Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

HMINEWS- Sikap tenang dan nerimo Sultan Hamengkubuwno X telah membuat rakyat berpihak ke Sultan tatkala Presiden SBY mencoba menghegemoninya dengan seluruh kekuatan  politik dan pesona serta pencitraannya. Sultan terkesan dizalimi, dikuyo-kuyo dengan  pernyataan SBY yang membenturkan demokrasi dan   monarki, padahal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bukan monarki dalam arti absolut, melainkan  tahta untuk rakyat. Tampilan Cikeas jadi kelihatan aslinya:  nafsu selalu ingin menang karena merasa perkasa. Belum puaskah SBY menerjang  warga DIY?

Lembaga Survei Indonesia (LSI) menilai Presiden SBY telah melakukan blunder fatal menzalimi Sri Sultan Hamengkubuwono X. “Sultan mendapatkan panggung serta popularitas sebagai tokoh yang dizalimi,” ujar peneliti senior LSI Burhanuddin Muhtadi ,Selasa (7/12/2010).

Menurutnya, dengan banyaknya opini publik terkait polemik RUU Keistimewaan Yogyakarta maka membuat Sultan Hamengku Buwono X mendapatkan panggung politik. “Seolah Sultan dalam 10 hari terakhir, Sultan tengah mendapatkan panggung. Dan ini semua karena blunder SBY sendiri. Tidak sampai 10 menit SBY menyampaikan kata-kata yang akhirnya membuat pamor Sultan saat ini meningkat,” ucap.

Menurut pengamat politik ini ada dua hal yang membuat SBY melakukan blunder yang fatal. “Yang pertama pada tanggal 26 November lalu SBY salah dalam sisi timing. Saat itu status merapi masih awas, warga Yogya belum sembuh benar, tiba-tiba SBY mengucapkan sesuatu yang dipandang menginjak harga diri.”

Lalu kedua, dari sisi strategi komunikasi SBY salah. Seolah SBY membenturkan antara demokrasi dan monarkhi, padahal monarki sendiri ada dua, tapi itu yang tidak dijelaskan SBY. Saat ditanya apakah popularitas Sultan diuntungkan dalam polemik ini, Burhanuddin Muhtadi sepakat dengan hal itu. “Ya tentu saja, perhatian masyarakat sekarang mengarah ke Sultan, opini publik juga,” ujarnya.[]dni/rima