HMINEWS.COM

 Breaking News

Rentannya Kaum Muda Muslim: Tantangan Melawan Radikalisasi

December 18
06:41 2010

Abbas Barzegar

Oleh : Abbas Barzegar

Atlanta, Georgia – Banyak di antara kita masih terkejut oleh berita tentang seorang pemuda Amerika kelahiran Somalia berusia 19 tahun, Muhammad Osman Mohamud, yang ditahan 25 November lalu lantaran mencoba meledakkan sebuah upacara menyalakan pohon Natal di Portland, Oregon. Terlepas dari masalah yang timbul seputar keterlibatan FBI dalam kasus ini, tampak bahwa sekalipun ratusan juta dollar sudah dihabiskan untuk program-program melawan radikalisasi di Amerika Serikat, Eropa dan negara-negara mayoritas Muslim di seluruh dunia, seorang pemuda Amerika yang kelihatannya berjiwa sehat masih ada yang ingin melakukan sebuah tindakan kekerasan yang mengerikan.

Agar strategi-strategi untuk menghalangi kekerasan ekstremis bisa efektif, kita harus dengan seksama melihat kekuatan dan kelemahan strategi-strategi tersebut.

Saat suara Osama bin Laden dan Ayman al-Zawahiri mulai memudar, arus baru pemuda yang rentan radikalisasi justru terinspirasi oleh ulama ideolog seperti Anwar al-Awlaki. Meskipun jumlah mereka sedikit dan kurang pengikut di kalangan arusutama, para ekstremis seperti al-Awlaki secara tak proporsional mempengaruhi wacana hubungan Muslim-Barat karena tindakan kekerasan mereka menjadi berita utama sebagian besar media dan memberi amunisi bagi para oportunis politik yang ingin merusak hubungan dunia Muslim dan Barat.

Sebagai upaya untuk memerangi pengaruh para ideolog radikal, para pemimpin Muslim di seluruh dunia tampil ke depan dengan kampanye-kampanye aktif untuk membawa “Islam” keluar dari “terorisme Muslim”. Mereka hendak menegaskan bahwa tindakan-tindakan kekerasan semacam itu tidak saja secara moral tidak bisa diterima tapi juga jelas-jelas melanggar ajaran dan hukum Islam.

Misalnya, awal 2010, sekelompok ulama berkumpul di Mardin, Turki untuk menolak fatwa dari ulama abad ke-14 yang tidak populer, Ibn Taimiyyah, yang menyerukan kekerasan terhadap para penguasa non-Muslim. Fatwa ini yang berulang kali digunakan sebagai dalih pembenar oleh para ekstremis.

Senada dengan itu, masih di awal 2010, Dr. Muhammad Tahir ul-Qadri menerbitkan kumpulan fatwa setebal 600 halaman yang mengecam “terorisme atas nama Islam”. Dengan mengandalkan berbagai sumber dan metodologi tradisional, para ulama seperti ul-Qadri berharap bisa mematahkan monopoli para ideolog garis keras dalam perang wacana tentang hubungan Muslim dan dunia Barat.

Pemerintah, masyarakat dan para pemuka Muslim di seluruh dunia mendukung upaya-upaya ini dengan sejumlah cara. Di Inggris misalnya, Radical Middle Way dan Quilliam Foundation berupaya mendidik masyarakat tentang Islam, sembari pada saat yang sama mendorong suatu identitas yang khas bagi anak-anak muda Muslim Inggris. Mereka mengerjakannya dengan bantuan para tokoh Muslim terkenal seperti Hamza Yusuf dan Abdul Hakim Murad.

Meskipun upaya-upaya ini harus dipuji, banyak di antaranya belakangan gagal karena orientasinya bersifat non-politik. Jika de-radikalisasi anak muda Muslim yang rentan kekerasan dan pencegahan ekstremisme keagamaan merupakan tujuan, bagaimana mungkin pendekatan-pendekatan ini dapat menjangkau audiens sasaran tanpa adanya dorongan yang menarik dalam dunia yang penuh konflik sekarang ini? Bagaimana bisa program semacam itu memengaruhi orang-orang yang marah dan tidak puas agar tidak melakukan ekstremisme?

Adalah rahasia umum bahwa tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok seperti Al-Qaeda dan para simpatisan mereka di negara masing-masing pada dasarnya bersifat politis yang dibungkus dengan ideologi agama. Anak muda Muslim masa kini akan mudah marah, misalnya, oleh adanya serangan salah sasaran dari pesawat nirawak di Pakistan yang menewaskan para perempuan dan anak-anak tak berdosa, dan penindasan atas orang-orang Palestina yang sepertinya tak berujung. Baik Afghanistan maupun Somalia, yang sekarang menjadi ‘taman bermain’ para teroris, adalah negara-negara yang sudah tak berfungsi selama dua generasi; para pemuda di negara-negara ini hanya tahu tentang perselisihan sosial, perang, dan janji-janji yang tidak dipenuhi oleh komunitas internasional.

Kondisi yang buruk inilah yang mengembangbiakkan ekstremisme. Namun, program-program kontra-radikalisasi seringnya justru menghindarkan diri dari perbincangan politik yang pelik secara langsung. Alih-alih, program yang ada malah menekankan tema-tema seperti warisan multikultural Kordoba di Spanyol, ajaran-ajaran spiritual para sufi, dan capaian-capaian sains dunia Muslim abad pertengahan.

Para pemimpin Muslim dan rekanan mereka di pemerintahan maupun masyarakat sipil harus bergerak lebih dari sekadar mengajarkan teladan “Muslim yang baik” dan mendorong tindakan-tindakan warganegara yang baik seperti gerakan amal dan pengabdian sosial. Mereka harus menyadari bahwa cerita-cerita tentang teknik interogasi yang menyiksa (water-boarding) dan gambar-gambar dari Abu Ghraib akan punya pengaruh yang jauh lebih mendalam pada pembentukan persepsi politik anak muda Muslim daripada rangkaian kata-kata indah Presiden AS Barack Obama tentang perdamaian atau deklarasi-deklarasi lintas agama yang digagas para ulama.

Para pemimpin Muslim memang diharapkan membimbing anak muda dalam sebuah gerakan keagamaan melawan kekerasan dan ekstremisme, namun mereka juga harus didorong untuk menyatakan kebenaran tentang isu-isu ketidakadilan politik, yang menjadi faktor nyata yang menyulut ekstremisme. Jika mengabaikan hal ini, para pemimpin Muslim dan rekanan mereka tidak saja akan dilihat oleh audiens mereka sebagai boneka negara-negara Barat, tapi juga menyebabkan orang-orang yang tak puas terpaksa masuk ke dunia gelap ekstremisme dan jatuh ke pangkuan tokoh-tokoh seperti al-Awlaki.

###

* Abbas Barzegar adalah guru besar muda bidang studi Islam di Jurusan Kajian Agama Georgia State University dan salah satu editor Islamism: Contested Perspectives on Political Islam (Stanford University Press, 2009). Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.