Rizal Ramli

HMINEWS- Mantan aktivis ITB Guntur Soekarnoputra secara tenang dan perlahan membisikkan kepada mantan menko perekonomian Rizal Ramli  agar berani membawa ekonomi nasional  kembali  ke kiri yakni kepada  keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat, sesuai  ekonomi konstitusi, ekonomi kerakyatan yang harus ditegakkan demii  daulat rakyat kembali .

” Ekonomi  Indonesia harus dibawa  kembali ke kiri sesuai konstitusi UUD 1945 yang diperjuangkan foundaing fathers,’ bisik Mas Tok, panggilan akrab Guntur Soekarno, putera sulung Presiden Soekarno, yang juga  kakak kelas Rizal  Ramli di ITB, dalam suatu percakapan mereka berdua.

Neoliberalisme telah membawa ekonomi nasional  ke arah kapitalisme yang terlalu kanan, arahnya sangat neolib dan menindas kehidupan rakyat kecil. Mas Tok sangat prihatin dan cahaya matanya sendu jika melihat nasib rakyat yang tidak berubah, bahkan memburuk akhir-akhir ini. ”Mas Tok (Guntur-red) menyampaikan pesan itu kepada saya sebagai amanah, kita terharu,” kata Rizal Ramli, mantan demonstran ITB yang dipenjara Orde Baru.

Sejauh ini para analis ekonomi-politikl  melihat, Kabinet SBY-Boed dinilai gagal oleh publik. Kemiskinan membludak,  korupsi merajalela, kesenjangan ekonomi makin tajam dan ekonomi rakyat kian marginal.Dalam hal ini, Presiden SBY harus melakukan reshuffle kabinet. Namun jika reshuffle itu hanya kosmetik politik dan minimalis serta tidak mengubah haluan Neoliberalisme ala SBY-Boed, maka reshuffle semu itu bakal membuat citra dan kredibilitas SBY-Boed  memburuk dan membusuk.

SBY-Boed harus sadar  bahwa berbagai demonstrasi  mahasiswa, buruh dan kaum tani sudah muak kepada mereka dan berbagai elemen purnawirawan TNI  pernah  mendesak MPR agar SBY dijatuhi impeachment sebagaimana usulan mantan Wapres Try Sutrisno dan para purnawirawan TNI kepada MPR beberapa  bulan llu.

Di bawah SBY-Boed, bangsa kita terus terpuruk, dimana golongan yang kaya makin kaya dan yang miskin kian miskin, dimana kerusakan sosial kian kronis, dimana korupsi makin akut. Republik Indonesia di era reformasi sudah tergelincir menjadi negara gagal (failed state) sejak skandal  BLBI, skandal Century , Krakatau Steel. Gayus dan mafia  pajak   dan seterusnys kian melilit, memperparah korupsi yang merajalela dan meluasnya kemiskinan di pedesaan dan daerah maupun kawasan urban.

Hal itu  disampaikan dalam refleksi sejumlah tokoh agama ketika  memperingati Hari Antikorupsi dan Hak Asasi Manusia Sedunia di Gedung Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Jakarta, Rabu (8/12). Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia Teten Masduki dan Ketua Institute for Ecosoc Rights Sri Palupi, juga tokoh agama yang hadir meliputi Ketua KWI Mgr Martinus D Situmorang, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Romo Benny Susetyo, Ketua Persekutuan Gereja Indonesia Andreas A Yewangoe, Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Salahuddin Wahid, mantan Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif, Ketua Komisi Hukum Nasional JE Sahetapy, dan Moeslim Abdurrahman. Selain itu hadir tokoh elemen masyarakat sipil Rizal Ramli, Djohan Efendi, T Mulya Lubis, Soetrisno Bachir, Ray Rangkuti, Bondan Gunawan,  Herdi Sahrasad dan Adhie Masardi .

Mereka semua menyerukan perlawanan terhadap korupsi, yang jelas  merupakan pelanggaran HAM.  Para tokoh agama dan masyarakat  mengecam rezim SBY-Boed  yang gagal total mewujudkan amanah reformasi.. SBY mestinya mawas diri dan tidah terus berkutat pada imagologi.

Para intelektual dan aktivis berpesan agar Rizal Ramli terus menjadi tokoh yang kritis dan berani, serta menjadi problem solver yang selalu mencari terobosan atas masalah ekonomi, sosial dan politik yang di hadapi republik ini. Demikian ditegaskan oleh Dr. M. AS Hikam (Mantan Menristek), Jurnalis Senior Aristides Katoppo, dan advokat senior Adnan Buyung Nasution dalam perayaan 56 tahun Dr Rizal Ramli di Cipete, Jakarta, (10/12) malam.

Para pengusaha menengah, tokoh buruh, politisi dan mahasiswa  serta aktivis lintas generasi  yang hadir malam itu, seperti  Guntur Soekarnoputro, Peter Octavianus, Rieke Diah Pitaloka, ekonom Fadhil Hasan,  Hendri Saparini, Lius Sungkharisna,Raxhmawati Soekarnoputri,  juga berharap sosok seperti Rizal Ramli punya kesempatan sejarah untuk berperan  besar dalam mengurai benang kusut masalah negeri ini.

Hikam, Buyung dan Tides, ketiganya  mantan aktivis mahasiswa pada zaman mereka, menilai Rizal yang akrab dipanggil  ‘Gus Romli’ di kalangan NU, suatu panggilan karib khas santeri, merupakan tokoh yang berani dan bertanggungjawab, yang sangat diharapkan rakyat untuk mengatasi kompleksitas masalah bangsa saat ini, dimana pemerintahan SBY-BOED dinilai gagal. Hikam menuturkan hari kelahiran Rizal selalu diperingati masyarakat seluruh dunia karena bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia (HAM), Jumat (10/12).[]rima