HMINEWS.COM

 Breaking News

Dimensi Kemanusiaan dalam Dunia yang Berubah

December 29
09:22 2010

M.Alfan Alfian

Oleh : M Alfan Alfian, Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta

Biarlah begitu judul tulisan saya kali ini: seperti judul makalah seminar yang superserius. Biar pembaca penasaran, tulisan apa sih? Awalnya, seseorang bertanya kepadaku, apakah dengan penemuan teknologi canggih dan pola interaksi antar-manusia yang berubah pada abad ke-21 ini, menandai adanya suatu percepatan sejarah, ke arah kehancuran peradaban manusia itu sendiri? Atau bagaimana?

Aku katakan, aku bukan futurolog. Tapi pertanyaan itu bisa kita diskusikan –dan barangkali aku hanya bisa menambah panjang latar belakang pertanyaannya. Yang jelas pertanyaan itu mengingatkan betapa kita tengah hidup pada era kemajuan yang luar biasa dibandingkan peradaban-peradaban teknologi manusia sebelum kita.

Kita hidup pada era ketika telepon genggam pun sudah demikian multifungsinya. Dunia digenggaman. Dan itu masih akan berkembang. Ilmu pengetahuan sudah semakin tersosialisasi, sehingga tidak ada lagi atau jarang mengemuka pertanyaan yang biasa muncul pada 1970-an atau 1980-an, misalnya, apakah pesawat televisi itu benda mistik.

Dalam dunia mistik atau yang dimistik-mistikkan, misalnya, sering terdengar rumor seorang kiai yang bisa berkomunikasi dengan rekannya yang jauh, yakni katakan di Mekkah. Atau, tak hanya itu, ketika seorang kiai kok kalau hari Jum’at menghilang, berarti ia sedang sholat Jum’at di Mekkah.

Dua hal itu bisa digugurkan oleh perkembangan teknologi –walaupun belumlah ada seorang kiai kita punya pesawat pribadi supercanggih.

Perkembangan teknologi membuat hidup kita terdemistifikasi sedemikian rupa. Kalau kita mendengarkan lagu The Beatles atau Koes Plus di alat pemutar lagu, maka bukan berarti John Lenon atau Tony Koeswojo masih hidup orangnya.
Dan kalau mereka masih nyaring suaranya, itu bukan sulap bukan sihir.
Teknologi meringkas sedemikian rupa kenangan kita. Rasanya baru kemarin Bung Karno mengobarkan semangat “ganjang Malaysia”, atau ketika Pak Harto terlihat gambarnya berada di lokasi pengambilan jenazah para Jenderal pada 1965.

Rasanya juga baru kemarin, heboh para angkasawan alias astronot AS mendarat di bulan –walaupun terdapat versi yang kontroversial menyebutkan bahwa pendaratan itu tak pernah ada. Mahatma Gandhi ditembak mati. Malcolm X terkapar oleh pembunuh. Muhammad Ali berteriak-teriak di atas panggung.
Rudi Hartono yang “tak terkalahkan” dalam All England. Kiai Hamam Djafar membolehkan pesantrennya untuk shooting film Al Kautsar. Pak Harto meresmikan Pasar Klewer di Solo. Atau, ‘kuningisasi’ di mana-mana di Jawa Tengah di penghujung Orde Baru.

Kini bahkan semua kenangan itu bisa ditampilkan. Perang Dunia kedua kembali ditayangkan dengan teknologi pewarnaan gambar yang canggih, sehingga Hitler pun terlihat hidup ekspresinya. Demikian pun Mussolini, Churchill, dan seterusnya.

Dulu orang tak membayangkan, kelak tatanan dunia dapat dikacaukan oleh situs wikiLeaks, yang menunjukkan kepada dunia akan eksistensi kekuasaan “negara siber” (cyber-state) atas negara konvensional.

Apakah itu hanya sekedar interupsi sementara, seperti mengecambahnya diskusi post-modernisme awal 1990-an?

Tampaknya, itu hanya awal dari serangan-serangan lebih lanjut atas nama transparansi dan tatanan dunia yang lebih adil –bagi yang pro-pembocoran dokumen rahasia, tak hanya negara, tetapi juga korporasi.

