Iran Hukum Gantung Spionase Israel

HMINEWS- Iran menghukum mati seorang warganya yang dituduh menjadi mata-mata agen rahasia Israel, Mossad, Selasa (28/12) dini hari. Ali Akbar Siadat, yang dieksekusi dengan cara digantung di Penjara Evin, Teheran, telah bekerja untuk musuh utama Iran itu sejak 2005.

Menurut kantor berita Iran, IRNA, yang mengutip isi laporan Kantor Kejaksaan Teheran, Siadat memberikan berbagai informasi sangat rahasia Iran kepada Israel dengan imbalan uang 60.000 dollar AS (Rp 540,48 juta) dan tambahan 3.000 dollar AS-7.000 dollar AS setiap kali bertemu langsung dengan agen Mossad.

Berbagai informasi yang telah dibocorkan ke pihak Israel meliputi data tentang berbagai pesawat tempur dan pesawat strategis yang dimiliki Iran, program latihan di pangkalan militer, sistem navigasi pesawat, dan berbagai info strategis lainnya. Siadat juga mengaku memberikan informasi mengenai rudal-rudal milik Garda Revolusi Iran.

Pengembangan rudal balistik Iran memang berada di bawah wewenang Garda Revolusi. Salah satu rudal yang sedang mereka kembangkan adalah rudal Shahab-3 yang diklaim mampu mencapai Tel Aviv di Israel dan seluruh pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia.

Hubungan dengan agen rahasia Israel tersebut awalnya dilakukan dengan kedok transaksi bisnis setelah Siadat melakukan kontak langsung dengan salah satu kedutaan besar Israel di kawasan Timur Tengah. Siadat lalu dibekali kamera digital mikro khusus untuk spionase sehingga tak sekadar memberikan data, tetapi juga foto-foto kepada agen Israel.

Laporan IRNA tak menyebutkan apakah Siadat adalah seorang pegawai pemerintah dan bagaimana persisnya ia bisa memperoleh informasi rahasia tersebut. IRNA hanya menyebut bahwa Siadat bertemu langsung dengan agen-agen Mossad di hotel atau tempat-tempat umum lain saat berkunjung ke Turki, Thailand, dan Belanda.

Siadat ditahan pada 2008 saat hendak melarikan diri dari Iran bersama istrinya. Saat ditangkap, ditemukan dokumen rahasia setebal 29 halaman di dalam tas Siadat.

Spionase Israel

Sebelum eksekusi Siadat, jaksa Teheran, Abbas Jafari Dolatabadi, juga mengumumkan akan menghukum mati warga Iran lain yang terbukti menjadi mata-mata Israel. Berdasarkan hukum di Iran, spionase termasuk dalam tindak kriminal yang diancam hukuman mati.

Dua tahun lalu Iran mengeksekusi Ali Ashtari, seorang wiraniaga barang-barang elektronik yang dituduh memberikan informasi tentang program nuklir Iran kepada agen Mossad.

Iran berulang kali menuduh Israel melakukan tindakan tidak bersahabat terhadap Iran, termasuk memata-matai militer dan program nuklirnya. Iran juga menuduh agen-agen rahasia Israel, AS, dan Inggris, berada di balik penyerangan dua ilmuwan senior Iran, 26 November lalu.

Dua ilmuwan nuklir tersebut, yaitu Majid Shahriari dan Fereydoun Abbassi Davani, diserang menggunakan bom yang dipasang di mobil mereka. Shahriari tewas, sementara Davani terluka parah.

Negara-negara Barat memang khawatir dengan ambisi nuklir Iran, yang mereka yakini ditujukan untuk membuat senjata nuklir. Iran menolak tuduhan ini dan menegaskan bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan damai serta keperluan nonmiliter.

Menurut catatan Agence France Presse (AFP), Siadat adalah orang ke-171 yang dihukum mati di Iran tahun ini. Tahun lalu Iran mengeksekusi 270 terpidana. Iran menjadi salah satu negara dengan rekor hukuman mati terbanyak setiap tahun, bersama dengan China, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.[]kcm/ian