HMINEWS-  Ini adalah kisah mengenai perjuangan bagaimana memajukan bangsa Indonesia dari sisi yang tidak di nayan-nyana. Kisahnya dimulai dengan seorang “gila” bernama Yohanes Surya, pendiri Surya Institute dan salah satu aktivis olimpiade science dunia, yang telah sukses mempromosikan banyak anak Indonesia ke ajang olimpiade science dunia, memprakarsai dilaksanakannya Olimpiade atronomi Asia Pacific (APAO) di Indonesia.

Program ini ditawarkan ke berbagai pemda di Indonesia, namun tidak ada yang tertarik. Hingga suatu hari … Yohanes Surya ketemu dengan seorang “gila” lainnya bernama John Tabo, orang Papua, Bupati Tolikara, pegunungan tengah Papua, kabupaten baru yang terisolir dan hanya bisa dicapai dengan naik pesawat kecil dari Jayapura ke Wamena disambung berkendaraan off-road selama 4 jam, daerah dimana laki-laki tanpa celana dan perempuan tanpa penutup dada, ditemukan dimana-mana.

John Tabo, tanpa diduga, bersedia menjadi sponsor pelaksanaan APAO di Indonesia, selain menjadi tuan rumah, dia juga mendanai seluruh biaya persiapan tim olimpiade Indonesia yang datang dari berbagai daerah di Indonesia termasuk dari Papua,selama 1 tahun. John Tabo membangun tempat khusus (hotel) untuk menjadi venue olimpiade ini. Orang yang berfikir normal pasti bilang, untuk apa John gila ini urusin Olimpiade astronomi seperti ini? bukankah masih banyak persoalan internal kabupaten yang harus dia selesaikan? mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi dan berbagai infrastruktur dasar? Cari kerjaan dan masalah saja!

Kontingen APAO

John Tabo melakukan terobosan “gila”.

Dana diambil dari APBD, mau dari mana lagi? Dia tidak takut BPK atau BPKP yang akan menilainya salah prosedur. Untuk John Tabo, membangun adalah untuk rakyat, jangan dibatasi oleh hal-hal administratif. Yang penting misi dia untuk membangun SDM Tolikara yang mendunia dapat tercapai, dan itu “breakthrough” untuk mengatasi kemiskinan Tolikara, tidak perlu menunggu sampai infrastruktur jalan akses terbuka.

Dikumpulkanlah 15 anak Indonesia sejak februari 2010 di Karawaci untuk, kesemuanya “gila”. 8 dari 15 anak tersebut direkrut dari SMP/SMU Tolikara, yang semuanya memiliki kemampuan matematika yang rendah, menyelesaikan soal matematika tingkat kelas 4 SD saja tidak mampu.

Ke-15 anak ini dilatih oleh pelatih-pelatih “gila”, yang tidak bosan dan kesal melatih anak-anak ini. Dalam 10 bulan ke-8 anak Tolikara ini mampu mengerjakan problem matematika paling sulit yang diajarkan pada tingkat terakhir SMA atau tingkat awal universitas.

Pendekatan mengajarnya juga “gila”.  Astronomi adalah  kumpulan dari berbagai ilmu science: matematika, fisika, kimia dan biologi menjadi satu mempelajari fenomena jagad raya.

Ini juga ilmu gila. Bayangkan seorang anak seperti Eko dari pedalaman Tolikara dapat menjadi salah seorang anak terpandai dibidang astronomi didunia hanya dalam waktu 10 bulan??!!

Urusan ijin ternyata juga “gila-gilaan”.

Ternyata even APAO ini tidak diakui oleh Kemdiknas. Akibatnya, untuk mendatangkan peserta luar negeri, tidaklah mungkin mendapatkan fasilitas Visa dari negara. Pake prosedur normal ijin dari Pemerintah cq Mendiknas tidak keluar. Entah gimana ceritanya …

Surya Institute akhirnya bertemu dengan seorang “gila” dari UKP4. Orang inilah yang mengetok Menteri Diknas, sehingga kemdiknas mau mengeluarkan ijin. Lalu orang ini memfasilitasi ijin visa disaat-saat terakhir, ketika semua sudah pasrah, bahkan orang ini mempertemukan anak-anak Indonesia dengan wakil presiden RI. Orang normal mungkin akan berfikir, apa urusannya astronomi dengan Wapres??!!

Lalu siorang gila dari UKP4 ini menugaskan 3 orang anggotanya yang kebetulan juga “agak gila” untuk datang menghadiri kegiatan olimpiade di Tolikara. jadilah 3 orang itu sebagai satu2nya unsur pemerintah pusat dalam even Olimpiade di Tolikara. Lalu 3 orang ini membawa-bawa nama Wakil Presiden RI dan Kepala UKP4 untuk memotivasi anak-anak.

Dalam percakapan hati ke hati dengan 15 orang anak, semalam sebelum pengumuman, tidak kurang 7 orang anak terharu menangis, melihat begitu besarnya perhatian pemerintah RI kepada mereka, sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan dari pemerintah di Jakarta selama 10 bulan mereka di godok di Karawaci. Datang dan duduk bersama dengan mereka, ternyata lebih dari segalanya bagi anak-anak ini.

Anak-anak Tolikara begitu terharu, menangis terisak, melihat ada orang Jakarta mau datang melihat mereka di Tolikara.

Apa hasil dari semua kegilaan ini? Selain perolehan medali-medali diatas:

1. Indonesia dikenal lewat Tolikara! Tolikara, meskipun tidak dikenal
Indonesia, namun telah membuktikan kepada dunia bahwa dari tempat yang
sedikit sekali dijamah pembangunan, bisa lahir juara-juara olimpiade
science, yang akan mengharumkan nama Indonesia ditingkat dunia,

2. Tolikara mulai membenahi sumber daya manusianya menuju SDM berkualitas
dunia. Hasil olimpiade ini telah memotivasi semua anak
Tolikara bahwa keterbatasan fisik dan fasilitas bukanlah halangan bagi anak
Tolikara untuk menjadi SDM terbaik dunia. 8 anak Tolikara yang bersaing
ditingkat dunia menjadi saksi hidup bahwa SDM Tolikara dapat bersaing
ditingkat dunia.

3. Tolikara membuktikan bahwa mereka dapat membangun “lebih cepat” jika cara
berfikir “gila” ini diterapkan. Hanya dengan cara gila seperti ini
pembangunan Papua dapat dipercepat.

4. Kita perlu “A Tolikara Approach” untuk sebuah percepatan pembangunan
Papua!Pesan moral dari kisah ini: jadilah orang gila untuk membangun
Indonesia lebih baik! Never underestimate things! Kesempatan ke Tolikara telah
memberikan pelajaran berharga bagi saya. Belajar tidak harus selalu dari
tokoh dunia. Dari seorang anak SMP yang tidak pernah diperhitungkan
dipelosok Tolikara, kita dapat belajar untuk berbuat yang terbaik bagi
Indonesia dan dunia.

Partogi Samosir, Counsellor Embassy of the Republic of Indonesia, Washington D.C.