Pandangan Rakyat Afghanistan tentang Afghanistan

Karl F. Inderfurth dan Theodore L. Eliot Jr.
Washington, DC/Boston, Massachusetts – Kita selalu saja diingatkan pada kondisi suram Afghanistan sekarang, sebuah negara yang sudah sepuluh tahun dilanda perang dengan sebuah pemerintahan di Kabul yang kerap dianggap korup dan tak efektif. Tapi ada persepsi lain yang harus dipertimbangkan: bagaimana rakyat Afghanistan melihat situasi mereka sendiri saat ini.

Sebuah jajak pendapat baru-baru ini mengungkapkan bahwa banyak rakyat Afghanistan sebenarnya menilai ada banyak hal yang menjadi lebih baik – secara perlahan, namun memperlihatkan kemajuan meski ada banyak kendala. Survei ini adalah survei keenam yang dilakukan oleh The Asia Foundation Kabul sejak 2004, sehingga bisa memberikan sebuah potret opini masyarakat di Afghanistan dari waktu ke waktu.

Sebanyak 634 peneliti Afghanistan yang terlatih mewawancari 6.500 orang Afghanistan – dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuannya hampir setara, dan mencakup semua kelompok etnis – di 34 provinsi yang ada. Ketika pertempuran membuat sejumlah daerah tak terjangkau, digunakan sampel pengganti dari kawasan yang sama. Jajak pendapat ini dilakukan dua bulan sebelum pemilu parlemen bulan September lalu.

Hampir separuh dari yang disurvei (47 persen) mengatakan bahwa Afghanistan bergerak menuju arah yang benar. Angka sebelumnya adalah 38 persen pada 2008 dan 42 persen pada 2009. Dua puluh tujuh persen responden mengatakan bahwa Afghanistan tengah bergerak ke arah yang salah, menurun dibanding dua tahun sebelumnya. Tiga alasan utama dari optimisme ini adalah persepsi tentang keamanan yang lebih baik; proyek-proyek konstruksi dan pembangunan kembali seperti jalan dan jembatan; dan pembukaan sekolah untuk anak-anak perempuan. Lebih dari separuh dari mereka yang disurvei (54 persen) mengatakan bahwa mereka melihat sendiri adanya proyek-proyek semacam itu di daerah mereka.

Ini sebuah indikator dukungan yang penting: Rakyat Afghanistan melihat adanya perbaikan-perbaikan yang punya dampak langsung pada kehidupan sehari-hari mereka.

Pada saat yang sama, rakyat Afghanistan juga sangat paham akan tantangan-tantangan besar yang mereka hadapi. Ketidakamanan (serangan, kekerasan dan terorisme) diidentifikasi sebagai masalah terbesar oleh 37 persen responden, disusul tetap tingginya angka pengangguran (28 persen) dan korupsi (27 persen). Untuk korupsi, bahkan prosentasenya melonjak dari hanya 17 persen pada tahun lalu.

Meskipun ada tantangan-tantangan ini, survei tersebut menemukan bahwa tingkat kepercayaan pada banyak institusi penting Afghanistan tetap tinggi. Tentara Nasional Afghanistan memuncaki daftar dengan lebih dari 90 persen. Rakyat Afghanistan mengatakan bahwa tentara memperbaiki keamanan, jujur serta adil, tapi mereka masih belum profesional dan kurang terlatih. Tujuh puluh persen responden mengatakan bahwa tentara tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan dukungan pelatihan terus menerus dari pasukan asing.

Presiden Hamid Karzai menyatakan akhir 2014 sebagai batas waktu untuk tentara dan polisi Afghanistan untuk mengambil alih kendali dari pasukan AS dan NATO – berdasarkan jadwal yang disepakati pada pertemuan NATO di Lisbon minggu lalu.

Survei tersebut menunjukkan bahwa kepuasan terhadap pemerintah pusat secara perlahan terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, dan kini berada di angka 73 persen. Pencapaian yang paling sering disebut adalah sistem pendidikan yang lebih baik. Hasil ini ditopang oleh angka “di lapangan” – 7 juta anak, termasuk 2,5 juta anak perempuan, kini bersekolah; 90.000 lulus SMA tahun lalu. Survei tersebut juga menemukan banyaknya dukungan rakyat Afghanistan bagi upaya pemerintah Karzai untuk berekonsiliasi dengan Taliban dan kelompok oposisi bersenjata lainnya. Delapan puluh tiga persen setuju dengan upaya pemerintah untuk mengakhiri peperangan melalui negosiasi, naik dari hanya 71 persen pada tahun lalu.

Meski mereka jelas lelah dengan perang, rakyat Afghanistan juga meragukan motivasi dari mereka yang mencoba mengambil alih pemerintahan. Tingkat simpati pada kelompok pemberontak telah jauh menurun dari tahun lalu, dari 56 persen pada 2009 menjadi 40 persen pada tahun ini. Meski lebih banyak simpati dijumpai di selatan dan barat, di mana peperangan saat ini terkonsentrasi, survei menunjukkan bahwa semakin banyak orang Afghanistan di semua daerah yang tidak bersimpati pada para pemberontak sama sekali. Dua alasan utama yang disampaikan adalah bahwa mereka suka menindas dan membunuh orang-orang tak bersalah.

Akhirnya, 81 persen rakyat Afghanistan yang disurvei mengatakan bahwa mereka tetap setuju dengan prinsip demokrasi bahwa semua kelompok mempunyai hak yang setara untuk terwakili secara politik, termasuk kesetaraan jender dan kesempatan pendidikan yang setara bagi para perempuan.

Banyak dari temuan survei yang membesarkan hati ini tampak seperti bertentangan dengan pandangan banyak orang, jika melihat banyaknya berita-berita negatif dari Afghanistan. Tapi apa yang rakyat Afghanistan alami juga tanda-tanda perbaikan yang mereka lihat, dapat dianggap sebagai sebuah kemajuan. Mereka tidak berhenti untuk berharap bahwa negara mereka bisa menjadi lebih baik di masa depan. Komunitas internasional semestinya juga tidak.

###

* Karl F. Inderfurth, guru besar di Elliott School of International Affairs, George Washington University, dan dulu adalah Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk urusan Asia Selatan dari 1997 hingga 2001. Theodore L. Eliot Jr. adalah Duta Besar AS untuk Afghanistan dari 1973 hingga 1978 dan Dekan Emeritus Fletcher School of Law and Diplomacy, di Tufts University. Keduanya adalah anggota dewan pembina The Asia Foundation. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) seizin Khaleej Times.