Melihat ke Arah Tuhan

oleh Taufiq Alimi

Seteguk kopi menghangatkan mulut, kemudian kerongkongan dan membuat mataku lebih terjaga. Perlahan aku lipat sajadah tempat aku melakukan sholat subuh yang kesiangan dan memandang keluar lewat jendela. New York awal musim semi masih tampak kelabu. Beton tinggi menyuram berlomba menjangkau langit kelabu yang menabur gerimis. Angin mengantarkan hawa dingin yang mengiris tulang. Beku, muram menggelisahkan.

Dari jendela kamarku di lantai lima belas hotel Roosevelt, terlihat bergerombol-gerombol orang berjalan memasuki lorong gelap menuju Grand Central Station. Kelompok manusia lain bergegas-gegas keluar berjalan menatap jalan. Senyap, sunyi walaupun jalanan hiruk pikuk.

Seteguk kopi, menghangatkan kerongkongan melapangkan dada. Tanganku menggegam erat mug dan merasakan hangat. Mataku beralih ke tilam. Rieko Mishima tergeletak nyenyak, bernafas berirama. Wajahnya terlihat damai, tengadah ke arah mukaku tadi malam berada. Badannya miring meringkuk, tangannya memeluk selimut kusut. Aku bahagia melihatnya. Aku bahagia melihatnya bahagia bersamaku.

Ini adalah pertemuan kami ketiga sejak kami bertemu setahun lalu di Bali, bukan di tempat wisata tetapi di tempat seminar eko-wisata.Rieko, ia adalah seorang gadis Jepang, berprofesi sebagai biolog yang memiliki perhatian besar pada konservasi kura-kura. Sedang aku environmental economist, yang mencari hidup dari seminar dan pelatihan di berbagai negara.

Kami bersama selama dua minggu dan lalu jatuh cinta. Aku bahagia sejak aku pertama mengobrol panjang dengannya di Kafe La Luciola di Kuta. Di bilang, “Rasanya aku pernah menjumpaimu di kehidupan yang lalu” Dengan iseng aku menjawab, “Yah… dalam inkarnasi sebelumnya kita memang suami isteri yang tewas karena dibom Amerika.

Karena itu kita sekarang sama-sama anti perang, anti pengrusakan, dan devoting our life for life of others” Dia tertawa kecil, dan mukanya merah. “We are soulmate!” Dan sejak itu kita benar-benar soulmate. Walaupun belum menikah kami sudah menjadi pasangan jiwa atau sigaraning nyawa, alias garwa.

Pertemuan kedua kami terjadi ketika dia—sepulangnya dari menengok objek wisata kura-kura bertelur di Turtoguero, Kosta Rika—menjemputku di Sao Paulo Brasil, kemudian kami bersama ke Rio de Janeiro, Frankfurt dan kemudian berpisah di Singapura. Cinta kami bangun di Pantai Copa Cobana, bangku pesawat kelas ekonomi Lufthansa, Sentosa Island di Singapura dan sebuah hotel di kawasan jalan Orchard masih di Singapura.

Mata dan tubuh kami menyampaikan rasa kasih sayang, selain ungkapan I love you yang sering terucap. Tubuh kami berdekatan hanya selama sepuluh hari. Walaupun demikian aku mencintainya, dan bahagia. Aku merasa selalu dekat dengannya sepanjang masa.

Sekarang, kami benar-benar dekat selama dua minggu. Aku baru saja dari Vancouver dan dia memang akhirnya memilih untuk menetap di New Hampshire untuk mengambil gelar doktornya. Kami sama-sama bersepakat untuk bertemu di New York karena di Broadway ada opera yang ingin kami tonton.

Seteguk kopi, mengirim hangat mengusir gelisah yang mulai datang. Gelisah yang datang karena aku tidak tahu masa depan kami. Resah karena latar belakang rupanya menyulitkan kami untuk terus bersama. Tak tenteram karena ayahku di Pati, tak pernah menyetujui anaknya menikah dengan orang yang beda agama. Aku juga gelisah karena siang nanti kami harus kembali berpisah. Aku gelisah, walaupun aku bahagia mencintainya. Kenapa aku harus mengalami ini semua?? Aku melemparkan pertanyaan itu lewat mataku ke arah di mana kusangka Tuhan berada.

***
Mobil sewaan yang aku pakai mulai menyentuh kerikil pelataran pesantren ayahku. Beberapa santri yang baru selesai turun dari masjid mengangguk segan tanpa berani menatap ke arahku. Mendekati garasi, santri putri terlihat malu-malu melirikku sambil memegang ujung kerudung dan mempererat pegangannya pada gulungan mukenanya.

“Assalamu alaikum Gus Rahman…. Baru datang??” sapa Kang Dul Rozi santri yang sering diminta menyopiri ayahku. Dia sedang mengelap mobil Isuzu Panther ayahku.
“Alaikum salam Kang. Iya baru saja sampai. Ayah ada kan??”
“Iya Gus, mungkin masih di masjid….”

Aku masuk, mencium tangan ibuku yang kemudian menciumi pipiku. Ibuku mulai suka memelukku dan menciumi pipiku ketika aku untuk pertama kalinya pulang dari belajar selama 5 tahun di Amerika Serikat. Adikku yang sudah beranak dua membuatkan aku teh hangat, dan sepiring pisang goreng. Ibuku selalu menyediakan pisang goreng untuk berjaga-jaga kalau aku pulang dan untuk mengobati rindunya ketika aku tidak ada. Jadi tiap hari di rumah selalu tersedia pisang goreng. Ayahku masuk, aku mencium tangannya ketika bersalaman, tapi aku tidak memeluk atau dipeluknya. Juga tidak cium-ciuman. Bau ayahku masih sama, wangi minyak dari Mekkah kiriman santrinya yang jadi sopir bus di Jeddah.

