Laporan Langsung Dari Taheran Iran

HMINEWS.COM – Perjuangan memang selalu penuh dengan tantangan. Mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan situasi yang di alami para peserta karavan selama di Iran. Rombongan yang bertujuan menembus blokade gaza tersebut, dihadapkan pada cuaca dingin dan makanan khas Iran yang asing di lidah.

Rombongan yang terdiri dari perwakilan negara-negara Asia – Jepang, India, Pakistan, Iran, Malaysia, Bahrain dan Azerbaijan, Indonesia dll juga tidak terlepas dari tantangan tersebut. Cuaca dingin yang mencapai 5 derajat Celcius yang disertai udara yang kering membuat bibir peserta pecah-pecah dan kelihatan tampak berdarah di beberapa bagian. Bahkan para peserta karavan dari Indonesia yang terdiri dari HMI- MPO, MER-C, Voice of Palestine, Aqsa Working Group, Hilal Ahmar mengeluhkan hidung mereka yang mengeluarkan darah setiap pagi.

Bukan hanya masalah cuaca, makanan khas Iran yang asing bagi peserta dari negara-negara lain sering membuat perut mereka mules. “Ini mungkin karena banyak dari makanan dan minuman khas Iran berasa asem. Dan karena makanan tersebut dikomsumsi dalam cuaca dingin, sehingga membuat perut para peserta sering mules.

Selain itu, tatantangan para peserta berupa perjalanan panjang yang melelahkan serta jadwal yang padat. Aktivitas yang dimulai dari jam 7 pagi dan terkadang istrahat jam 1 dini hari juga membuat peserta tampak letih. Keletihan ini tampak kelihatan sekali, dan bahkan peserta dari jepang yang terkenal dengan orang-orangnya yang pekerja keras sering terlihat tertidur di acara-acara semacam seminar dan konfrensi pers.

Untuk itulah, rombongan Caravan to Gaza, selama tiga hari ini di sela-sela acara, acapkali diajak berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, mulai dari museum perang Irak-Iran di Kerman. Taman makan pahlawa di Isfahan, Makam iman khomeini di Taheran dan terakhir seremoni gugur bunga di taman makan pahlawan yang juga berlokasi di Taheran.

Menurut Ruhullah, salah satu panitia yang bertugas menemani kami selama di Iran, acara berkunjung ke tempat-tempat tersebut di harapkan bisa membangkitkan semangat para peserta karavan. “ Saya melihat banyak peserta karavan bermasalah dengan cuaca dingin, udara yang kering serta makanan khas kami. Karena hampir setiap saat, saya melihat ada saja peserta yang mencari toilet. Dan ketika saya tanya kenapa, mereka bilang perut mereka sakit karena masuk angin dan makan makanan yang asem dalam cuaca dingin. Jadi kami harapkan dengan berkunjung ke tempat-tempat tersebut, semangat mereka (pahlawan Iran) bisa menginspirasi peserta.

Lebih lanjut menurut Ruhullah, hari terakhir di Iran sebelum menyeberang ke Turky di jadwalkan berada di Tabriz, di mana cuaca mencapai suhu di bawah 0 derajat Celcius.  Jadi dia mengharapkan, kunjungan ke tempat-tempat bersejarah tersebut bisa menjadi bekal bagi peserta melewati udara dingin di Tabriz.

Rombongan ini direncanakan berada di Iran dari tanggal 8 sampai 14 desember, untuk keliling dan kampanye pembukaan blokade Israel atas Gaza di kota-kota penting Iran. selain itu, rombongan juga menghadiri acara seminar dan konfrensi pers di universitas-universitas terkemu di negeri yang merupakan musuh nomor satu amerika tersebut. Adapun jumlah negara dan peserta karavan akan bertambah, setiap melewati satu negara. []NSR/HMNEWS.COM