Agent of change (Agen Perubahan)” ini adalah sebuah kata yang sering menjadi retorika kebanggaan bagi para mahasiswa. Mahasiswa saat ini merasa bangga mereka disebut sebagai agent of change, namun pada hakekatnya mereka tidak mampu melakukan sebuah perubahan bahkan yang paling dasarpun dari agent of change yang berangkat dari sebuah kegelisahan, keresahan, ketidakpuasan sudah tidak lagi melekat dalam dirinya.

Sebuah pertanyaan mendasar adalah apakah benar mahasiswa saat ini masih layak menyandang “the agent of change”? Apakah benar mahasiswa saat ini masih mampu melihat dan peka terhadap permasalahan bangsa saat ini ataupun peka terhadap permasalahan yang ada di lingkungan sekitarnya? Apakah mahasiswa saat ini masih gelisah, resah, tidak puas dan bahkan memberontak melihat ketimpangan yang  seringkali terjadi yang pada akhirnya berimbas kepada masyarakat kecil? Atau malah mahasiswa tidak lagi memiliki rasa gelisah, resah, tidak puas dan bahkan tidak ada lagi rasa pemberontakan dalam dirinya untuk melawan ketimpangan sosial atau malah mahasiswa sudah menjadi makhluk buas yang individualis yang hanya mampu mengurusi dirinya sendiri. Ini adalah sebuah renungan bagi kita sekaligus tantangan untuk merefleksikan kembali semangat agent of change. Semangat dasar dari agent of change terbangun atas kegelisahan, keresahan, ketidapuasan dan bahkan pemberontakan yang terlahir dari sebuah fenomena sosial.

Berangkat dari semangat dasar agent of change inilah, telah lahir seorang kader HMI-MPO yang mengajak kita (pembaca) peka, gelisah terhadap fenomena sosial. Dia adalah Ahmad Sahide, yang telah melahirkan sebuah karya dalam bentuk buku yang mampu merespon fenomena-fenomena sosial yang terjadi saat ini. Ia mencoba mengamati dan menganalisis fenomena yang terjadi ataupun isu-isu yang berkembang di tanah air baik itu dalam dunia keagamaan, pendidikan, dan politik. Ini adalah bentuk kegelisahan melihat fenomena yang sangat jauh dari konsep idealnya. Gelisah melihat agama dalam tataran praktis yang tidak membawa semangat rahmatan lilalamin, tidak membawa semangat damai. Resah melihat dimana pendidikan tidak lagi membawa semangat untuk mencerdaskan, melainkan ia sudah terkapitalisasi, melakukan pemberontakan dengan penanya melihat lembaga pendidikan telah dipoles menjadi lembaga usaha. Kader HMI yang satu ini tidak tahan melihat gelombang demokrasi di Indonesia yang terkadang menghalalkan segala macam cara, bahkan terkadang menjadikan agama sebagai kendaraan politik. Dalam hal ini, agama tidak lagi dijadikan sebagai pandangan hidup, melainkan agama adalah alat, baik itu bagi penguasa, politisi dan lain-lain. Sebuah pemandangan yang sangat langka yang terjadi saat ini yang di perlihatkan oleh Ahmad Sahide kepada publik yang mampu mengaplikasikan konsep dasar dari semangat agent of change menjadi sebuah karya dalam bentuk buku sehingga inilah yang dinamakan the real of the agent of change.

Ahmad Sahide, lelaki kelahiran Bulukumba, Sulawesi-Selatan. Ia tumbuh dewasa dan menemukan jati dirinya di perantauan. Sejak lulus dari Madrasah Aliah Negeri Model (MAN Model) Makassar tahun 2003, ia memutuskan untuk belajar bahasa inggris selama kurang lebih delapan bulan lamanya di sebuah desa kecil, orang-orang mengenalnya Pare, Kediri, Jawa Timur. Pada tahun 2004, namanya sudah tercatat sebagai mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan mengambil Ilmu Hubungan Internasional sebagai jurusan pilihannya. Dari sanalah, matanya mulai terbuka dari kebutaannya mengenai politik. Ia lulus tahun 2008. Saat ini, ia kembali menjadi mahasiswa pada program Pascasarjana UGM, dengan mengambil minat Kajian Timur Tengah.