Kita juga berada pada titik di mana perubahan kekuatan ekonomi dunia terjadi. AS bukan lagi super power dalam hal-ihwal ekonomi. Eropa sedang menggeliat, nilai Euro lebih tinggi ketimbang US dollar. Dan yang paling banyak dibicarakan orang adalah fenomena China.

China bangkit dengan paradigmanya sendiri. Ia mampu mengubah dirinya dari negara dengan jumlah penduduk terbesar yang miskin, menjadi yang paling produktif. Politiknya tidak bebas, justru untuk menggenjot ekonomi dengan membuat rakyatnya produktif.

China, bukan penganut ideologi Komunis yang terlalu taat, tetapi modifikatif. Bahkan wajah China kini, sudah demikian kapitalistik. Sejarah masa depan dunia, sangat menjanjikan bagi China sebagai kekuatan adidaya baru.

Selain China, orang juga dipertontonkan oleh fenomena India. Ekonominya juga sedang menggeliat. Juga Brasil, Rusia –ke dalam BRIC (Brasil, Rusia, India, China), dan katanya juga diperkirakan Indonesia, menjadi BRICI. Tapi, seberapa kencang sesungguhnya bangsa kita sedang berlari?

Soal menjawab pertanyaan awal tulisan ini, silakan baca buku-buku tentang “sejarah masa depan” alias futurologi. Salah satunya, misalnya, –tak apalah saya promosikan buku– The Extreme Future, karangan James Canton. Memang buku itu lebih banyak mengajak pembacanya mengantisipasi masa depan untuk kepentingan bisnis, tetapi, setidaknya ada satu pesan khusus bahwa kita akan segera memasuki dunia yang serba-ekstrem di masa depan.

Sejarah kita, peradaban kita, telah mengalami percepatan sedemikian rupa. Sejarah manusia, sudah demikian lama, menurut ukuran umur kita yang terbatas ini. Tetapi, kecanggihan teknologinya membuat kita jauh lebih maju dari peradaban-peradaban kuno yang ada.

Dari buku Susan Wise Bauer, The History of The Ancient World, yang sangat tebal itu, setidaknya tercatat bahwa perkembangan teknologi masa kuno, sangat tertatih-tatih. Memang muncul dan tenggelamnya suatu entitas kekuasaan tak lepas dari perang.

Tetapi, apabila kita bandingkan dengan teknologi perang masa kini, tentu jauh ketinggalan. Kita telah melewati fase mesiu, bahkan fase nuklir dalam revolusi persenjataan mutakhir (revolutionary of military affair). Daya hancurnya, juga sangat jauh mengerikan, efektif dan rata seketika.

Rumus baku kehancuran dunia, antara lain terletak pada apakah manusia mampu memanfaatkan teknologi canggih yang ada, diimbangi dengan antisipasinya. Kalau manusia gagal mengantisipasi dampak perkembangan teknologi, tentu akan terjadi percepatan kehancuran dunia.

Nilai-nilai dasar kemanusiaan akan selalu dihadapkan pada beragam bentuk respons perkembangan teknologi itu. Akan semakin berwajah manusiawikah kita ke depan? Ataukah kita akan, secara tak sadar, menjadi semacam mesin-mesin yang digerakkan –dan kehilangan jatidiri kemanusiaan kita?

Apakah capaian-capaian teknologi itu akan berbalik menjadi bumerang bagi wajah kemanusiaan kita?

Aku kira potensi untuk itu ada. Perkembangan teknologi dan segenap implikasinya dapat melipat potensi kemanusiaan kita. Aku tak tahu bagaimana mengantisipasinya, bagaimana menumbuhkan daya tahan kemanusiaan, menumbuhkan empati dan kebersamaan –ataukah akan ada caranya sendiri, ketika kemanusiaan tetap bertahan sedemikian rupa?

Silakan tanya ke ulama, ustadz, pendeta, pakar etika, konsultan moral, khotip-khotip mimbar jum’at, para dosen filsafat, dan seterusnya.

Tapi, mengapakah kemanusiaan, kita bawa-bawa? Karena manusia adalah sentralnya. Ia subyek sekaligus objek perubahan –teknologi. Maka, aku kira, tetap penting dan relevan peringatan Almarhum Soedjatmoko, bahwa dimensi manusia harus dikedepankan –dalam pembangunan, dalam perubahan peradaban. (sumber : antara)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.