Judul Buku : Saya Nujood, Usia 10 Tahun dan Janda

Berjuang untuk kebebasan! Itulah iktiar yang dilakukan Nujood Ali, gadis belia dari Desa Khardji, Yaman, agar bebas dari cengkeraman sang suami karena alasan tradisi yang lebih bersifat patriarkhi.

Ada peribahasa suku di Yaman yang berbunyi “untuk menjamin perkawinan yang bahagia, nikahilah gadis berusia sembilan tahun”. Karena alasan inilah dan didikung oleh kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, Nujood dinikahkan secara paksa oleh kedua orang tuanya dengan seorang lelaki yang usianya tiga kali lebih tua dari usia Nujood. Padahal saat itu, Nujood baru berusia sembilan tahun.

Buku ini mencoba menyuarakan kisah pilu hidup seorang gadis belia yang direngkuh oleh sebuah sistem patriarkhi atau tradisi kolot yang harus dipatuhinya. Kisah pemberontakan seorang gadis berusia sepuluh tahun yang ingin mendapatkan kebebasan dari tradisi pernikahan paksa di bawah umur. Sebuah kisah yang membawa inspirasi bagi perempuan-perempuan seusianya untuk melakukan perlawanan terhadap diskriminasi, kekerasan, dan eksploitasi perkawinan paksa karena alasan tradisi. Ada banyak kisah getir nan memilukan yang dialami Nujood untuk diketahui dalam buku ini.

Bagi Nujood, meraih kebebasan adalah hak yang harus diterima oleh semua mahluk ciptaan Tuhan termasuk dirinya. Karena itu, perjuangan melawan kesewenang-wenangaan, ketidak-adilan, dan perilaku tiran lainya yang dapat merampas kebebasan hidup adalah kewajiban yang harus dilakukan.

Meski begitu, perjuangan Nujood menempuh kebebasan tidaklah semudah membalikan kedua telapak tangan. Nujood harus berhadapan dengan tembok-tembok tradisi yang keras atau-pun nilai-nilai kolot yang dianggap mapan oleh masyarakat setempat. Sehingga dengan mendobraknya dianggap sebagai pemberontak dan kesalahan serius yang harus dicibir dan disingkirkan. Pernah beberapa kali ia mendapat teror dan ancaman pembunuhan dari kelompok konservatif. Namun tekadnya melawan ketidak-adilan terus bergelora dalam dadanya.

Suami Nujood, Faez Ali Thamer, bagaikan algojo menakutkan yang dengan kekuasaan tangan besinya bebas mendaratkan pukulan ke tubuh Nujood kapan, dan di mana saja. Ketakutan Nujood tak hanya sampai di situ, setiap malam datang, ia berharap suaminya tak ada di rumah. Karena, sang suami sering meminta Nujood melayani nafsu seksnya dengan cara yang amat kasar. Padahal sumpah Faez yang pernah dilontarkannya adalah tidak akan menyentuh Nujood sampai ia mengalami pubertas. Tapi nyatanya janji itu ia langgar. Nujood juga sering mendapat cacian dan siksaan fisik dari ibu mertua hingga sekujur tubuhnya terasa memar dan ngilu.

Tak tahan mendapat siksaan dan perlakukan tidak manusiawi. Nujood memutuskan untuk melarikan diri dan melaporkan perlakukan kasar suami dan ibu mertuanya ke pengadilan. Di sana Nujood menceritakan semua penderitaanya. Mendengar kabar memilukan yang dialami Nujood, hakim Abdel Wahed dan pengacara Shada membantunya memperoleh kebebasan.

Tuntutan Nujood dikabulkan hakim. Bahkan usahanya melawan sistim dan tradisi diskriminatif telah membuka mata dunia. Pujian dan penghargaan-pun berdatangan. Tak tanggung-tanggung, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice dan Menteri Luar Negeri AS sekarang Hillary Clinton memberi ucapan dan penghargaan atas perjuangan Nujood. Bahkan di New York City pada 10 November 2008, janda termuda di dunia itu dianuegarahi “Women of the Year” oleh Majalah Glamour.

Menanggapi kisah Nujood di atas, Direktur urusan Perempuan di Universitas Sana’a, Husnia al-Kadri, mengatakan bahwa kasus penceraian Nujood telah menghancurkan sebuah pintu yang selama ini telah tertutup rapat-rapat. Hasil penelitian-nya melaporkan bahwa lebih dari separuh gadis di Yaman telah menikah sebelum usia delapan belas tahun. Dan mereka menikah karena harus mengikuti adat istiadat dan mematuhi sistem patriarkhi yang didorong dengan berbagai alasan lainya. Bukan atas dasar kerelaan dan kesadaran penuh untuk menikah.

Di sisi lain, Nadia al-Saqqaf, pemimpin redaksi Yemen Times, juga menceritakan hasil temuanya. Dikatakan, ada seorang gadis Yaman berusia sembilan tahun yang dinikahi seorang laki-laki Saudi meninggal tiga hari setelah pernikahanya. Seolah mengganti kerugian atas barang dagangan yang cacat, orang tua perempuan, menawari lelaki tersebut, sebagai ganti rugi, adik perempuan almarhumah yang baru berusia tujuh tahun.

Ini berarti, apa yang dialami Nujood, juga dialami anak-anak seusianya. Jelas, budaya patriarki, di mana kaum adam di atas segalanya dan berhak mengendalikan semuanya, sudah mengakar kuat di Yaman. Nujood hanya membuka tabir saja. Ternyata setelah sidang cerai Nujood dikabulkan pengadilan, dua gadis lain—Arwa sembilan tahun dan Rym dua belas tahun—juga melakukan perjuangan hukum untuk memutus ikatan perkawinan barbar mereka. Nujood akhirnya bisa merdeka dan bersekolah. Dia bercita-cita ingin jadi pengacara agar dapat membantu kaum hawa di negerinya.

Perjuangan Nujood akan selalu dikenang karena kegigihanya melawan sistem patriarkhi yang berlaku. Walhasil, hidup di bawah bayang-bayang kekerasan dan diskriminasi akan menjauhi diri dari kebebasan sebagai fitrah manusia yang seharusnya diraih. Nujood yakin tak akan ada kebebasan tanpa perjuangan. Nujood telah melakukan itu dan berhasil.

—————————–

Judul Buku  : Saya Nujood, Usia 10 Tahun dan Janda

Penulis        : Nujood Ali & Delphine Minoui

Penerbit       : Alvabet

Edisi             : I, Agustus 2010

Tebal            : 227 halaman

Peresensi   : Mohamad Asrori Mulky, Penikmat buku dan pegiat di Komunitas Atap Langit