HMINEWS.COM

 Breaking News

Harga Wanita; Sekedar Mengenang Hari Ibu

December 22
18:56 2010

……..

“Aku cantik

Aku ingin tetap memepesona

Bahkan jika ia yang di dalam cermin

Merasa tua dan sia-sia”

…..

(Puisi seorang penyair kenamaan dari Jogja, Joko Pinurbo)

 

Suatu kali, di dalam mobil saat Jogja-Pekalongan, tepat saat Hari Ibu 23 Desember  tahun 2002 lalu, bibiku yang sudah lama tinggal di Jakarta, berbicara: “Yang harus dipersiapkan oleh para ibu untuk menjamin masa depan anak perempuannya adalah kecantikan. Anak perempuan tidak perlu disekolahkan terlalu ‘serius’. Yang terpenting bagi seorang anak perempuan adalah bagaimana membuat dirinya menarik, kemudian mendapatkan suami yang baik dan mapan sehingga dapat menjamin kehidupannya di masa depan”.

Sebagai seorang yang pernah merasa sebagai ‘aktivis’, tentu saja aku terhenyak dengan pernyataan itu. Segala bacaanku tentang feminisme, persamaan harkat dan martabat wanita, dan memori-memori diskusi tentang gender yang lama telah mengendap dalam otakku siap didihkan kembali demi untuk menangkis argumen-argumennya, seandainya saat itu ia mengajakku berdebat.

Namun, setelah berpikir agak lama baru aku sadari bahwa pernyataannya adalah sebuah kepolosan dari seorang ibu rumah tangga lugu, istri seorang eksekutif muda yang cukup mapan di Jakarta yang namun tidak pernah berinteraksi dengan isu-isu terkait dengan jenis kelaminnya sendiri. Barangkali itu adalah potret kebanyakan pemikiran kaum rumah tangga yang referensinya adalah sinetron, majalah fashion ataupun tabloid gosip. Wacana feminisme mungkin pernah mampir dalam salah satu kolom majalah langganannya, akan tetapi itu tidak menarik, yang lebih menarik adalah berita tentang selebritis, seputar belanja atau perawatan tubuh.

Memang benar, dalam dunia modern wanita banyak mengalami kebebasan. Wanita bebas keluar rumah, bebas menentukann nasibnya sendiri, bebas memilih pasangan hidup, bebas berkawan dengan siapapun, dan bebas untuk memilih apapun. Tetapi sesungguhnya wanita tidak bebas dalam hal persepsi tentang kecantikan. Selamanya wanita memandang bahwa kecantikan fisik adalah kehormatannya, harga diri dan penentu masa depannya. Dan ingat, kecantikan fisik yang dimaksud adalah kecantikan dikonstruk dalam parameter-parameter seperti kelangsingan tubuh, kehalusan kulit dan keseronokkan penampilan, dan sebagainya.

Dalam ketidakbebasan persepsi tentang kecantikan tersebut, wanita bisa menjadikan kecantikan sebagai modal yang dapat mendatangkan keuntungan material bagi dirinya. Dengan cantik, wanita memanipulasi kesadaran pria untuk tunduk dalam pelukannya. Demi wanita yang cantik, priapun akhirnya rela bekerja sekuat tenaga demi mempersembahkan materi kepada wanita. Jadi wanita tidak perlu kerja keras secara langsung, wanita hanya perlu menjadi cantik untuk membuat para pria bekerja keras mencari harta untuk dirinya.

Sayangnya, uang yang dicari oleh para pria untuk dipersembahkan kepada wanita tidak akan bertahan lama. Uang tersebut akan segera habis untuk membeli alat-alat kecantikan. Sebab apa? Sebab kencantikan memang harus dibayar. Kecantikan sudah ada konstruksinya, dan para wanita perlu membayar untuk mendapatkannya. Barang siapa yang bisa mengkonstruksi kecantikan maka ia yang akan menuai keuntungan. Bisa jadi mereka adalah para pria juga.

M Chozin Amirullah, Ketum PB HMI

mchozin@pbhmi.net

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.