Berburu. Apa yang diburu? Hewan? Jangan salah. Kelompok anak muda yang satu ini punya makna yang berbeda untuk kata ‘berburu’. ‘Berburu’ bagi anak muda ini artinya ‘berbudaya itu seru!’ Mereka berbagi hal-hal positif seputar berbudaya untuk kelak disebarkan ke anak-anak usia SD.

“Ya selamat pagi teman-teman semuanya, kita sudah mau mulai acara pertemuan Berburu. Terima kasih sekali sudah mau datang, pagi-pagi di Kota..”

Berburu? Apa yang diburu?

“Berburu binatang, berburu ke hutan, mungkin kegiatan pecinta alam, atau mungkin kegiatan anak-anak pendaki gunung yang mau berburu ke hutan, aaah mungkin itu istilah saja untuk kegiatan lainnya,” kata Citra.

Citra Anisyah adalah mahasiswa Fakultas Psikologi, yang pagi-pagi itu sudah ada di kawasan kota tua Jakarta. Di Museum Bank Mandiri ini tengah diadakan pelatihan relawan baru untuk komunitas berburu. Tapi, apa yang diburu?

‘Berburu’ yang dimaksud di sini adalah singkatan dari ‘berbudaya itu seru!’ Relawan berburu mengajarkan supaya anak-anak bisa membangun budaya yang positif, seperti menaati peraturan, mengantri, membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya.

Citra tertarik ikut jadi relawan berburu. Juga 20-an peserta lainnya yang menjadi calon relawan.

Karena sasarannya adalah anak-anak, maka budaya harus diajarkan lewat permainan. Dengan begitu, anak-anak tak merasa digurui, ketika diperkenalkan dengan budaya tertib, menghargai orang lain, gemar membaca, mencintai lingkungan dan warisan budaya Indonesia. Misalnya lewat permainan, tebak-tebakan dan diskusi kelompok. Ketua Program Komunitas Berburu Orissa Anggita Rinjani mengatakan, cara mereka umumnya tak dipakai di sekolah.

http://www.kbr68h.com/images/stories/Saga/berburu_saga.jpg

“Misalnya kita bagi 2 kelompok. Apa yang bisa dilakukan dan tidak boleh dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan, nanti kita minta mereka untuk klasifikasikan itu. Tapi bentuknya permainan. Lalu lomba desain logo untuk mencintai lingkungan. Misalnya himbauan kepada orang menanam pohon, jangan buang sampah sembarangan atau kurangi penangkapan ikan dengan bom. Cara seperti ini akan lebih menarik, karena ada pelibatan langsung anak-anak. Lalu yang menang nanti hasil gambar mereka kita cetak deh jadi stiker. Ada apresiasi juga buat mereka,” papar Orissa.

Siang itu ada 25 orang yang hadir mengikuti pelatihan bagi relawan Komunitas Berburu. Dibagi dalam 5 kelompok, yang masing-masing punya satu tema untuk didiskusikan dan dipresentasikan bersama. Yaitu, bagaimana cara mengajarkan budaya dengan seru. Di kelompok 4, ada Alabanyo Brebahama, calon relawan Berburu.

Banyo punya cara seru mencintai lingkungan dan melestarikan satwa yang terancam punah kepada anak-anak.

“Contoh paling gampang, kebetulan pernah dongeng tentang gajah Sumatera yang ada simulasi, gajah Sumatera itu sulit cari makan.Ya istilahnya, kalau kamu punya rumah digusur mau gak? Gajah punya rumah digusur, bingung kan mau tinggal di mana? Solusinya jangan bangun rumah di tempat  Gajah, bangun rumah di lokasi yang benar atau mungkin berbagi tempat,” ungkap Banyo.

Istilah detektif dipergunakan sebagai sapaan akrab kegiatan berburu, termasuk relawan dan anak-anak.

Permainan jadi pintu masuk belajar di aktivitas ‘berbudaya itu seru!’. Selain menyenangkan buat anak-anak, permainan juga merekatkan calon relawan baru yang baru saat itu saling kenal.

Vero adalah siswi kelas lima di SD Selong I Pagi Jakarta Selatan. Saban Sabtu, ia rela pulang lebih siang untuk belajar apa itu berbudaya.

“Bermainnya seperti tebak-tebakan, ada pertanyaan, lalu nanti kita yang menjawab bentuk kelompok-kelompok, ada kelompok A, B, C. Nanti kita menjawab dan dapat point kak,

Misalnya buat apa kita berbudaya? Karena berbudaya itu menjaga kesatuan, terus untuk apa kita harus saling menghargai sesama, kita itu tak boleh mengejek,” papar Vero.

Vero masih ingat betul kegiatan senam yang selalu dilakukan setiap kegiatan berburu dimulai. Tangannya sigap bergerak ke depan dan belakang, sembari menghentakkan kaki ke lantai.

Joseph Pesah Obednego juga rutin ikut kegiatan berburu selama 4 bulan berturut-turut di sekolahnya, sepanjang pertengahan tahun lalu. Siswa kelas 6 di sekolah yang sama ini mulai menerapkan budaya yang diperolehnya dari Komunitas Berburu, dalam kehidupan sehari-hari.

Joseph juga mulai belajar menghargai perbedaan dan tak menganggapnya sebagai masalah.

Komunitas Berburu ada sejak 2007 silam. Awalnya bernama Jakarta Butuh Revolusi Budaya. Yang menyatukan 15-an anak-anak muda ini adalah kekesalan terhadap Jakarta yang semrawut. Mulanya, unek-unek ditumpahkan lewat blog, yang berisi tulisan seputar kekacauan Jakarta. Lama kelamaan, mereka bersepakat untuk sama-sama memperbaiki Jakarta lewat kegiatan yang lebih berbudaya. Ketua Komunitas Tasa Nugraza Barley bercerita, dari situ mereka memulai dengan konsep ‘berburu’: berbudaya itu seru.

“Kan sudah banyak organisasi yang  memberikan bimbingan belajar, kayanya udah biasa gitu, sementara kita ada unsur budayanya kita cantumkan di situ. Akhirnya kita berpikir bersama gimana kalau kita bikin program yang berbeda dan berguna bagi anak-anak agar berbudaya. Berburu, itulah programnya,” tambah Tasa.

Targetnya adalah anak-anak usia Sekolah Dasar. Alasannya, mereka masih bisa dibentuk kepribadiannya, juga perilakunya. Belum terlambat. Karena keterbatasan relawan, Komunitas Berburu baru mengajarkan aktivitas berbudaya ini ke satu sekolah, yaitu SDN Selong I Pagi. Sekolah tersebut dipilih lantaran lokasinya dekat dengan rumah dan tempat kerja para relawan.

Salah satu guru SDN Selong I Pagi Sri Sulasmi sudah merasakan dampak positif kegiatan berburu di sekolahnya. Selama 4 bulan, komunitas anak muda ini ikut menempa anak-anak didiknya menjadi lebih tertib, juga lebih berani mengungkapkan pendapat.

“Banyak positifnya untuk anak-anak, yaa sesuai dengan singkatannya itu Berburu “Berbudaya Itu Seru” Jadi menambah wawasan budaya untuk anak-anak dan juga menambah pengetahuan bagi anak-anak, segi positif di dalam kelas,” ujar Sri Sulasmi.

Karenanya Vero dan Joseph tak sabar menunggu kakak-kakak Berburu datang lagi.[]Rif

sumber: kbr68h