Buya Syafii Desak Tabloid Suara Islam Minta Maaf Atas Tuduhanya yang Tak Berdasar

HMINEWS- Perseteruan antara Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif dengan Tabloid Suara Islam, kembali berlanjut. Setelah melakukan jumpa pers, Buya meminta Tabloid bersangkutan untuk meminta atas artikel “Multi Accident Award” yang dinilai fitnah belaka. Akibatnya, banyak SMS yang berbau pertanyaan dan hujatan masuk ke HP Buya. Buya sendiri sangat menyesalkan tuduhan tak berdasar tersebut.

“Kami akan kirimkan surat agar Tabloid Suara Islam meminta maaf,” kata kuasa hukum Syafii, Todung Mulya Lubis, dalam jumpa pers di Gedung Mayapada, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (8/12/2010).

Namun sebelumnya, pihak kuasa hukum Syafii meminta Tabloid Suara Islam mencabut berita yang dianggap tuduhan tak berdasar itu.

Pemberitaan di artikel tersebut, dinilai Syafii sangat merusak dan mengganggu dirinya. Walau, oplah tabloid ini tidak seperti media lain, namun tabloid ini memiliki segmen mahasiswa.

“Maka akibat pemberitaan tabloid ini, banyak SMS yang masuk kepada beliau. SMS itu seolah-olah menyesalkan dan mempertanyakan, apakah benar Buya menerima suap Rp2 miliar. Itu kan tindakan yang sangat merugikan bagi beliau,” tutur Todung.

Dalam artikel Tabloid Suara Islam Edisi 101 halaman 13 tanggal 19 November-3 Desember 2010 yang berjudul “Multi Accident Awards”, Maarif disebutkan menerima apartemen mewas senilai Rp2 miliar dari Aburizal Bakrie.

Akibat menerima pemberian dari Ketua Umum Partai Golkar itu, Maarif dinilai menjadi bungkam dan tidak kritis lagi.

“Ini tidak benar. Dengan tegas bahwa rumor yang dimaksud dalam tabloid tersebut sama sekali tidak benar. Ini adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab serta merupakan bentuk fitnah, tindakan pencemaran nama baik, dan upaya pembunuhan karakter terhadap buya Syafii sebagai guru besar bangsa dan pejuang kemajemukan bangsa,” jelas Todung.

Selama di Jakarta, Syafii memang tinggal di sebuah apartemen di bilangan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Namun, apartemen itu bukan dari Aburizal Bakrie dan tidak pula bernilai Rp2 miliar.

“Apartemen itu tipe studio yang nilainya sangat jauh di bawah Rp2 miliar. Apartemen itu milik M. Deddy Julianto. Dia seorang pembina Maarif Institute dan tokoh gerakan tutup lumpur Lapindo. Itu dipinjamkan kepada Buya jika beliau di Jakarta,” tutup dia.[]rima/dni