SARLITO WIRAWAN SARWONO, Guru Besar Fakultas Psikologi UI

Oleh : SARLITO WIRAWAN SARWONO, Guru Besar Fakultas Psikologi UI

SEBAGIAN orang memang sering mengeluhkan Tuhan kita yang tak henti-hentinya memberikan cobaan kepada bangsa Indonesia: tsunami Aceh, gempa Bengkulu, gempa Yogya, gempa Padang, banjir Wasior, banjir Jakarta, letusan Merapi, Bromo, dan entah apa lagi nanti.

Banyak korban harta dan jiwa,baik manusia maupun sapi. Padahal bangsa ini sudah kurang apa loh ketaatannya kepada Tuhan. Kuota haji bertambah terus, belum termasuk haji gelap. Salat dan istigasah sering sekali digelar, tempat-tempat ibadah tidak pernah kosong, bahkan umat Kristen dan Ahmadiyah tetap saja ke tempat ibadahnya walaupun sudah digusur, dirusak, dibakar atau ditutup oleh umat lain. Adapun umat yang lain itu juga tidak pernah berhenti meneriakkan asma Tuhan Yang Maha Besar (Allahu Akbar) setiap kali mereka menumpas umat sesat atau sekadar berunjuk kekuatan ke Gedung DPR atau tempat-tempat maksiat. Pokoknya,semua orang Indonesia mengaku bertakwa kepada Tuhan masing-masing walaupun realitasnya mereka saling bertikai, bahkan berbunuhan.

Jadi mengapa Tuhan masih juga mencoba bangsa ini? Tapi saya tidak setuju dengan pendapat seperti itu.Buat saya bencana- bencana alam di bumi Indonesia dan seluruh dunia sudah di-blue print-kan Tuhan sejak sebelum Tuhan menciptakan Adam dan Hawa dan baru akan di-endingkan kalau kiamat nanti. Tinggal kewajiban manusialah untuk mempelajari baik-baik blue print itu untuk bisa mengantisipasi dan mengatasi bahaya yang mungkin timbul dan kita sudah melakukan antisipasi itu. Ketika Merapi masuk tahap awas misalnya,semua petugas sudah memperingatkan masyarakat untuk segera meninggalkan daerah bahaya. Bahkan petugas, dibantu relawan ikut mengevakuasi warga. Tapi ya itu, masih ada saja yang lebih percaya kepada Mbah Maridjan daripada tanda-tanda Tuhan (yang sudah diketahui manusia melalui ilmu).

Akibatnya ya itu, jatuh korban sia-sia. Indonesia tidak sendirian kalau soal bencana. Kebakaran di Florida, di Queensland (Australia), di Israel, banjir di Sydney, di China, gempa di Haiti,dan seterusnya.Pokoknya, kalau tentang bencana, Tuhan tidak pilih kasih. Jadi tidak usahlah kita repot mengait-ngaitkannya dengan dosa umat Islam Indonesia yang makin banyak, korupsi yang nggak berhenti-henti dsb. Di Amerika yang konon korupsinya hanya sedikit (minimal sebelum dibongkar Wikileaks),bencananya sama saja dengan Indonesia yang korupsinya sudah jadi rahasia umum sejak zaman panitia antikorupsinya Bung Hatta dan makin gamblang setelah kasus Gayus.

Saya malah lebih percaya bahwa Tuhan itu sangat murah hati kepada bangsa Indonesia justru karena ketakwaannya. Betapa tidak.Tatkala negara-negara lain diguncang kerusuhan dan pemecah- belahan seperti Yunani dan Turki atau resesi ekonomi (Amerika) atau bom-bom bunuh diri (Irak, Afghanistan), Indonesia relatif tenang.Malah sudah masuk forum negara-negara maju G-20. Indonesia tidak diganjar kudeta atau perang saudara oleh Tuhan seperti yang pernah terjadi di tahun 1948 dan 1965 (dua-duanya pemberontakan PKI yang ideologinya konon memang tak percaya sama Tuhan). Yang terjadi pasca-Orde Baru adalah justru yang diminta oleh bangsa Indonesia selalu diberi oleh Tuhan.

Bangsa Indonesia minta Suharto turun, ya Suharto turun beneran. Minta demokrasi sebagai pengganti tirani,Tuhan izinkan dengan pemilu legislatif serta pemilihan presiden dan kepala daerah langsung oleh rakyat. Bangsa ini minta otonomi daerah untuk memajukan daerah dan mengurangi korupsi di pusat, ya diberi. Minta kebebasan pers, dikasih. Minta polisi lepas dari ABRI dan TNI balik ke barak, stop dwifungsi, juga didapat. Minta presiden yang ganteng, bijaksana, sabar, cool, yang enak dilihat (oleh kaum ibu) waktu pidato, maka Tuhan memenangkan SBY.Bahkan Presiden AS dipilihkan oleh Tuhan (melalui Pemilu AS) yang ”orang Indonesia” sesuai dengan mimpi bangsa Indonesia (”Sate, baso…, enak,ya”).