Dalam buku yang ditulis Oleh Ahmad Sahide ini yang diberi judul “Kebebasan dan Moralitas” secara garis besar dibagi ke dalam empat Bab. Bab pertama berisi essai-essai seputar fenomena keagamaan (islam), dari sini kita akan dapat gambaran di mana agama sudah sangat jauh masuk kedalam arus globalisasi. Agama yang tidak bisa dibawa keluar dari ‘mesjid’. Bab dua adalah kumpulan tulisan seputar dunia pendidikan. Penulis mencoba mengkritisi kejanggalan-kejanggalan dalam dunia pendidikan kita yang sudah semakin ‘kasak-kusuk’ (hal. 52), juga karena pengaruh neo kapitalisme global. Bab ketiga adalah kumpulan tulisan yang bertemakan nasionalisme. Penulis ingin mengajak pembaca bagaimana memahami nasionalisme dalam pikiran yang jernih, bukan nasionalisme dalam versi penguasa yang justru terkadang lebih tidak nasionalis. Penulis mengajak kita berkaca pada John McCain bagaimana dalam mengekspresikan nasionalisme dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Dan pada bab terakhir, yaitu bab empat adalah bab yang bertemakan politik. Dari sini kita paling tidak bisa memotrek demokratisasi kita yang masih menganut demokrasi prosedural, bukan demokrasi yang substansial dan juga ada tawaran-tawaran bagaimana kita membenahi demokrasi kita yang jauh dari harapan.

Terkait dengan dinamika politik yang berkembang di tanah air, Ahmad Sahide mengajak kita semua gelisah melihat pertunjukan-pertunjukan politik para elit yang memaknai kekuasaan (jabatan) itu sebagai gengsi, penghormatan, harta (kapitalisme), dan popularitas. Kader HMI-MPO yang mulai berproses di HMI Fisipol UMY sejak tahun 2004 ini mencoba untuk menafsirkan kembali kekuasaan itu sehingga ia dapat dilihat sebagai pengabdian, amanah,dan tanggung jawab, sekaligus pengorbanan (dan bukan dengan mengorbankan) (hal. 157).

Dari buku kumpulan tulisannya ini, Ahmad Sahide mengajak pembaca untuk membaca Indonesia melalui catatan hariannya dalam merespon dinamika sosial, politik, kebudayaan, dan pendidikan kita dari waktu ke waktu. Ini adalah cerminan kegelisahannya yang mendalam di dalam melihat fenomena di atas. Ia menjaga api ingatan itu melalui catatan hariannya. Mengabadikan kegelisahan dan keresahannya itu, dimana ia hanya bisa mengadu dan bercerita di depan komputernya. Stempel untuk mengesahkan kebijakan ia tidak punya. Maka hanya dengan menulislah ia menuangkan kegelisahannya tersebut.

Oleh karena itu, buku ini sangat perlu dibaca oleh semua kalangan yang ingin melihat dan mengetahui lebih dalam tentang fenomena-fenomena sosial yang terjadi saat ini dan terkhusus lagi bagi mahasiswa yang mengaku sebagai the agent of change sehingga muncul the real of the agent of change berikutnya.

Terkhusus kepada para kader HMI, penting untuk dicatat bahwa ia telah mencoba menyirami kekeringan karya intelektual yang sudah lama tidak lahir dari jari-jari kader HMI. Apa yang dilakukannya perlu mendapatkan apresiasi publik, terutama kader HMI, karena ia telah membuktikan dengan karyanya bahwa jika kita (HMI) mengaku sebagai gerakan intelektual, maka pengakuan itu harus dibuktikan dengan karya intelektual, bukan hanya retorika semata, sebagaiman yang dilakukan oleh para politisi. Itulah yang telah dilakukan oleh Ahmad Sahide. Menghidupkan kembali tradisi tulis-menulis di HMI. Maka selayaknya para kader HMI menyambut dengan positif karyanya tersebut.

Rezki Satris

Ketua Umum HMI-MPO

Komisariat Fisipol UMY Periode 2009-2010 M.

Tergabung dalam Komunitas Belajar Menulis (KBM)

Judul                           : Kebebasan dan Moralitas

Penulis                         : Ahmad Sahide

Penerbit                       : The Phinisi Press

Cetakan pertama         : November 2010

Tebal Buku                  : 211 Halaman

ISBN                           : 978-602-98163-0-3