Harus Ada Terobosan Untuk Membuat Jera Jaksa Nakal

HMINEWS- Reformasi kejaksaan mestinya juga dimulai dengan langkah aktif penyelidikan internal untuk menjerat oknum jaksa yang yang terlibat praktik mafia hukum atau mafia kasus. Jika dijatuhkan sanksi berat terhadap oknum jaksa nakal itu, dua target besar bisa diwujudkan sekaligus, yakni menimbulkan efek jera dan meraih kembali kepercayaan publik. Demikian diungkapkan Anggota Komisi III DPR RI, Bambang Soesatyo.

Hanya dalam kasus Gayus Tampubulon saja, menurut Bambang, tergambar begitu nyata kebobrokan perilaku oknum jaksa yang menjadi anggota jaringan mafia hukum. Selain tawar-menawar pasal dakwaan, terjadi juga jual beli rencana tuntutan (Rentut). Pertanyaannya adalah apakah praktik kotor seperti itu hanya terjadi pada kasus Gayus?

”Kejaksaan memang telah menetapkan tiga pilar reformasi internal, meliputi reformasi sumber daya manusia, sistem operasional penanganan perkara dan upaya memulihkan kepercayaan publik. Saya apresiasi tiga pilar reformasi itu,” ungkapnya.

Namun sayangnya, menurut Bambang, pilihan pendekatan atas hal tersebut kurang agresif. Sebuah terobosan yang bisa menimbulkan efek jera amat diperlukan mengingat wajah kejaksaan begitu buram di mata publik.

Misalnya, Para pemerhati korupsi sering mempertanyakan kinerja para jaksa yang menangani kasus korupsi di pengadilan negeri Jakarta selatan. Muncul dugaan, para oknum jaksa merekayasa dakwaan sedemikian rupa sehingga majelis hakim bisa menjatuhkan vonis yang ringan atau membebaskan tersangka koruptor.

”Kecenderungan seperti ini tak pernah luput dari pengawasan publik. Karena itu, saya menghimbau Jaksa Agung lebih agresif dalam melakukan pembersihan di tubuh kejaksaan. Jangan lagi memberi toleransi bagi oknum yang sudah masuk perangkap mafia hukum. Bagaimana pun, kinerja kejaksaan menentukan hitam-putihnya citra kepastian hukum di Indonesia,” pungkasnya.[]dni