Begitu baiknya Tuhan sama kita sehingga teroris yang mengatasnamakan dirinya sebagai pembela Allah pun tidak diberi peluang untuk bergerak.Beberapa tahun terakhir ini, sesudah tewasnya Noordin M Top dan Dulmatin, praktis Densus 88 bisa mengendus setiap gerak calon teroris sehingga berkali- kali tempat persembunyian dan rencana mereka terbongkar sebelum menjadi kenyataan.Densus 88 memang jempol. Tapi tidak mungkinlah semua itu tanpa rida Tuhan. Bandingkan saja misalnya dengan Pakistan, India, apalagi Palestina yang masih diancam teror terus sampai hari ini. Karena itu,kalau sekarang kita masih melihat banyak orang miskin, tawuran, pengunjuk rasa lempar-lemparan batu dengan polisi, Satpol PP dorong-dorongan dengan PKL,pilkada ribut,DPR studi banding,Bank Century masih gak jelas, jalanan macet, proyek MRT Jakarta macet juga, RUUK DIY ribut, dan seterusnya, ya kita harus lihat kesalahannya pada diri kita sendiri.

Saya teringat pada suatu hadis Nabi yang mengisahkan seorang sahabat masuk ke masjid hendak menunaikan salat bersama Rasulullah. Melihat bahwa unta sahabat itu dibiarkan begitu saja tanpa diikat, maka Rasulullah mengingatkan agar sang sahabat mengikat dulu untanya sebelum masuk masjid, agar unta itu tidak lari. Maka sahabat pun bertanya, ”Mengapa harus saya ikat, ya Rasul, bukankah Allah akan menjaga unta itu?” Jawab Rasullulah, ”Allah paling tidak menyukai umat-Nya yang hanya bertakwa kepada-Nya,tetapi tidak berusaha sebaik-baiknya” (para ikhwan yang hafal hadis, maaf kalau saya menulisnya kurang pas, maklum ilmu Islam saya cuma pas-pasan). Begitu juga dalam agama Kristen, setahu saya ada seruan dalam bahasa Latin ”Ora et labora” (berdoa dan bekerja).

Makna dari hadis dan seruan itu sama saja,yaitu kita tetap harus berusaha walaupun kita sudah bertakwa. Hasil dari usaha itu kita rasakan di sini, di dunia yang fana ini. Bukan di surga, sedangkan buah dari takwa dan doa bisa di sini, tetapi terutama untuk nanti di akhirat. Masalahnya, dalam bangsa Indonesia beragama (khususnya Islam), fokusnya terlalu ditujukan pada hasil akhir nanti di akhirat saja.Karena itu tausiah dan khotbah para ulama dan kiai (termasuk yang di TV) tidak jauhjauh dari nasihat-nasihat bagaimana caranya agar kita kelak bisa masuk surga, termasuk memperbanyak ibadah mulai dari salat malam sampai zikir.Nah,kalau kita ibadah terus,kapan kerjanya?

Padahal, untuk membuat tim nasional Indonesia menang atas Malaysia,Laos,dan terutama Thailand, misalnya,tidak cukup dengan doanya 220 juta rakyat Indonesia (yang selama ini sudah dilakukan, tetapi PSSI kalah terus),melainkan dengan menambahkan Irfan Bachdim dan Christian Gonzales ke dalam timnas melalui proses naturalisasi dan setelah itu berlatih keras dan memikirkan strategi yang paling cerdik. Sama halnya dengan timnas dayung yang meraih beberapa medali emas di Asian Games dan petinju Chris John yang mempertahankan sabuk emasnya. Semua demi mengibarkan sangsaka Merah Putih di angkasa internasional. Mereka semua berusaha, berlatih,dan berdoa.

Saya rasa, kalau semua orang mau sungguh-sungguh berusaha, tidak lagi cuma mau jalan pintas, tidak lagi percaya pada mitos ”100 hari” (kalau gagal, ganti pejabat), meninggalkan UUD (ujung-ujungnya duit),meninggalkan kebiasaan debat-kusir yang hanya mau menang sediri dan berusaha agar selalu satu kata dengan perbuatan, insya Allah Indonesia akan lebih cepat mencapai masyarakat yang adil,makmur,dan sejahtera,bukan hanya nanti di akhirat, tetapi juga sekarang di tanah air kita.Robbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina adzabannar. Amin YRA. (sumber : SI)