Refleksi Tahun Baru Hijriah: Mari Hijrah dari Budaya Korupsi

Oleh: Ihsan M Rusli

Bung Hatta ketika didaulat oleh Pemerintah Orde Baru memberantas korupsi di awal tahun tujuh puluhan, memberikan komentar bahwa korupsi sudah menjadi budaya di negeri ini. Pernyataan proklamator yang hidupnya bersih dan sederhana itu menjadi pelajaran bagi kita bersama bagaimana sulitnya memberantas korupsi di negeri yang mayoritas warganegaranya beragama Islam.

Jadi, ada semacam anomali yang luar biasa dan itu juga dialami oleh negara-negara di mana pemeluk agama Islam begitu dominan. Tidak adakah kontribusi agama (Islam) dalam mendidik umatnya untuk menjadi warga yang jujur, bersih dan tidak korup? Padahal kalau kita berbicara mengenai Islam sebagai nilai ideal, tidak ada satu pun tuntunan yang membolehkan perilaku korup yang dikatagorikan sebagai dosa besar. Mengapa korupsi menjadi budaya di tengah maraknya syiar keagamaan?

Banyak sekali keganjilan-keganjilan yang berkembang di negeri ini yang menabrak logika sehat kita dan itu sudah menjadi rahasia umum. Terlebih lagi, budaya korupsi menjadi bagian yang paling sulit untuk dipisahkan dari kehidupan kita sebagai bangsa. Indeks persepsi korupsi Indonesia tetap bertahan di angka 2,8 yang menempatkan Indonesia sebagai negara paling korup di Asia Pasifik dan lima besar paling korup di dunia. Sebuah ‘prestasi’ yang terus menerus dipertahankan dari tahun ke tahun.

Nilai-nilai agama ternyata hanya bergaung di dinding-dinding masjid dan tempat-tempat pengajian. Ratusan ribu jemaah haji setiap tahun pulang dari Tanah Suci, masjid-masjid penuh sesak ketika Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Kurban serta hari besar keagamaan lainnya. Tapi, gambaran itu tidak serta-merta memberikan jaminan akan perilaku dan tindak-tanduk sehari-hari. Korupsi tetap merajalela, sogok-menyogok ditemui dengan mudah di semua lini, prestasi dicapai dengan jalan pintas melalui uang, hukum diperjualbelikan dengan gampang, dan berbagai dosa struktural dilakukan secara masif.

Menuju Terang

Dalam konteks yang nyaris sama, Rasulullah SAW ketika berdakwah di Mekkah, kota kelahiran dan tumpah darahnya, menemukan hambatan dan rintangan yang sangat sulit dan nyaris mengorbankan nyawanya. Mengubah masyarakat jahiliyah yang mempunyai budaya gelap dalam semua lini menjadi budaya terang, bukanlah pekerjaan mudah. Itu adalah pekerjaan maha berat yang hampir merontokkan stamina dan daya tahan Rasulullah serta kaum muslimin yang waktu itu masih berjumlah sedikit.

Oleh sebab itu, hijrah adalah suatu keniscayaan yang harus ditempuh. Pengertian hijrah di sini mempunyai dua makna. Pertama, berpindah dari situasi sulit yang penuh intrik dan tidak kondusif menuju ke situasi yang kondusif dan penuh dukungan. Kedua, meninggalkan seluruh atribut-atribut kejahiliyahan menuju ke suatu masyarakat madani yang jujur, penuh rahmah, berkah, dan egaliter.

Jadi, memaknai Tahun Baru Hijriah dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini merupakan momentum yang tepat bagi seluruh anak bangsa. Yaitu, meninggalkan budaya jahiliah berupa budaya korupsi, menuju masyarakat yang jujur dan anti korupsi. Di sinilah makna hijrah menemukan momentumnya yang tepat. Perubahan dari sesuatu yang gelap menuju sesuatu yang bersih dan terang benderang.

Kita memerlukan lompatan besar hijrah di semua lini dan sendi kehidupan karena sudah demikian kentalnya kadar ‘kejahiliyahan’ kita. Lompatan besar itu harus dimulai dari mengubah paradigma yang parsial menuju paradigma kaffah bahwa apa pun bentuk perbuatan tidak terlepas dari nilai-nilai ilahiah.

Jadi, paradigma lama yang berkembang di tengah masyarakat bahwa ‘shalat tetap taat tapi maksiat jalan terus’, harus diubah menjadi ‘shalat taat, maksiat nihil’. Itulah yang harus jadi komitmen bersama seluruh anak bangsa. Karena, pada prinsipnya setiap yang menegakkan shalat dengan benar maka konsekuensi logisnya tercegah dari kebatilan. Ini jaminan dari Allah SWT.

Dan, ini juga menjadi semacam evaluasi jujur bagi kaum muslimin di negeri ini, kenapa shalat yang dilakukan tidak membuahkan hasil berupa tercegahnya kita dari budaya korupsi? Ada apa dengan shalat-shalat kita?

Setelah Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah maka Rasulullah membangun sebuah peradaban terbaik yang pernah ada di muka bumi. Menjadi teladan dan buah bibir bagi kaum muslimin setelahnya. Di sinilah nilai-nilai ilahiah benar-benar diimplementasikan dengan sungguh-sungguh. Kaum muslimin, baik yang dari Mekah disebut muhajirin maupun yang asli Madinah disebut anshar, bersatu padu menjadi umat terbaik dengan menjadikan kebatilan sebagai musuh bersama dan berlomba-lomba dalam kebajikan meraih ridha Allah. Bukankah kebatilan sangat jelas batasnya begitu juga dengan kebajikan dan tidak ditemukan sikap ambivalen dalam kehidupan waktu itu.

Semangat berhijrah inilah yang harus kembali dihidupkan oleh seluruh anak bangsa saat ini yang sedang terpuruk dalam banyak kegelapan. Marilah kita berhijrah dari budaya korupsi yang gelap menuju budaya yang jujur, bersih, akuntabel di semua lini kehidupan kita.

Harus selalu dihembuskan dalam sanubari kita, juga kepada generasi yang lebih muda bahwa korupsi itu adalah dosa besar yang dilaknat Allah sama dengan dosa-dosa besar lainnya seperti membunuh, berzina, mengkonsumsi narkoba dan sebangsanya. Dan, hal itu semua harus kita enyahkan dalam kehidupan kita sebagai bangsa.

Sebelum terlambat maka marilah kita bersegera berhijrah menuju masyarakat madani yang jujur dan bersih.[]rimanews

_______________________________

Penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal
DPP Ormas MKGR. dosen STIE Maiji, Jakarta.