Melawan Film-Film Tak Bermutu

Oleh : Ardi Winangun

HMINEWS- Di tengah bangkitnya perfilman Indonesia, ada sekelompok orang yang memanfaatkan hal tersebut untuk kepentingan sesaat dan hanya ingin meraih keuntungan semata. Sekelompok orang itu mendatangkan bintang-bintang film porno dari Jepang dan Amerika Serikat untuk bermain film di Indonesia. Akibatnya film itu hanya menampilkan kemolekan tubuh pemain tanpa ada muatan yang berarti dalam alur ceritanya.

Awalnya resistensi terhadap hadirnya bintang porno itu cukup kuat, namun lama-kelamaan bintang-bintang film porno itu bisa melenggang dan melakukan shooting di Indonesia. Ketika pertama kali Miyabi atau Maria Ozawa hendak bermain film di Indonesia, reaksi keras menghadang bintang film porno dari Jepang itu, datang dari berbagai kalangan. Hadangan itu bisa dikatakan berhasil. Namun entah kenapa selanjutnya bintang porno seperti Leah Yuzuki, Tera Patrick, Rin Sakuragi, dan Miyabi sendiri akhirnya dengan bebas dan leluasa shooting di Jakarta dan sekitarnya untuk pembuatan sebuah film.

Lolosnya bintang porno dan filmnya beredar di Indonesia, bisa jadi karena tidak tegasnya pemerintah Indonesia terhadap mereka. Tidak tegasnya pemerintah itulah membuat produksi film dengan melibatkan bintang porno akan terus mengalir. Produser berpikir paling-paling filmnya hanya akan diedit atau disensor namun tidak dilarang beredar sehingga hal demikian tidak menjadi masalah bagi mereka. Sebab masyarakat akan tetap penasaran melihat acting bintang porno itu.

Lihat saja akhirnya film yang dibintangi Miyabi, yang pertama, yang sebelumnya ditentang oleh beberapa pihak akhirnya bisa tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Film itu lolosnya meski ada perubahan-perubahan dalam alur film tersebut. Meski dalam film tersebut hanya menampilkan Miyabi dalam durasi 5 menit, namun film itu menunjukan bahwa bintang film porno bisa bermain dalam film Indonesia. Tampilnya Miyabi selama 5 menit rupanya menjadi pancingan bagi bintang-bintang film porno lainnya untuk bermain di film-film Indonesia lainnya.

Setelah menonton film itu, rata-rata penonton di Jakarta merasa kecewa, pasalnya film yang ditonton tidak seperti yang dibayangkan. Ungkapan kekecewaan itu dituangkan dalam situs jejaring sosial seperti twitter. Dalam twitter itu, seperti yang diberitakan dalam sebuah situs, menyebut “Dan, semua tertipuh… miyabi ga bakal buka2an alias cm dialog plus adegan opera sabun dg durasi 5 menitan di tokyo :p.” Ungkapan lain mengatakan “Menculik miyabi bukan film porno, hanya di perankan porn star saja..” Meski banyak mengecewakan penonton seperti tulisan di atas, namun produser tidak membuat mereka merasa bersalah.

Keinginan produser film yang hanya mengandalkan bintang-bintang film porno bila dibiarkan dilepas ke pasar selain akan merusak moral generasi muda, juga akan menyebabkan runtuhnya produksi film Indonesia yang sudah bangkit kembali. Bangkrutnya film-film Indonesia di tahun 1980-an, tidak hanya disebabkan maraknya televisi namun juga maraknya film-film yang tidak berkualitas.

Dalam sebuah kesempatan, Garin Nugroho menilai film-film Indonesia saat ini terlalu meremehkan penonton dengan dibuat dan dikemas seadanya sehingga membuat penonton bosan. Akibat dari itu membuat perfilman Indonesia lesu, sebab proses pembuatannya kebanyakan dilalui secara instan. Contoh dari buruknya film produksi Indonesia, diungkap sebuah blogspot. Blogspot itu mencatat ada 15 film Indonesia dengan judul terburuk, seperti Terowongan Casablanca, Pocong VS Kuntilanak, Mendadak Dangdut, Namaku Dick, Buruan Cium Gw, Ssst Jadikan Aku Simpanan, Mengejar Mas Mas, Anda Puas Saya Loyo, Maaf Saya Menghamili Istri Anda, Mas Suka Masukin Aja, Hantu Binal Jembatan Semanggi, Darah Janda Kalong Wewe Nafsu Pocong, Hantu Jamu Gendong, Suster Keramas, Hantu Puncak Datang Bulan.

