Oleh Zaim Saidi – Direktur Wakala Induk Nusantara

eric cantonaPara penggemar sepakbola tentu mengenal nama Eric Cantona. Ia menyeru dunia untuk melakukan sebuah Revolusi Sesungguhnya. Eric Cantona (lahir 24 Mei 1966 di Perancis) bukanlah pemain bola kelas kacangan. Ia, pemain bernomor punggung 7 (yang belakangan dipakai oleh David Beckham), mengakhiri karir bolanya di Manchester United, 1997. Cantona dinilai berperan penting bagi kebangkitan Manchester, selama kurun pertengahan 1990an. Maka, pada 2001, ketika dia telah pensiun ia didaulat sebagai “pemain abad ini”, dengan julukan “King Eric”.

Selepas dari bermain bola Eric banting setir bermain film dan teater. Pada 1998 ia membintangi film berjudul Elizabeth, bersama Cate Blanchett, dan tahun 2009 bermain untuk Looking for Eric. Tahun 2010 ia memulai debutnya sebagai aktor panggung, untuk lakon Face au paradis, yang disutradarai oleh istrinya sendiri, Rachida Brakni.

Sekonyong-konyong, menjelang akhir 2010 ini, Eric tampil sebagai aktivis sosial. Dalam sebuah wawancara dengan koran Nantes Presse Ocean, Oktober lalu, saat masyarakat Perancis melakukan serangkaian pemogokan nasional menentang rencana Presiden Nicolas Sarkozy untuk menaikkan usia pensiun, Cantona mempertanyakan efektivitas protes jalanan. Sebagai gantinya: ia mempromosikan sebuah revolusi melawan oligarki perbankan dan menyerukan agar semua orang untuk mengambil uang mereka dari bank.

Dia berkata: “Saya pikir kita tidak akan bisa sepenuhnya bahagia melihat penderitaan di sekitar kita. Kecuali Anda tinggal di bawah tempurung . Tapi kita memiliki kesempatan.. ada sesuatu untuk dilakukan. Saat ini apa artinya berada di jalanan? Untuk berunjuk rasa? Anda cuma menipu diri sendiri. Pokoknya, itu bukan caranya lagi.” Selanjutnya Eric menyatakan beberapa hal berikut.

“Kita tidak mengangkat senjata untuk membunuh orang untuk memulai sebuah revolusi. Revolusi hari ini benar-benar mudah dilakukan. Apa sistem yang bekerja saat ini? Sistem ini dibangun di atas kekuatan perbankan. Jadi, sistem ini harus dihancurkan melalui bank.”

“Ini berarti tiga juta orang dengan plakat mereka berada di jalanan, mereka pergi ke bank dan menarik uang mereka dan bank-bank niscaya akan runtuh. Tiga juta, 10 juta orang, dan perbankan pun akan runtuh dan tidak ada ancaman nyata apa pun. Sebuah revolusi yang seseungguhnya akan terjadi.”

“Kita harus pergi ke bank. Di sinilah akan ada revolusi yang sebenarnya. Ini tidak rumit, alih-alih turun ke jalanan dan mengemudi mobil berkilometer jauhnya, Anda cukup pergi ke bank di negara Anda dan menarik uang Anda, dan jika ada banyak orang menarik uang mereka, maka runtuhlah sistem ini. Tak perlu ada senjata, tidak ada darah, atau sesuatu seperti itu.”

Dia menyimpulkan: “Ini tidak rumit dan dengan begini mereka akan mendengarkan kita dengan cara yang berbeda. Serikat pekerja? Sekali-sekali kita harus mengusulkan ide-ide kepada mereka.”

Seruan ‘Revolusi’ Cantona – apakah ia maksudkan begitu atau tidak – terbukti telah merebak bagai virus. Sebuah kampanye internasional, yang dapat dilihat di situs http://Bankrun2010.com/, telah diluncurkan oleh Geraldine Feuillien, seorang penulis skenario Belgia, dan Yann Sarfati, aktor Perancis, sebagai upaya untuk mengkoordinasikan aksi ini dan membuatnya terjadi pada skala global.

Dalam kampanye ini diserukan agar setiap orang, di mana pun mereka berada, pada 7 Desember 2010, menarik dan mengeluarkan uangnya dari bank. Para pendukung kampanye ini menyatakan hampir semua penyakit di dunia, termasuk perang, kelaparan dan polusi, adalah akibat ulah perbankan. Dalam terminologi umat Islam, tentu saja, semua akibat permainan riba.

Dalam Siaran Pers-nya, Bankrun2010 menegaskan, bahwa mereka tidak bermaksud menyakiti siapa pun, tetapi bertujuan “menentang sistem yang korup, jahat dan mematikan.�” Aksi ini juga sama sekali tidak bertentangan dengan hukum apa pun. Sejauh ini masyarakat umumnya memang tidak mengerti bagaimana perbankan adalah sebuah sistem pat gulipat, penciptaan uang dari ketiadaan, yang mengakibatkan depresiasi mata uang yang terus-menerus, yang menimbulkan kemiskinan struktural – yang tak lain adalah perampokan yang dilegalisir.

Kalangan nonmuslim pun rupanya telah mengetahui sumber segala penyakit masyarakat saat ini. Tapi, hanya kitalah, kaum Muslim yang tahu obatnya. Maka, bagi masyarakat Indonesia, tentu saja, dapat mengambil langkah tambahan yang lebih cespleng dan menyembuhkan: mengalihkan hartanya menjadi Dinar emas dan Dirham perak. Dan untuk itu Anda juga tak perlu menunggu sampai 7 Desember 2010.[]rimanews