Berkicaulah 'Revolusi' di Jejaring Sosial

Jika tafsir hukum yang seharusnya menaungi semua orang diputar-putar para penafsir yang notabene penegaknya. Jika elite asyik kemasyuk dengan urusannya sehingga lupa pada rakyat yang mengantarkan mereka berkuasa. Maka, waktunya kita, orang-orang biasa, untuk lantang bersuara.

Bukan lewat people power seperti di Filipina atau metode yang menoleransi kekerasan. Itu sudah kuno kawan.

Ketahuilah sobat, di belahan dunia sana, manakala sistem kekuasaan enggan lagi mendengar dan segan berbuat banyak untuk kaum yang lebih banyak, maka saat itulah orang-orang beralih ke cara-cara baru namun madani nan sesuai zaman.

Apa itu sobat? Itu adalah gerakan-gerakan seperti Tea Party di Amerika Serikat atau Pirate Party di Eropa.

Tahukah kawan sekelompok orang dipersatukan Internet di Swedia dan Eslandia untuk merangsang kekuasaan lebih peka kepada semua suara?

Mereka bergerak tanpa hirarki, tanpa ketua umum, tanpa sekretaris jenderal, karena hirarki kerap memperlambat tindakan. Mereka ingin mendorong penguasa untuk lebih mendengar suara kaum kebanyakan.

Itu adalah “partai politik” gaya baru yang sama sekali berbeda dari yang selama ini dikenal, tapi percayalah itu bakal menjadi kecenderungan.

Kita dan negeri ini akan pula mengarungi kecenderungan itu, setidaknya nanti. Mengapa seyakin itu kawan? Karena sekarang berjejaring dan web itu begitu merasuk masyarakat. Awal tahun 2010 saja ada 26 juta pengguna internet dan 150 juta pelanggan telekomunikasi mobile di negeri kita. Bahkan masyarakat kita adalah pengguna jejaring sosial Facebook kedua terbesar di dunia.

Banyak orang yang kini bahkan mengenal internet, tanpa perlu membeli komputer. Dan mereka tercerahkan oleh jejaring dan web. Pikiran dan pola hidup madani bahkan hadir karenanya, sesuatu yang justru semestinya menjadi tugas elite dan partai politik.

Tahu tidak kawan bahwa mayoritas penduduk negeri ini nanti adalah mereka yang lahir setelah 1970an ketika mana teknologi informasi membuat manusia berada di dunia yang tak bertabir dan tak bersekat?  Ketika era itu sampai, maka bodohlah orang-orang yang merasa mampu mengendalikan nformasi, persepsi dan opini.

Pada era itu kita bisa menjadi analis untuk diri kita sendiri sehingga kita tahu apa yang menjadi isi yang membungkus apapun yang berbungkus.

Ketahuilah sobat, telah terjadi revolusi dalam cara kita berkomunikasi. Ada perubahan radikal dalam cara kita bertransformasi sosial dan berpengetahuan.

Anak-anak di dusun-dusun negeri ini bahkan kini bisa mengakses informasi seluas warga metropolis, bahkan akhirnya bisa berpikir sekritis para analis.

Dulu orang Aceh dan Papua harus menunggu sehari untuk mendapatkan koran nasional terkini, tapi sekarang mereka membuka halaman demi halaman koran nasional secepat mereka yang ada di Jakarta di mana kebanyakan koran nasional diterbitkan.  Itu semua berkat teknologi dan internet kawan!

Tiba-tiba menjadi begitu dekat, sangat terbuka dan mudah, semudah kita berbagi pandangan kritis mengenai apa yang seharusnya dibuka dari kasus Gayus Tambunan.

Pikiran kita, pandangan kita, dan tindakan kita pun bisa secepat waktu. Yogyakarta, Wasior, Mentawai, dan kawasan lain beberapa waktu lalu adalah buktinya.

Saudara-saudara kita bergerak lebih cepat dari birokrasi dalam merespons bencana. Ibu rumahtangga menjadi komandan aksi solidaritas sosial seperti dalam kampanye koin untuk Prita.  Itu semua berlaku tanpa ada transaksi
politik yang lebih sering memuakkan itu.

Cangihnya kawan, kita tak perlu memiliki kantor redaksi untuk itu semua, karena kita mempunyai blog, web, Facebook, Twitter, MySpace, YouTube, email, dan turunan-turunan lain dari itu semua yang akan terus berdatangan pada masa dekat ini dan nanti.

Dengan itu semua kita bisa bertemu untuk berbagi pikir mengenai bagaimana negeri ini lebih maju dan masyarakatnya lebih beretika, sekaligus mendorong penguasa berani melawan ketakbenaran yang telanjang di depan
kita.

Jangan takut karena tidak mempunyai mesin cetak, pemancar siaran, dan SIUP, karena kita memiliki ponsel, laptop, iPad, Blackberry, iPhone, dan lainnya. Semua ini adalah terminal informasi kita untuk menunjukkan bahwa
kita mempunyai otoritas untuk menilai apa yang kita inginkan dan menilai mereka yang kita beri mandat untuk memimpin kita.

Tak itu saja kawan, dengan ponsel pintar, kamera digital selebar kartu nama dan chip memori sebesar permen, kita bisa melihat detil dan menyimpan penyimpangan dan ketakbenaran yang terjadi di hadapan kita. Bahkan ibu
rumah tangga bisa menjadi detektif untuk mengendus buron peleceh hukum dengan ponselnya.

Tak perlu memuja Mark Zuckerberg, Jack Dorsey, Bill Gates, Steve Jobs, Research in Motion, atau lainnya, karena kita sudah impas membayar mereka dengan uang yang kita keluarkan dan kesertaaan kita mempopulerkan produk
mereka.

Mari manfaatkan teknologi untuk mendorong pemimpin menyambungkan retorika dengan praktik dan mencambuk mereka untuk mencipta kaidah hukum yang tak bersayap sehingga tak lagi diakali orang-orang korup dan licik.

Kita juga tak boleh membiarkan siapapun berkata ‘negeri ini tunduk kepada penjahat.’

Dulu mereka bilang vox populi vox dei. Mari kita pastikan mereka tahu pasti arti jargon itu dengan memaklumatkan pada mereka, “kita ogah menjadi obyek yang hanya didekati saat pemilu datang, tapi dicampakkan begitu
kursi datang.”

Kita tak boleh lagi terbuai oleh permainan mimik dan kata, serta takluk oleh dominasi tafsir hukum manipulatif yang memperkosa keadilan.

Mari kita pastikan mereka yang dulu meminjam suara kita untuk berkuasa, memberi kita “bunga” dari apa yang mereka pinjam itu. Bunga itu adalah kesejahteraan dan keadilan.(Jafar M.Sidik/antara)