Membentuk Anak Gemar Membaca

Kita sudah sering mendengar, membaca adalah jendela dunia. Semakin sering membaca buku, peluang mendapatkan informasi terbuka lebar. Pengetahuan bertambah sehingga memperluas sudut pandang dan mempertajam analisa membaca masalah. Seorang rajin membaca akan terampil menulis dan berdiskusi. Di titik inilah buku berperan strategis menumbuhkan minat baca.

Sayangnya buku di Indonesia masih terbilang mahal. Maraknya industri perbukuan belum menjamin tersedianya buku murah. Tak heran akses masyarakat terhadap buku masih tergolong minim. Perpustakaan sendiri masih belum menjadi sebuah alternatif. Masyarakat mengidentikkan perpustakaan sebagai tempat yang membosankan.

Kurangnya minat membaca buku tentu membutuhkan perhatian pemerintah. Untuk membangun minat baca, ada baiknya ditumbuhkan sejak anak usia dini. Dr. Riris K Toha Sarumpaet, pengajar Fakultas Sastra UI menjelaskan “ Kita harus menjadi model anak kita. Dan yang terpenting membiarkan mereka menganggap membaca  sesuatu yang menyenangkan, bukan karena paksaan”.

Kebiasaan membaca tidak tumbuh sesaat, sebab diperlukan proses panjang. Orang tua perlu menyadarkan anak fungsi buku bagaikan sahabat. Sahabat itu mitra anak dalam kehidupan sosial. Ketika seseorang dijauhkan dari sahabatnya tentu timbul rasa kehilangan. Jika anak menganggap buku sebagai sahabat, kemanapun dia pergi pasti selalu membawa buku.

Kesadaran membaca bukan tanpa nilai. Ada investasi berharga ketika seseorang rajin membaca.  Seorang anak yang terbiasakan kebiasaan membaca cenderung bersikap kritis. Dia akan mampu menyeleksi informasi dari sekitarnya. Berikut panduan singkat meningkatkan minat baca anak.

1.      Dorong anak untuk membuat program membaca setiap hari. . Sediakan waktu minimal dua jam sehari. Orang tua bisa menyediakan bahan bacaan sesuai pertumbuhan anak. Buku dongeng, kartun dan kisah pahlawan umumnya sangat disukai anak.

2.      Ajak anak mengunjungi perpustakaan seminggu dua kali. Ketika berkunjung ke perpustakaan anak akan melihat beragam buku bacaan. Orang tua dapat mengajak anak menyelami samudera ilmu. Jangan lupakan orangtua membimbing anak memilih bahan bacaan yang sesuai.

Pemilihan bacaan dapat berfungsi sebagai upaya orang tua menyeleksi bacaan anak. Sebab kita tidak dapat memungkiri, banyak bacaan yang belum layak dikonsumsi anak. Seleksi bacaan membuat anak dapat menikmati bacaan sesuai proses tumbuh kembang anak.

3.      Tunjukkan contoh positif orang tua dengan banyak membaca. Sikap keteladanan cenderung mudah ditiru anak. Orang tua yang rajin membaca memancing anak mengikuti kebiasaan orang tua. Keteladanan orang tua adalah asset berharga, seorang anak mudah mengikuti apa yang dilakukan orang tua. Bahasa perbuatan kadang lebih meresap di hati anak daripada bahasa kata.

4.      Buat kegiatan membaca yang menyenangkan. Ketika liburan biasakan anak membawa buku. Waktu senggang ketika liburan dapat dimanfaatkan untuk membaca. Kebiasaan membawa bukua dalam setiap kegiatan mendorong anak menjadikan buku sebagai sahabat. Seorang anak jika sudah bersahabat buku, tak rela kehilangan sahabatnya.

5.      Mulai dengan buku sederhana. Buku bergambar kartun favorit anak sangat disukai anak. Tokoh Doraemon dan Upin Ipin misalnya banyak disukai anak. Ini digunakan sebagai perangsang awal anak untuk membaca. Dapat pula anak diberikan buku kartun nabi dan sahabat untuk mengenalkan mereka tentang kepeloporan perjuangan generasi nabi dan sahabat.

6.      Usia anak sangat dipengaruhi bacaan masa kecil. Usahakan menghindarkan anak dari bacaan yang mengandung pornografi, kekerasan dan perilaku destruktif. Sebab jika itu terjadi, potensi anak meniru sangat besar. Tentu saja dampak  lebih jauh, merusak potensi kognitif, afektif dan psikomotorik anak.

Inggar Saputra

Mahasiswa PLS FIP UNJ 2006

genmuslim_100@yahoo.co.id