HMINEWS.COM

 Breaking News

Menafsir Ulang Realitas Hijau Hitam : Sebuah Upaya Membongkar Kejumudan

December 20
23:14 2010

Zaman kekinian merupakan perpanjangan tangan dari zaman sebelumnya, begitupun dengan setiap moment yang mengambil tempat didalam ruang dan waktu kehidupan akan selalu memilki keterkaitan dengan moment di zaman sebelumnya,  olehnya karena itu mendiskripsikan kedisinian dengan memutus habis rantai masa lalu merupakan sebuah tindakan yang tidak bijak karena genealogisasi akan selalu mewarnai ruang kehidupan manusia, pemahaman tentang kekinian dan kedisinian merupakan perkawinan antara fusi cakrawala historikal masa lalu dan fusi cakrawala masa kini, konsep ini bukan bermaksud memenjarakan manusia kedalam sangkar kemandegan  karena cakrawala historical bukanlah seperangkat pandangan atau evaluasi yang “fixed”, cakrawala masa kini  masih harus terus dibentuk dan kita harus senantiasa menguji prasangka kita (Paul Ricour)

HMI sebagai organisasi yang mengambil posisi, dipentas dalam ruang dan waktu maka secara otomatis terlingkupi oleh kedua cakrawala tadi, arus zaman yang terus berubah menuntut HMI agar pandai mencandrai realitas. Tentunya dalam proses pencandraan tersebut, modal epistemologi dan ideologi harus senantiasa menjadi teman berjuang, agar  epistemologi tidak kehilangan gigi maka ia harus selalu konteks dengan ruang kehidupan generasi ulul albab (kader HMI, red).

Adapun kontekstualisasi akan selamanya membutuhkan analisis cakrawala historikal karena masa lalu telah melahirkan berbagai tradisi besar yang butuh direvitalisasikan dalam cakrawala masa kini, tidak dapat dinafikan corak berpikir kader hari ini bukanlah model berpikir yang diproduksi di ruang hampa, ia adalah gaya berpikir yang diproses di jantung pertarungan kepentingan.

Dimana semua kubu kepentingan berkesempatan untuk menariknya, ia bisa tertarik ke kanan atau ke kiri dan ia juga bisa terdorong keatas atau tertekan kebawah atau dalam level konkrit kita bisa membahasakan bahwa kader HMI selain mendapat pengaruh dari realitas diluar dirinya juga senantiasa mendapat pengaruh dari senior ataupun alumninya, pengaruh tersebut merupakan hal wajar dan hampir tidak bisa dilenyapkan dari ruang publik anak hijau hitam  mengingat ikatan emosional diantara kedua kubu sangat sukar dilunturkan, ikatan emosional tersebut yang kemudian membukakan ruang bagi terjadinya proses komunikasi intens dalam bentuk silaturrahim gagasan atau pertukaran ide.

Menurut pandangan penulis proses silaturahim gagasan yang terjadi antara generasi HMI sekarang  dengan para senior dan alumni berpotensi mendatangkan dampak positif namun disisi lain  juga berpotensi mendatangkan dampak negatif, ia akan berdampak positif jika alumni atau senior tidak memposisikan diri sebagai patron yang harus diikuti petuahnya serta memandang konteks HMI masa kini dengan perspektif kekinian dan kedisinian agar tidak melahirkan penilaian yang sangat bias,  walaupun tentunya perbandingan kemajuan dalam setiap periode merupakan hal yang tetap penting untuk diketengahkan dalam sebuah proses pertukaran gagasan, kesan patron bisa muncul secara tidak disadari terutama jika alumni atau senior telah terlebih dahulu membuat persepsi “terbaik” pada masanya sebelum melakukan komparasi objektif dengan realitas hijau hitam kontemporer.

Dalam konteks ini, kita menbutuhkan kepandaian kader untuk menganalisa dan memilih antara mana yang merupakan intervensi yang bisa menghambat kemajuan dan mana yang merupakan sumbangan pemikiran progresif yang perlu diapresiasi untuk kemajuan himpunan, mungkin karena proses pergulatan inilah yang menyebabkan kader memperlihatkan identitas kabur (mereka ingin mempertegas eksistensinya sebagai produk HMI masa kini namun ia masih merindukan kejayaan sejarah masa lalu sehingga secara tidak sadar mereka masih menggunakan perangkat teknis masa lalu untuk mewujudkan impian kejayaan dalam ruang realitas kekinian).

Olehnya itu kader HMI dituntut untuk tetap menggunakan nalar kritisnya dan memandang bahwa cakrawala masa lalu merupakan pandangan atau evaluasi yang belum “fixed” sebab persepsi ini  akan  membukakan ruang bagi anak hijau hitam agar memiliki kemandirian tersendiri baik pada wilayah gagasan maupun pada tataran aplikasi  lapangan, verstehan (pemahaman) tersebut  senantiasa menyadarkan kader HMI MPO  bahwa hidup yang mereka perjuangkan hari ini bukan sekedar  refleksi masa lalu tetapi lebih dari itu merupakan keharusan yang mesti dijalani sebab segala yang ada didalamnya masih dalam proses pencarian bentuk , lalu menjadi tugas anak-anak hijau hitam untuk selalu memprosesnya agar ia bisa purna lewat gagasan dan idealisme yang mereka pegang.

[Zaenal Abidin Riam (Ketua korkom Makassar Selatan)]

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.