Film-film yang hanya menonjolkan tubuh atau bintang film yang bermodal berani buka baju, menunjukan membuat film itu gampang, hal inilah yang mengakibatkan tercorengnya produser atau sutradara-sutradara yang hebat, pembuat film berkualitas. Padahal produser dan sutradara film berkualitas sudah susah payah membangun citra positif film Indonesia.

Bila demikian, bila pemerintah tidak bisa mencegah hadirnya bintang-bintang film porno ke Indonesia, maka biarlah rakyat yang mencegahnya. Ketika film Miyabi yang pertama beredar, di sebuah situs, diberitakan Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Malang menolak pemutaran film Menculik Miyabi. NU mengajak semua elemen masyarakat di Malang Raya untuk menolak pemutaran film tersebut di bioskop-bioskop di Malang. Alasan mereka menolaj film itu, menurut Sekretaris Pengurus Cabang NU Kabupaten Malang Abdul Mujib Syadzili sebab bintang dari film itu adalah bintang porno asal Jepang. Sehingga hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi generasi muda bangsa ini. Meskipun dalam film itu dikabarkan tidak menampilkan unsur pornografi, namun Abdul Mujib tetap berkeyakinan dampak negatifnya akan tetap terasa kepada generasi muda.

Hal demikian, seperti yang dikatakan Abdul Mujib itulah yang perlu dilakukan, sebab pemerintah terbukti tidak mampu menghentikan berbondong-bondonnya bintang film porno datang ke Indonesia sesuka hatinya.

Langkah lain yang perlu ditempuh untuk membangkrutkan film-film yang hanya menjual sosok bintang porno adalah mencerdaskan masyarakat. Saya tidak menyebut penonton film yang dibintangi film porno adalah masyarakat yang tidak cerdas, namun saya mengatakan bila semakin cerdas masyarakat maka secara otomatis masyarakat akan memilih film-film yang cerdas pula.

Memang kita akui produktivitas film Indonesia, baik secara kuantitas dan kualitas, jauh dibanding dengan Hollywood dan Bollywood. Meski demikian rendahnya produksi film Indonesia bukan berarti membuat kita membikin film seenak. Rendahnya produksi film Indonesia seharusnya menjadi peluang bagi produser film untuk membuat film yang bermutu. Dengan banyaknya film bermutu akan mengundang masyarakat berduyun-duyun datang ke bioskop untuk menikmati film Indonesia. Lihat saja ketika film Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Sang Pencerah, dan Ayat-Ayat Cinta tayang, jutaan masyarakat datang ke bioskop. Hal seperti inilah yang seharusnya menjadi pemicu produser untuk meraih keuntungan.

Film yang cerdas inilah yang akan mengalihkan perhatian masyarakat menonton film yang hanya mengandalkan bintang porno. Dan film yang cerdas ini pulalah yang membuat masyarakat secara tidak sadar akan mengabaikan film yang tidak bermutu.

Namun sayangnya pembuat film cerdas dan bermutu di Indonesia saat ini tengah kena imbas dari perselisihan Komite FFI (Festival Film Indonesia) terkait keanggotaan dewan juri FFI 2010. Dari imbas tersebut siapa sesungguhnya yang berhak menyandang pemenang menjadi kabur, dewan juri yang satu memenangkan memilih Alangkah Lucunya Negeri Ini dan 3 hati 2 Dunia 1 Cinta menjadi primadona. Sementara dewan juri yang lain memenangkan Sang Pencerah.

Perselisihan di tubuh Komite FFI ini tentu akan mengganggu kenyamanan pembuat film cerdas, sebab diantara mereka bisa saling mencibir dan memuji diri mereka sendiri. Mereka mencibir film yang dimenangkan dewan juri yang satunya dan memuji film yang dibuatnya sebagai film yang paling berhak menjadi film terbaik.

ardi_ winangun@yahoo.com