HMINEWS.COM

 Breaking News

People Song’s power: Kupu-kupu Kertas Yang Telah Selesai

December 26
00:00 2010

HMINEWS-  Menyusul  surat pembaca warga Cikeas di sebuah harian nasional beberapa waktu lalu soal gundahnya tiap kali SBY melintas di daerah mereka, lengkaplah sudah modal memahami betapa kini rakyat makin cerdas dan kritis.Tak  cuma ungkap problem tapi juga solusi. Warga Cikeas itu minta SBY tinggal di Istana saja daripada meraung-raung di kediamannya. Ditambah komentar langsung menohok target oleh Syahganda Nainggolan Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle,” Bukan Presiden seharusnya curhat, tapi rakyat yang harusnya curhat.

Tulisan ini diniatkan untuk berbagi ragam cara mengungkap rasa di hati,di dada pun di perut ketika suara-suara Bebek di sekolah TK tak semerdu janji dulu.Mungkin mereka lebih memilih menyelam sambil minum Lumpur Basi Century atau karena terlanjur lahir sebagai penganut paham KKO:Kanan Kiri Oke,hingga siapapun sila pesan ragam jenis suara asal cocok diharga.Kecuali via tulisan di media cetak & elektronik,melakukan aksi-aksi jalanan,beradu akal & otak di forum menceramahi penceramah atau berbalas pantun di seminar, lagu-lagu merupakan medium cerdas dan damai mengungkap ragam rasa yang mendera.

Sila simak,” Seperti angin tak pernah diam/Selalu beranjak setiap saat/Menebarkan jala asmara/Menaburkan aroma luka/Benih kebencian kau tanam/Bakar ladang gersang/Entah sampai kapan berhenti menipu diri”.Penggalan lagu Ebiet G Ade,”Kupu-kupu Kertas”ini begitu menggetar haru karena diungkap dalam lagu yang membawa pendengarnya merenung sambil mengoreksi diri betapa rakyat tak lagi sebodoh dulu.Pun tak cuma sekedar santun basa basi tapi lagu ini canggih memetakan paradigma filosofis karakter pemimpin karbitan yang hanya pintar namun tak cerdas.

Banyak lagu Ebiet yang membantu mengurangi beban para kandidat demonstran dan yang memang bergelut di bisnis demo,beda cukong beda memo.Betapa damai dan indahnya demonstrasi jika ribuan orang menghanyutkan diri dalam senandung lagu-lagu,sebagai kekuatan rasa bukan hanya raga semata.Jika para pemimpin menipu yang dipimpinnya dengan topeng santun,tak perlu membalasnya dengan hal serupa.Cukup dengan lagu yang seperti pepatah Minang,”Pukul anak sindir menantu”.Yang paling legendaris tentu syair Ebiet tentang Rumput yang bergoyang.Katanya,”Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita”.

Rasanya,tak salah jika mulai mencoba sesuatu yang baru dalam ikhtiar mengungkap rasa melalui gerakan,”Power of Songs”sebagai alternatif atau malah pendamping,”People’s of  Power”agar aksi-aksi menuntut perubahan tak berujung dendam versus dendam turunan setan.
Bila tak bakat menyanyi,membaca syair di jalan pun pasti lebih damai ketimbang teriak-teriak apalagi caci maki tak karuan.Bagi yang memiliki koleksi lagu-lagu sejenis,terkait empati terhadap bangsa dan negara,sila koleksi dan terbitkan buku lagu-lagu dimaksud hingga bisa membantu mereka yang membutuhkannya.Dengan begitu, ikhtiar mengungkap rasa melalui “Power of Song” dalam “People’s Power’akan memperlihatkan kepada bangsa-bangsa lain di dunia betapa kita adalah bangsa  yang cerdas  dan damai mempraktekkan adat ke-Timurannya.

Bila tak lagi ada asa dipenantian panjang janji-janji pemimpin yang diumbar saat kampanye,lagu Ebiet;Yang Telah Selesai”membuat situasi lebih sejuk.” Jangankan untuk berfikir/sedang mendengar pun enggan/Jeritan pilu lewat bagai angin/Jantungnya telah membeku ho/Jantungnya telah membeku.Lupa segala-galanya/tak merah, tak juga jingga/Rintihan kelu tak ubah nyanyian/Ibanya telah membatu ho/Ibanya telah membatu.Semakin hari makin tak peduli/Semua harapan t’lah pupus/Matanya kosong, sinarnya binasa,bibirnya rapat terkunci/Dia bukan milik kita lagi terselubung dalam sepi/Masa lalunya begitu gelap/Benturan demi benturan/begitu berat menekan/Jangankan untuk menyapa/sedang menoleh pun enggan/Lampu jalanan perlahan padam/Dia hanya pantas dikenang ho/Dia hanya pantas dikenang.Sekali waktu terbangun nafasnya tersendat-sendat/Sumpah serapah yang ia gumamkan/Dia hanya pantas dikenang ho/Dia hanya pantas dikenang/Semakin hari makin tak peduli/Semua harapan t’lah pupus/Matanya kosong, sinarnya binasa,/bibirnya rapat terkunci/Dia bukan milik kita lagi/terselubung dalam sepi/Masa lalunya begitu gelap/Benturan demi benturan begitu berat menekan”.

Lanjutkan

Salut untuk Ebiet G Ade!Lanjutkan kreasi lagu-lagu baru demi anak cucu kita lebih bangga lebih kaya karena hidup di negeri raya dengan alam indah bak di surga pun karena para pemimpinnya cerdas luar biasa.Semoga lagu-lagu anda menjadi inspirasi  pemimpin-pemimpin kita saat ini dan selamat jalan,”Kupu-kupu Kertas Yang Telah Selesai”.

Soal moral,kata Iwan Falls,” Masalah moral masalah akhlak/Biar kami cari sendiri/Urus saja moralmu urus saja akhlakmu/Peraturan yang sehat yang kami mau/Tegakkan hukum setegak-tegaknya/Adil dan tegas tak pandang bulu/Pasti kuangkat engkau/Menjadi manusia setengah dewa”.simpulan mantu Almarhum Soeharto,Mayangsari,”Tiada Lagi”&Cucu jauh Om Liem,Agnes Monica,”Cinta Di Ujung Jalan”’

Soal ketidakadilan,”Perahu Retak” Franky Sahilatua menggugat,”Aku heran yang salah dipertahankan yang benar disingkirkan/Keserakahan diagungkan.Tanah Pertiwi anugerah Illahi jangan makan sendiri”.Cengkarut negeri akan berujung”Hari Kiamat”diungkap Black Brothers,”Di tepi jalan si miskin menjerit hidup meminta dan menerima/Yang kaya tertawa berpesta pora hidup menumpang di kecurangan/Sadarlah kau cara hidupmu.

Icon-icon  lagu pun lebih manusiawi ketimbang jargon-jargon hewani seperti; Cicak Buaya, Sapi,Gurita, Tikus dan yang sejenisnya.Mestinya yang begini-begini yang dilanjutkan bukan yang begitu-begitu, seperti yang dilakon para koruptor penebar fitnah di balik topeng santun.Jangan biarkan demokrasi tereformasi jadi”santunkrasi”;licik asal santun,konstitusional.Lanjutkan lebih cepat lebih nikmat demi 9 turunan selamat sebelum kiamat!

Yon Inf. Hotman, Founder of Indonesian Next Foundation Washington DC USA – www.indonext.org

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.