Facebook, Twitter dan perubahan di Timur Tengah

Oleh : Arianna Huffington

Los Angeles, California – Kita semua tahu kalau internet telah dimanfaatkan dalam banyak cara untuk menyebarkan terorisme – situs-situs terkait Al-Qaeda, video-video perekrutan, unggahan-unggahan video terbaru Osama Bin Laden, dan manual daring tentang cara-cara membuat bom. Al-Qaeda dan para simpatisannya adalah pemakai awal jejaring internet dan telah menggunakan kemampuan internet menghubungkan orang-orang untuk sesuatu yang merusak.

Tapi, sebuah tren baru muncul: Timur Tengah semakin saling terhubung dengan internet. Akibatnya, kita sekarang bisa mengalihkan pembicaraan dari tentang dampak teknologi dan media sosial pada teror, ke tentang dampaknya pada perdamaian.

Inilah salah satu topik yang dibahas pada sebuah konferensi yang saya hadiri baru-baru ini di Abu Dhabi. Hingga kini saya sudah menghadiri banyak sekali konferensi teknologi, tapi saya jarang melihat antusiasme dan optimisme seperti yang saya saksikan dalam konferensi Sir Bani Yas, yang diselenggarakan oleh Sheikh Abdullah bin Zayed, Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, dan International Peace Institute. Para pesertanya termasuk Salam Fayyad, Perdana Menteri Palestina; Amr Moussa, Sekretaris Jenderal Liga Arab; dan para pejabat tinggi dari Yordania, Palestina, Malaysia, Pakistan dan Bahrain.

Ketika saya berbicara pada malam kedua konferensi itu tentang bagaimana menggunakan media sosial untuk mendorong perdamaian dan keamanan di Timur Tengah, saya dikejutkan oleh betapa ternyata banyak pemimpin Arab yang hadir berkemauan untuk semakin memanfaatkan alat-alat sosial baru.

Di antara mereka adalah Khalid Alkhalifa, yang menyebut dirinya di Twitter sebagai “Diplomat, duta besar, Menteri Luar Negeri Bahrain, pembaca, petualang buana, orang berselera tinggi.” Ia adalah seorang pengguna Twitter yang rajin, yang telah menguasai seni mengakrabi para pengikutnya di Twitter.

Pada saat makan malam, Menteri Luar Negeri Yordania Nasser Judeh mengatakan pada saya tentang wawancara langsung lewat Twitter yang ia adakan musim panas ini, di mana ia meladeni pertanyaan – banyak di antaranya memang sudah diatur – dari para pengikutnya di Twitter. Tentu, Ratu Rania telah kesohor dalam menjadikan Facebook, YouTube dan Twitter – di mana ia mempunyai 1,3 juta pengikut – sebagai bagian penting dari repertoar komunikasinya. Awal November lalu, ia bertutur di Twitter, “Teknologi bukanlah cuma sebuah kemewahan bagi negara maju; tapi juga sebuah alat penting bagi negara berkembang” – sebuah pernyataan yang menggemakan penegasan pendiri Twitter Biz Stone bahwa “Twitter bukanlah sebuah kemenangan teknologi, melainkan sebuah kemenangan kemanusiaan.”

Pemerintah, organisasi non-pemerintah, kelompok dan individu di seluruh kawasan memanfaatkan panggung sosial di internet untuk mempengaruhi masyarakat mereka – secara politik, kultural dan sosial.

Di Yordania, anak-anak muda berkirim pesan teks, bermain Twitter, dan menggunakan Facebook dan YouTube untuk menarik perhatian pada isu-isu lingkungan. Ini adalah sebuah keprihatinan di seluruh kawasan. Alkhalifa baru-baru ini bertutur di Twitter, “UEA, Qatar, Bahrain termasuk pencemar lingkungan terburuk di dunia.”

Di Mesir, anak-anak muda menggunakan media sosial untuk mengungkap kebrutalan polisi dan mencoba membuat pemerintah bersikap jujur. Pertengahan November, Mesir menggelar babak pertama pemilu parlemen. Pemerintah menolak untuk mengizinkan peninjau dari luar negeri untuk ikut mengawasi jalannya pemilihan. Tapi situs U-Shahid.org mencoba mengisi kekosongan dengan menghimpun laporan warga tentang masalah-masalah pemilu. Warga Mesir bisa melaporkan kecurangan-kecurangan pemilu lewat email, Twitter (hashtag #USHAHID) dan pesan teks, yang dilacak oleh U-Shahid melalui sebuah peta interaktif. U-Shahid.org mempunyai 125 relawan yang mengerjakan proyek ini.

Di tempat lain di Mesir, sebuah proyek baru diarahkan untuk mendaftar para perempuan yang mendapat pelecehan di jalan-jalan Kairo, yang menjadi sebuah masalah besar di sana: 83 persen wanita Mesir mengatakan pernah mendapatkan pelecehan seksual. HarassMap adalah sebuah situs baru yang membantu para perempuan untuk secara anonim melaporkan pelecehan melalui Twitter, Facebook, email dan sms. Situs ini berharap dapat memetakan tempat-tempat di Kairo di mana pelecehan banyak terjadi, lalu melakukan upaya penyadaran masyarakat di tempat-tempat itu.

Di Lebanon, Social Media Exchange melatih orang-orang untuk menggunakan media sosial guna mengembangkan proyek-proyek seperti Building a Culture of Peace, yang diarahkan untuk mendidik para aktivis muda Lebanon cara menyelesaikan konflik.

Dan di seluruh Timur Tengah, anak-anak muda mengunduh Mideast Youth iPhone App, sebuah aplikasi yang menyatukan apa yang anak-anak muda di kawasan ini katakan di Twitter, Facebook, Friendfeed dan berbagai situs populer. Di antara fitur-fiturnya: feed berita Timur Tengah, komentar Twitter terbaru dari kawasan ini, podcast anak muda Timur Tengah, dan daftar grup HAM di Timur Tengah yang ada di Facebook.

Harapan terbaik kita untuk perubahan di kawasan ini bukan lagi dalam bentuk tekanan terhadap pemerintah mereka dari pemerintah kita, yang sudah terlalu sering gagal. Jika perubahan fundamental terjadi, itu akan terjadi dari bawah – dan media sosiallah yang menjadi penyulut perubahan.

###

* Arianna Huffington adalah pemimpin redaksi dan salah satu pendiri The Huffington Post, kolumnis nasional dan penulis 13 buku. Artikel ringkasan ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) seizin The Huffington Post. Tulisan lengkap bisa dilihat di www.huffingtonpost.com.