Setelah teh di gelas tinggal seperempat gelas ayah tiba-tiba bertanya,
“Kapan kamu menikah??”
Pertanyaan yang tidak ingin aku dengar.
“Entahlah ayah…. calonnyapun aku belum ada”
“Kamu masih pacaran sama gadis jepang itu??”
Aku tidak pernah berani berbohong kepada ayahku, karena aku percaya bahwa dia selalu tahu bila aku melakukannya.
“Kami masih sering….. berkomunikasi”
Aku sengaja mengganti kata berhubungan dengan berkomunikasi, takut ayahku menangkap sesuatu yang aku ingin dia tidak tahu. Sebatas itulah kemampuanku menghindari kejaran pertanyaannya.
“Hmm…. sebenarnya kamu itu ingin enggak sih, hidup di suatu tempat, punya keluarga, dan tinggal tidak jauh dari orang tuamu yang mulai tua ini??? Kamu tidak ingin hidup yang bener??”
Pikirkku hidupku tidak ada salahnya sama sekali, semuanya benar-benar saja. Tapi dia melanjutkan….
“Apa iya kamu tidak capai mondar-mandir dari ujung dunia satu ke ujung dunia lain. Kamu siang malam mencari uang, tapi kekayaanmu cuma ada di dalam kopor dan dompetmu itu. Itu tidak barokah. Kamu juga tidak pernah ingat lagi membayar zakat. Kamu keliling dunia tapi tidak pernah menginjak masjidil haram…. Kamu mengajar orang, tapi kamu tidak memiliki anak untuk kau didik sendiri. Kamu mengajak orang berbuat baik pada bumi, tapi kamu sendiri tidak punya keturunan untuk melangsungkan kehidupan di bumi ini. Kamu mengajak orang untuk menciptakan damai, tapi hatimu sendiri tidak pernah damai”.
Aku hampir memprotes kalimat terakhir ayahku itu, tapi ia keburu menyusul kalimatnya dengan kalimat yang lain…
“Sebenarnya apa sih yang kamu cari dari perempuan. Kamu dari kecil diajari perintah Nabi dalam mencari perempuan. Nikahilah wanitu itu terutama karena agama dan akhlaknya, bukan yang lain. Tapi kamu ini aneh. Sejak dulu kamu pacaran sama orang yang lain agama. Waktu kuliah di Yogya kamu pacaran sama anak tentara yang Katolik…” Itu berarti Alexandra tetangga kost-ku yang waktu itu sekolah di SMA Stella Duce.
“ketika di Amerika pacaran sama wanita Yahudi, kayak kamu tidak tahu apa kata Allah tentang orang Yahudi saja….” Asha Goldstein yang kamarnya dulu bersebelahan denganku sama sekali tidak menggambarkan citra buruk tentang orang Yahudi yang aku dengar sejak kecil. Asha sangat baik hati.
“Ayah pikir setelah kamu tidak menetap di suatu tempat kamu akan ketemu dengan seseorang yang seagama. Eee….. engga tahunya kecantolnya sama orang Jepang yang menyembah matahari” Rieko jelas tidak pernah menyembah matahari. Dia beragama Budha, dan baginya agama tidak terlalu berarti. Dia melihat agama sebagai sebuah tradisi dan sumber ajaran moral yang mengajarkan hal-hal yang kurang lebih sama dengan apa yang diajarkan oleh Islam yang aku pelajari selama ini.

“Kalau mereka mau bersyahadat dan menjadi muslimah tentu saja Ayah tidak keberatan, tapi katamu mereka kan tidak mau”. Sebenarnya dengan Alexandra, Asha dan Rieko aku tidak pernah meminta mereka untuk menjadi muslim. Karena aku merasa mengapa mereka harus pindah agama untuk bisa menikah denganku??? Aku kok merasa seperti sedang bersekongkol menipu Tuhan kalau mereka pindah agama agar kami bisa menikah. Ayah tampaknya salah menangkap kata bersayap yang aku selalu aku gunakan, “Alexandra, (atau Asha atau Rieko) tidak mungkin berpindah agama karena sebuah pernikahan Yah…”

“Kalau memang kamu tidak ingin menikah dengan perempuan Indonesia, walapun Ayah kurang senang tapi bisa merestui, asal mereka Islam. Kenapa kamu tidak cari perempuan cantik dan pinter dari Pakistan, Iran, atau bule juga tidak apa, asal Islam. Ayah dengar banyak perempuan Perancis yang juga Islam…. kenapa kamu selalu mencari perempuan bukan muslim untuk kamu cintai???”

Aku tidak pernah bisa menjawab pertanyaan Ayah yang ini. Aku juga tidak pernah tahu kenapa yang aku cintai kebetulan tidak beragama Islam. Apakah cinta harus dipisahkan oleh agama. Apa iya sih agama menjadi penghalang bagi sebuah cinta??? Aku diam, melihat ke sudut di mana aku kira Tuhan berada dan bertanya “Ataukah aku telah mengambil cinta yang salah?”