuskan berbagai jenis subsidi untuk rakyat, tetapi terus menerus membayar subsidi untuk pencitraan palsu dirinya.

Pemerintah kosmetik ini, yang penuh pencitraan bersubsidi, sibuk mengkampanyekan keberhasilan dan peningkatan GDP perkapita (yang sebagian besar dikuasai pihak asing) dan perbaikan indikator-indikator finansial sang “kepala kerbau”. Tetapi untuk menutupi kegagalan untuk menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mayoritas rakyat, berbagai kebohongan terus menerus dilakukan.
Kegagalan untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan sudah dapat diramalkan sejak awal karena kebijakan ekonomi neoliberal, yang bertentangan dengan ekonomi konstitusi, tidak mungkin mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mayoritas rakyat banyak.

Inilah saatnya untuk berani menyatakan kebenaran, membongkar berbagai kepalsuan dan kebohongan. Kami percaya mayoritas bangsa kita, baik didalam maupun diluar pemerintahan, adalah orang baik-baik. Tetapi selama ini, mayoritas yang baik itu hanya diam dan berbisik-bisik, sehingga para bandit yang sesungguhnya minoritas, semakin berani dan merusak sendi kehidupan bernegara. Pisau-pisau hukum hanya tajam untuk rakyat biasa, tetapi sangat tumpul jika menyangkut kalangan elit yang memiliki kekuasaan dan uang. Jika mayoritas bangsa kita yang baik berani menyatakan kebenaran, seperti yang dicontohkan oleh Tokoh-tokoh Lintas Agama, kami percaya bangsa Indonesia akan dipulihkan dan bangkit menjadi bangsa yang sejahtera dan besar di Asia. Sejarah menunjukan bahwa bangsa Jerman yang sangat terdidik, sangat berbudaya dan sangat religius, tetapi karena mayoritas bangsa jerman hanya diam dan hanya berani berbisik-bisiik, akhirnya Jerman dikuasai oleh Hitler dan Nazi yang membawa Jerman kearah kehancuran.

Inggris memerlukan waktu lebih dari 300 tahun untuk berubah dari negara pertanian primitif menjadi negara industri yang maju. Amerika memerlukan 200 tahun untuk menjadi negara yang besar dan negara adidaya. Tetapi Jepang menunjukan bahwa mereka bisa sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan menjadi raksasa ekonomi dalam waktu sekitar 30 tahun. Malaysia dibawah Mahatir belajar dari pengalaman Jepang ternyata berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dalam waktu 25 tahun. Dan lebih hebat lagi, dalam waktu kurang dari 20 tahun, Cina berhasil mengubah dirinya dari raksasa yang miskin menjadi raksasa yang semakin makmur dan menjadi kekuatan ekonomi, politik dan militer dalam waktu sangat pendek. Jika kita mau belajar dari pengalaman-2 kegagalan dan keberhasilan negara-negara lain, berani menyatakan kebenaran, meninggalkan ekonomi neoliberal kembali ke ekonomi konstitusi, dan memiliki pemimpin yang sama antara kata dan perbuatannya, kami percaya kesejahteraan akan meningkat dan bangsa kita akan menjadi bangsa besar di Asia.

Marilah kita lawan semua kebohongan dan citra palsu, mari kita nyatakan kebenaran. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan ridho kepada Bangsa Indonesia.***

_________________________________

*Tulisan ini merupakan refleksi Dr. Rizal Ramli , mantan menko perekonomian dan inisiator Dialog Meja Bundar  dimana 100 aktivis dan tokoh pergerakan ambil bagian.Dibacakan sebagai pengantar  dalam dialog tersebut.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.