HMINEWS.COM

 Breaking News

Caravan to Gaza Sampai di Libanon

December 26
16:11 2010

Libanon, HMINEWS-  Satu-satunya pilihan bagi bangsa Palestina dalam menghadapi penjajahan Zionis adalah perlawanan, demikian dasampaikan oleh Kepala Biro Politik Hamas, Khaled Meshaal di hadapan delegasi Konvoi Asia untuk Gaza (22/12/2010).

Menurut Meshaal, pendirian beberapa pejabat Palestina yang mencoba melakukan negosiasi dan pembicaraan damai sama sekali tidak mewakili aspirasi rakyat Palestina, baik di dalam maupun di luar Palestina.

“Semua rakyat Palestina percaya bahwa Israel tidak sah, dan satu-satunya solusi adalah perlawanan,” kata pria yang kerap dipanggil Abul Walid ini. “Saya ingin katakan kepada kalian, Israel adalah rezim pendudukan yang tidak punya masa depan. Israel adalah rezim rasis yang tidak punya tempat dalam sejarah dunia,” lanjutnya di hadapan sekitar 200 peserta Konvoi, pada 22 Desember 2010 di Aula Komplek Sahara, pinggiran kota Damaskus.

Menurut Meshaal, bangsa palestina tidak menuntut sebuah negara semu, tapi negara yang sejati, yakni semua tanah historis Palestina dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya. “Di bawah naungan negara Palestina merdeka, semua warga negara, baik Muslim, Kristen, dan Yahudi akan hidup dalam harmoni tanpa pendudukan Zionis,” tandas pria yang kepalanya dihargai tinggi oleh Amerika Serikat dan Israel ini.

Dalam kesempatan tersebut, Meshaal juga memuji upaya yang dilakukan para aktivis Konvoi Asia untuk Gaza sebagai perbuatan yang berani dan terhormat. Atas nama bangsa Palestina, dia menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para aktivis, keluarga yang mereka tinggalkan, dan bangsa yang mereka wakili.

“Asia benua terbesar di dunia. Asia punya sejarah besar dalam perlawanan menghadapi imperialisme dan kolonialisme. Kami ingin sejarah ini diulang di Palestina. Bangsa palestina mencintai semua orang yang mencintai kebebasan dan perlawanan. Hari ini kami menyambut kalian di Damaskus, esok di Gaza, dan Insya Allah di masa yang akan datang di Yerusalem.”

Delegasi Indonesia bersama Meshal

Selain Meshaal, hadir pula Ahmad Abdul Karim, Ketua Komite Publik Syria Urusan Palestina. Syeikh Abdul Karim yakin bahwa inspirasi Sukarmo, Tito, dan Gamal Abdul Nasser yang telah membebaskan Asia dari cengkeraman inperialisme ada bersama konvoi ini. “Berkat perjalanan kalian, penduduk Asia dan dunia semakin sadar akan penindasan imperialisme dan Zionisme.”

Sementara itu, koordinator konvoi Feroze Mithiborwala menyampaikan bahwa tradisi perlawanan intifadah Palestina akan menyebarkan ke negara-negara Arab lain dan ke seluruh dunia. “Kami menyerukan intifadah global,” kata pria berkebangsaan India ini.

Mithiborwala juga menjelaskan empat tujuan utama Konvoi Asia, yakni (1) membebaskan keseluruhan Palestina; (2) membuka blokade Gaza; (3) memboikot Israel; dan (4) membangun solidaritas Asia melawan imperialisme Amerika-Israel.

“Sebenarnya, justru Israel-lah yang sedang diblokade bukan Gaza. Kami datang untuk mengepung Israel agar mengakhiri blokade Gaza,” tandasnya.

Dengan solidaritas yang semakin meningkat dari seluruh masyarakat sipil dunia, menurut Mithiborwala, Israel sedang menghadapi isolasi. “Israel bukan lagi kekuatan militer yang harus ditakuti dan dihormati. Ini berkat perlawanan Hamas. Israel sedang menurun secara politik dan militer, dan Zionisme sebagai ideologi sedang menuju pada kematian.”

Mithiborwala juga menyampaikan bahwa bangsa-bangsa Asia akan terus melanjutkan upaya-upaya perlawanan sipil tanpa kekerasan berupa konvoi, baik melalui darat maupun laut, hingga Palestina merdeka. “Hari ini, kami menuju Gaza, dan di masa depan jutaan orang akan berbaris menuju al-Quds untuk membebaskannya. Kita tidak akan merdeka hingga Palestina merdeka. Hanya perlawanan yang bisa memberi jalan bagi kebebasan seluruh umat manusia.”

Di Lebanon

Pada 23 Desember 2010, sekitar 29 peserta konvoi yang mewakili lebih daripada 10 negara bergerak menuju perbatasan Syria-Lebanon. Di Beirut, Konvoi Asia untuk Gaza disambut dua anggota parlemen Lebanon, Khaled Abu Yusuf Daouk dan Salem Hoss. Nama terakhir adalah mantan perdana menteri Lebanon selama empat periode, dan kini menjadi Ketua Publik Lebanon untuk bagi Urusan Pengungsi Palestina.

Hoss menyakatakan bahwa publik di Lebanon dan Palestina semakin sadar bahwa Israel tidak bisa dihadapi dengan bahasa diplomasi. Perlawanan adalah cara paling ampuh yang bisa dipahami Israel.

Sementara itu, jurubicara delegasi Indonesia, Irman Abdurrahman (Voice of Palestine), menegaskan bahwa dengan menembus blokade Gaza, para aktivis tidak sedang melanggar hukum. Karena blokade ini ilegal di bawah hukum internasional, maka sejatinya para aktivis justru sedang menegakkan hukum.

“Konvoi ini dibentuk dengan berdasarkan pada satu prinsip dasar, bahwa penindasan di mana pun adalah musuh bagi kebebasan di mana pun, dan ketidakadilan di mana pun adalah musuh bagi keadilan di mana pun,” tegas Irman di hadapan belasan media lokal dan luar negeri. “Bangsa Indonesia merasa mempunyai utang kepada bangsa Palestina sebab selama perjuangan kemerdekaan Indonesia, bangsa Arab dan Palestina menunjukkan solidaritas dan dukungan yang kuat bagi Indonesia,” lanjutnya.

Konvoi Asia untuk Gaza yang terdiri dari 200 aktivis dari lebih 10 negara memulai perjalanan dari Delhi, India, pada 2 Desember 2010. Setelah melintasi Pakistan, Iran, Turki, Syria, kini Konvoi berada di Lebanon. Konvoi berencana akan menyeberang ke pelabuhan Al Arish (Mesir) melalui pelabuhan Latakia (Syria) pada 26 Desember 2010 untuk kemudian memasuki Gaza lewat gerbang Rafah, bersama lebih daripada 10 ton bantuan kemanusiaan. Otoritas Mesir sejauh ini belum memberikan lampu hijau bagi peserta konvoi untuk memasuki Gaza. Negosiasi alot terus dilakukan antara koordinator konvoi dengan Kedutaan Mesir di Damaskus. [] vop/ia/lara

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.