Jangan menganggap aku mati

Jangan menganggap aku tidak ada

Aku diam bukan tidak bicara

Aku diam bukan tidak jijik

Ketahuilah;

Aku diam untuk berkata

`Aku diam untuk melawan

aku adalah belati buatmu

aku adalah senjata pagi keadilan

aku adalah senjata pemusnah massal

senjata pemusnah kezaliman

maka ingatlah

berhati-hatilah engkau

(Bahtiar)

Bahtiar Ali Rambangeng

HMINEWS- Prilaku Politik sebagain elit di Indonesia tidak ubahnya seperti predator-predator. Predator yang kita kenal sebagai makhluk bringas, menakutkan karena hidup dengan memangsa dan memakan daging sesamanya alias kanibalistik. Secara terminologis dan ontologis eksistensial predator dan Manusia sangatlah berbeda, predator adalah bintang dengan memangsa binatang lainnya sementara Manusia memakan nasii untuk melanjutkan kehidupannya.

Anak-anakpun tahu dan akan mampu membedakan antara Predator dan Manusia, Tetapi kalau kita meninjau secara subtansial axiologis makna “Predator”, maka kita akan menemukan makna dan mengatakan Manusia juga ada yang bersikap, berfikir dan menjalani kehidupannya sama sekali tak jauh berbeda dengan para Predator-predator. bahkan Manusia bisa lebih kejam dari para Prodator prilakunya secara ontologis eksistensial. Di dalam Islam, Alqur’an secara terminologis axiologis mengatakan,”Aspalah safiliin”,Manusia bisa lebih rendah dari binatang alias  lebih hina dari Predator”.Kenapa Islam sebagai agama rahmatan lil alamiin secara tegas menyatakan, manusia bisa lebih hina dan lebih Predator dari Predator.  Secara garis besar kita bisa membedakan dan menemukan persamaan Manusia dengan para Predator.

Yang membedakan Manusia dengan Predator. Predator sebagai Mahluk yang tak memiliki akal untuk menalar, sementara Manusia memiliki ciri khas sebagai makhluk yang berfikir atau berakal akal(cogito istilah cartesian). Predator melakukan aksinya dengan mengorbangkan sesamanya alias namakangi, nacaruarai, rakus dan balala,memakan sesamanya. Sementara Manusia memakan sesamanya dengan cara-cara strategis aqliyah, Manusia sebagai mana istilah Thomas Hobbes, “homo humini lupus “, Manusia adalah serigala bagi sesamanya, Manusia akan memangsa sesamanya. Apa yang dikatakan Hobbes(filosof yang terkenal dengan konsepnya kontrak politik) memang benar adanya. Kalau kita berkaca dengan melihat fenomena perilaku politik kaum elit dalam negara yang menganut sistem demokrasi liberalis yang hampir kelihatan pantatnya .

Indonesia dengan sistem demokrasi justru menjadi ruang yang sangat fulgar, erotis, anarkis, narsistis bagi politisi dengan watak predator. Kasus yang paling seksis terakhir ini adalah bencana disambut perjalanan Panggaar anggaran ke Yunani untuk belajar etika politik, Mana bisa akan menghasilkan perilaku politik yang berwibah dan humanis, kalau keberangkatannya saja para legislator kita sudah melakukan pelanggaran etika politik? Mana bisa belajar etika politik kalau saudara-saudar yang telah memberinya amanah para legislator, dia tinggalakan disaat mereka dalam keadaan berduka itupu dengan menghabiskan uang mereka dengan cara-cara yang sangat tragis? Sejak awal persiapan keberangkatan para legislator kita sudah tidak bernurani,  secara otomatis pasti pulang dengan membawa senjata pemusnah massa, pemusnah uang rakyat ilmu menjadi predator handal untuk membuat kebijakan memakan semua uang rakyat.

Disisi lain, Kasus Gayus Timbunan yang membobol benteng  Takesi ala Indonesia. Penjarah Cipinang, bobol total dengan senjata plus alias uang pemulus jalan. Para polisi sebagai pengaman negara untuk melindungi rakyat telah dibeli kehormatannya, rasa kemanusiaannya, rasa keadilannya. Dan memperdagangkan kehormatan negaranya. Polisi telah memberi jalan pada tuannya keluar penjara karena diberi mainan kacil yang bernama uang. Tidak salah ada kalau ada ungkapan yang mengatakan,“god is many”,uang adalah segalanya, uang adalah raja dan bahkan uang adalah tuhan itu sendiri, uang telah menjadi baru bagi elit dan konglomerasi untuk melanggengkan perselingkuhan predatorisme sebuah perselingkuhan sensualis dan anarkis bagi rakyat kecil dan bagi keadilan.

Gayus hanyalah salah satu pertontonan untuk menghibur pelaku demokrasi yang lagi mabuk oleh lagi-lagu syahdu syaetaniyah. Lagu indah, merdu tapi membawa malapetaka atas tatanan hukum dan sakralisasi instisusi POLRI. Gayus adalah simbol yang jadi refresentasi penyimbolan predator lainnya. Masih banyak Gayus lainnya yang menjadi contoh jauh sebelum Gayus menempuh jalur lompat pecara dengan pesawat uang.

Kriminalisasi KPK, KPK Vs POLRI, Cikak Vs Buaya menjadi salah satu catatan hitam bagi lembaga negara, pemerintahan SBY-Boediyono(2009-2014) di Indonesia. Kasus KPK Vs POLRI alias Cikak vis a vis dengan buaya merupakan catatan buram untuk bagi tegakkannya hukum untuk memberantas “Para koruptor dengan topeng senyuman dan kesantunan. Kasus yang menimpa peperangan antar dua institute POLRI dan KPK menandakan lemah dan  runtuhnya integritas hukum di negeri ini yang mengatasnakan diri sebagai negeri beragama, negeri yang menganut asas-asas demokrasi, trasnparasnsi, akuntabilitas, partisipatis dan humanistik. Omong kosong semuanya”!.

Demokrasi telah dibeli, demokrasi telah laku, demokrasi telah berpulang kerahmatullah atas prilaku kaum kanibalisme, kaum predator. Meraka telah memangsa, mempertahankan dan membela kepentingannya lalu mengorbankan kepentingan dasar masyarakat. Di hampir semua sektor, Predator dengan wajah Manusia elitis, manis,gagah dan cantik telah melakukan kriminalisasi demokrasi, krominalisasi KPK, kriminalisasi dengan pemutaran lagu guyangan Dewi Persik, Inul dara cinta. Itulah wajah buram demokrasi Indonesia di tangan politisi yang berwatak sama dengan Predator bahkan bisa lebih bengis dari para Predator dengan adanya senjata akalnya untuk membodohi rakyatnya.

Bahtiar Ali Rambangeng

Pemerhati Masalah Demokrasi