Mantan menko perekonomian Rizal Ramli

HMINEWS- Mantan menko perekonomian Rizal Ramli menyatakan, untuk menyelematkan Indonesia, peranan agama menjadi sangat penting dan mendesak ditengah gawatnya kemiskinan dan korupsi  serta demokrasi kriminal di Indonesia. Kekuatan moral dan agama harus mampu menghentikan segala kejahatan korupsi dan  pelanggaran HAM di Indonesia agar integrasi nasional terjaga dan rakyat punya harapan akan masa depan mereka.

Selain Rizal, para tokoh agama dan masyarakat  madani  yang hadir dan berbicara adalah mantan Ketua PP Muhammadiyah dan anggota Pansel KPK Buya Ahmad Syafii Maarif,  Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, sesepuh NU Solehudin Wahid, Ketua PGI Pendeta Andreas Yewangu, Ketua KWI Mgr M Situmorang, Sekjen TII Tenten Masduki, Romo Benny Susetyo, advokat Todung Mulya Lubis, Ketua Institut Ecosoc Sri Palupi,  Bondan Gunawan, Prof JE Sehetapi, Moeslim Abdurrahman. Juga hadir,  Ray Rangkuti, Ton Abdillah Has, Stefanus Gusma, Herdi Sahrasad, Yeni Rosa Damayanti, Djohan Efendi, Trisno Sutanto, Adhie Massardi, Abdulrachim dan dialog dipandu pakar komunikasi UI, Effendi Gazali, tokoh-tokoh tersebut memaparkan sejumlah persolan bangsa yang menggelayuti Indonesia di bawah pemerintahan SBY.

Bertemakan “Negara, Korupsi dan Agama”, para tokoh tersebut membahas dari mulai soal kemiskinan, angka pengangguran, pelanggaran HAM, maraknya korupsi, hingga kasus-kasus terkini seperti Century, Krakatau Steel dan korupsi politik di  Gedung Konferensi Wali gereja Indonesia (KWI), Jakarta, Rabu (8/12/2010).

”Kita semua merindukan organisasi-organisasi agama kembali memainkan peranan seperti saat perjuangan kemerdekaan : menyatukan Indonesia yang saat ini mulai retak,  mengembalikan kekuatan idealisme dan nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah menguatnya demokrasi kriminal di Indonesia saat ini,” kata Gus Romli, panggilan akrab Rizal Ramli di kalangan NU dan kaum kecil.

Rizal Ramli menghimbau agar para tokoh agama dan masyarakat berani menyatakan kebenaran melawan ketidakadilan, korupsi dan pelanggaran HAM berat. Hanya dengan cara itulah,  bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang pantang menyerah, bermartabat, mampu mengubah potensi dan kreatifitas negatif menjadi kekuatan positif untuk kesejateraan rakyat dan kejayaan Indonesia.

Menurutnya, negara Republik Indonesia terdiri berbagai lapisan masyarakat dengan agama dan suku yang berbeda. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan, untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. ”Selama ini, potensi dan kreatifitas bangsa Indonesia yang besar, masih banyak tertumpu pada hal-hal yang negatif. Sudah tiba saatnya, potensi dan kreatifitas yang besar itu dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang posisif. Alangkah indahnya jika perubahan perilaku dan tujuan untuk berbangsa itu dapat terjadi,” mantan demonstran ITB yang dipenjara Orde Baru itu.

Rizal mengingatkan, pada masa perjuangan kemerdekaan, peranan agama-agama di Indonesia sudah terbukti sangat besar dalam mempersatukan rakyat Indonesia, memperjuangkan kemerdekaan, dan memberi makna kepada Republik yang baru merdeka. Perjuangan 10 November 1945 di Surabaya, yang berhasil mengusir pemenang Perang Dunia II Sekutu dari bumi Pertiwi, tidak lepas dari peranan organisasi agama yang nasionalis dan militan.

Saat ini, katanya, bangsa dan negara Indonesia dicengkram oleh kekuatan pragmatisme, kekuatan oligarki dan superioritas uang dalam setiap aspek kehidupan kenegaraan. Berbagai kasus korupsi, mega-skandal, kejahatan kerah putih dan pelanggaran HAM berat merupakan akibat dari dominasi pragmatisme dan kekuatan uang dalam kehidupan bernegara. Pisau hukum sangat tajam untuk rakyat biasa, tetapi sangat tumpul dan penuh rekayasa terhadap kelompok elit yang berkuasa.

”Cengkraman tersebut akan menjerumuskan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang selalu kalah, mudah menyerah dan gampang dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan luar, sehingga rakyat akan terus menderita dan Indonesia akan sulit bangkit untuk menjadi negara besar dan sejahtera,” ujar Rizal Ramli.[]RIMA/DNI