Pemerintahan SBY-Boed KO dengan Harga Cabai

HMINEWS- Pemerintah pusat andalkan surplus produksi cabai di daerah untuk mencukupi kebutuhan dan menurunkan harga cabai yang makin menyulitkan masyarakat.

“Kami tidak bisa berbuat apa-apa atasi lonjakan harga cabai,” ujar Jimmy Bella, Direktur Sembako dan Barang Strategis Kementerian Perdagangan (Kemendag), di Jakarta, Selasa (4/1/2011).

Menurutnya, pemerintah sejauh yang dapat dilakukan hanya mendorong daerah untuk meningkatkan produksi cabai, dan surplus. “Kami hanya mendorong agar pemda yang daerahnya surplus mau melempar produksinya ke Jawa,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata dia, defisit cabai hanya terjadi di Jawa. Sementara daerah lain banyak mengalami surplus cabai, seperti di daerah Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan sebagainya.

Guna meredam liarnya harga cabai, yang mampu dilakukan adalah mengandalkan daerah yang surplus produksi, dan mau berbagi ke Jawa. Atau para juragan cabai mau menarik komoditas tersebut dari daerah surplus.

“Kalau Pemerintah Pusat tidak mungkin, apalagi membuat penyangga seperti beras yang dilakukan Bulog. Cabai kan mudah rusak dan tidak bisa disimpan dalam kurun waktu lama,” katanya.

Sementara itu, saat ditanya mengenai kemungkinan adanya kartel yang bermain sehingga harga cabai akan semakin liar menyentuh Rp 100.000 per kg, Jimmy tidak melihat adanya kartel yang bermain.

Menurutnya, komoditas cabai merupakan komiditas yang cepat rusak. Jadi, ditegaskannya tidak mungkin adanya kartel yang berspekulasi dengan menimbun cabai.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi menyatakan di awal tahun 2011 ini panen cabai terjadi di pusat-pusat produksi cabai nasional. Dengan masuknya masa panen, pemerintah berharap liarnya harga caba bisa ditekan.

“Akhir Januari (2011) mulai sudah panen, beberapa daerah seperti Tasikmalaya dan Sukabumi. Mudah-mudahan pasokan cabai akan membaik. Brebes juga akan panen di akhir Januari dan awal Februari,” ungkapnya, di Jakarta Selasa (4/1/2011).

Dia juga mengutarakan bahwa selama bulan Desember, di beberapa daerah seperti Banyuwangi, Jember, Kediri, Brebes, Ciamis produksi cabai turun sekitar 20 hingga 30 persen.

Selain karena curah hujan yang tinggi, penyebab lainnya adalah hama patek, yang berkembang di tengah udara lembab sehingga membuat bunganya rusak.(tribunnews)