Islam Menjemput Masa Depan

Keberadaan umat muslim di abad 21, menjadi sorotan tersendiri bagi masyarakat dunia. Pasalnya, Islam saat ini sedang berkembang pesat di Negara-negara Barat seperti Amerika, Inggris, Belanda, dan lainnya. Ditambah dengan meletusnya revolusi Iran, semakin menjadikan Islam ramai diperbincangkan. Semula, wajah Islam sekian lama tak dipandang. Perkembangan ini tentu menjadi kabar gembira bagi dunia muslim khususnya, sebab Islam mampu diterima di berbagai belahan dunia.

Namun disisi lain, hadirnya peristiwa 9 September 2001 semakin menyudutkan umat muslim. Banyak serangan bertubi-tubi, terutama dari bangsa-bangsa Barat, terhadap umat Muhammad ini. Umat muslim diklaim sebagai teroris, kaum bar-bar, ekstrim, dan berbagai lebel negative lainnya. Keadaan ini tentu saja membelenggu umat muslim di tengah percaturan dunia yang semakin kompetitif. Dalam hal inilah, umat muslim di seluruh dunia diharapkan mampu merumuskan kerangka masa depan mereka demi keberlangsungan hidup.

Seperti apakah masa depan umat Islam sesungguhnya? Disinilah Prof. John L. Esposito menyuguhkan paparannya dan mencoba memberi kerangka pikir bagi umat muslim untuk merumuskan masa depan mereka. Esposito menilai, tantangan umat muslim sesungguhnya berada pada dua jalur: internal dan eksternal. Keduanya sama-sama berpotenti besar untuk melahirkan ketidakharmonisan dan kesuraman.

Tantangan dari internal diantaranya adalah hadirnya paham eskrim-eksklusif dalam tubuh umat Islam. Paham ini demikian gencar menyatakan permusuhan terhadap Barat, khususnya Amerika. Bagi mereka, Amerika dan sekutunya adalah musuh yang tak boleh dijadikan partner. Melainkan harus diperangi. Amerika tidak akan pernah rela jika Islam maju, sehingga terus-menerus memojokkan Islam. Berpartner dengan Amerika dan sekutunya hanya akan mendatangkan kerugian besar. Itu beberapa pendapat mereka.

Selain itu, tantangan berupa kemiskinan, pendidikan rendah, buta huruf, bias jender, ketertinggalan teknologi, juga menjadi problem tersendiri bagi umat Islam. Saat ini dunia Islam berada pada posisi yang masih “ekstrim” karena hampir seluruhnya hidup pada Negara yang masih berkembang. Bahkan boleh dibilang masih terbelakang dibandingkan dengan Negara-negara sekuler. Kondisi ini tentu saja menyulitkan umat Islam untuk bisa melampaui kemajuan Barat. Paling tidak, bisa setara saja, itu sudah merupakan kemajuan yang luar biasa.

Adapun tantangan di wilayah eksternal tak lain adalah benturan dengan Barat. Pasca peristiwa 9 September 2001, umat Islam terus-menerus menerima stereotip buruk. Mereka dicap sebagai teroris, anti-Amerika, anti-demokrasi, dan anti-kebebasan. Sejak saat itulah gejala “islamophobia” menyebar di seluruh dunia. Istilah islamophobia ini sesungguhnya pertamakali diciptakan oleh Runnymede Trust, kelompok pemikir independen di Amerika pada tahun 1997. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kebencian, prasangka, dan diskriminasi yang ditujukan untuk umat Islam.

Sampai saat ini, penilaian masyarakat Amerika terhadap Islam masih buruk. Islam dianggap agama yang kejam, tak berperi kemanusiaan dan tak berkeadilan. Pendapat Michael Savage yang menyatakan bahwa, “Orang-orang ini (Arab dan Muslim) harus dipaksa menjadi Kristen…. Itulah satu-satunya jalan yang mungkin dapat mengubah mereka menjadi manusia”, adalah salah satu contohnya. Selain itu, keberadaan Islam di Amerika juga tidak begitu direspon oleh masyarakat Amerika sendiri. Jajak pendapat Gallup 2005 tentang hal yang dikagumi dari Islam, 57% warga Amerika menyatakan tidak ada dan tidak tahu. Ini adalah pukulan telak bagi muslim Amerika dan dunia.

Dua tantangan diatas adalah PR nyata umat Islam. Terpaksa maupun tidak, umat Islam harus bisa menyelesaikannya demi kemajuan di hari depan. Jalan penyelesaian tersebut menurut Esposito antara lain adalah dengan membangun kerjasama yang baik antara Islam dan Barat. Untuk mendukung agenda ini, tentu dibutuhkan keterbukaan dari kedua pihak. Islam harus menghentikan agenda anti-Barat, Barat juga harus menghentikan agenda anti-Islam. Hadirnya Obama dalam kancah perpolitikan Amerika, sedikitnya telah membuka harapan masyarakat muslim akan adanya perubahan. Obama dinilai mampu membawa perdamaian antara Islam dan Barat dari pada lawannya, John McCain.

Dalam pidato pelantikannya, Obama mengatakan bahwa, “kepada dunia muslim, kita cari jalan baru ke depan, berlandaskan kepentingan bersama dan sikap saling menghargai”. Ia juga menekankan perlunya menjalankan kekuatan Amerika dengan bijak dan bermoral. Ini adalah iktikad baik Obama untuk perdamaian bersama. Kalau pun pada realisasinya hingga kini belum ada perubahan signifikan, setidaknya Obama telah berusaha membuka kran hubungan harmoni yang telah lama ditinggalkan (hal 217).

Barangkali yang sangat perlu untuk dirubah adalah cara pandang kedua belah pihak (Barat vs Islam) yang penuh dengan kecurigaan. Keduanya masih saja menyimpan sisa-sisa dendam sejarah. Barat, meski tidak semuanya, belum bisa menerima Islam sepenuhnya. Begitu juga Islam, masih ada yang belum bisa menerima Barat. Padahal, keduanya hidup dalam satu bumi yang tentu saja saling bersinggungan. Karenanya, keterbukaan informasi, penilaian yang fair, dan kerjasama yang baik sangat dianjurkan demi keberlangsungan bersama.

Selain menjalin hubungan harmoni, umat Islam juga harus berani berijtihad untuk melakukan pembaruan. Ketertinggalan Negara-negara Islam dari Barat baik dari segi pendidikan, ekonomi, teknologi, dan lainnya, merupakan tantangan baru yang harus diselesaikan dengan cara yang baru pula. Cara-cara konservatif tidak mampu memberikan jalan keluar untuk menjawab tantangan zaman. Begitu juga untuk menjawab isu-isu global seperti kesetaraan gender, HAM, demokrasi, jelas dibutuhkan formula Islam yang segar. Sebenarnya, berbagai usaha pembaruan telah dilakukan oleh tokoh-tokoh Islam seperti Tariq Ramadan, Mustafa Ceric, Amina Wadud, Al-Faruqi, dan lainnya. Namun, usaha itu masih perlu untuk terus dilakukan mengingat masih adanya umat Islam yang berpaham konservatif dan anti terhadap pembaruan.

_________________________

Sumber       : Kompas
Judul buku : Masa Depan Islam; Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat
Peresensi  : Fatkhul Anas (pegiat buku pada Hasyim Asy’ari Institute)
Penulis       : John L. Esposito
Penerbit      : PT Mizan Pustaka