Menyingkap Fakta Sejarah Yang Terpendam

Suharto bersama rezim Orde Baru mewariskan banyak masalah dan seribu misteri untuk negeri, bahkan hingga akhir hayatnya pun kebenaran-kebenaran misteri itu masih tetap terpendam. Orde Baru mewariskan tradisi kejahatan semacam korupsi, kolusi, nepotisme yang membudaya hingga sekarang, ia juga membawa negeri ini yang dulu mandiri menjadi negeri penghutang dan tunduk pada pihak asing.

Pembantaian ribuan rakyat dan penahanan tanpa proses pengadilan atas tuduhan PKI, pemutarbalikkan fakta sejarah peristiwa G/30 S PKI dan serangan 1 Maret 1949 di Yogyakarta, serta misteri penggusuran kekuasaan dari Presiden Sukarno melalui penandatanganan Supersemar seakan mentasbihkan dirinya bahwa Suharto duduk sebagai presiden Indonesia bukan mengambil posisi sebagai pejabat yang berkewajiban menyejahterakan rakyatnya, melainkan memposisikan diri sebagai penguasa Indonesia yang menghalalkan segala cara demi ambisi-ambisinya.

Soekardjo Wliardjito, sang pejuang kemerdekaan dan mantan pengawal pribadi Presiden Sukarno yang kemudian menjadi eks tapol Orde Baru, adalah satu dari jutaan pejuang kemerdekaan yang bernasib malang dan menjadi saksi kekejaman Orde Baru.

Dipenjarakan selama 14 tahun atas tuduhan PKI tanpa proses pengadilan, mengalami penyiksaan yang luar biasa berat bersama eks tapol di LP Wirogunan (Yogyakarta), LP Kalisosok (surabaya), dan LP Ambon hingga akhirnya bebas tahun 1978. Pada tahun 1998 Wilardjito kembali disingkirkan dari lingkaran keadilan karena keberaniannya mengungkap fakta penodongan terhadap Sukarno dalam kasus Supersemar, Wilardjito 29 kali dipersidangkan dengan tuduhan menyebarkan berita bohong dan dengan sengaja membuat keonaran di kalangan rakyat. Meski akhirnya pada 8 April 2008 MA membebaskan dirinya dari berbagai tuduhan.

Di tenga-tengah penantian panjangnya atas keputusan pengadilan selama sepuluh tahun sejak 1998-2008, hari-hari Wilardjito diisi dengan menuliskan memoar kehidupan yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini. Wilardjito berusaha merekam seluruh perjalanan hidupnya hingga menjadi penuturan sejarah penting Indonesia versi lain yang bersifat personal dan jauh dari rekayasa Orde Baru, ia bermaksud menyuarakan kembali kebenaran yang terpendam tentang fakta sejarah Indonesia, dengan merekam kisah hidupnya dan menuliskannya hingga menjadi jejak sejarah yang tak pernah kering.

Melalui memoarnya ini wilardjito seakan ingin mengajak rakyat Indonesia untuk kembali berpikir kritis bersama saksi pelaku sejarah Indonesia agar mendapatkan kebenaran yang seutuhnya tentang sejarah Indonesia di masa silam untuk bersama merajut masa kini dan masa depan yang lebih baik.

Wilardjito lahir pada 22 Februari 1927 di Yogyakarta, bergabung menjadi tentara di Heiho tam tama pada masa penjajahan Jepang dengan menjabat sebagai Danton (intel), resmi mendaftar sebagai tentara BKR (Badan Keamanan Rakyat), ia ikut berjasa mengusir Belanda pada serangan 1 Maret 1949 dan menyusup ke wilayah pertahanan Belanda hingga semarang demi mempertahankan kemerdekaan RI atas ancaman dari pihak asing. Ia kemudian mengabdikan dirinya untuk negeri dengan menjadi bagian dari Angkatan Darat hingga kemudian ia bertugas di istana kepresidenan di Dinas Security atau pengawal pribadi presiden, yang bertugas menjaga keamanan presiden Sukarno.

Melalui Memoarnya ini Wilardjito banyak sekali menyingkap kebenaran sejarah yang selama ini terpendam, mulai dari kontroversi pemaparan sejarah peristiwa serangan 1 Maret 1949 bersama kebohongan film Janur Kuning rekayasa Orde Baru, tragedi G/30 S PKI dan Gerwani Suharto (narapidana kriminal) yang bertindak amoral dengan menari telanjang dan skriptis di depan tawanan (para Jenderal) memotong kelamin, mencongkel mata, menyilet Ahmad Yani. Dan yang menjadi sangat kontroversial adalah penuturan Wilardjito tentang seputar lahirnya surat perintah 11 maret 1966 yang dikenal dengan ‘Supersemar’, peristiwa penting yang menyimpan seribu misteri baik latar belakang kemunculannya hingga keberadaan naskah asli Supersemar hingga saat ini, jika naskah itu memang benar-benar ada.

Peristiwa penandatangan Supersemar yang kemudian mengantarkan Soeharto pada kekuasaan absolutnya hingga berkuasa selama 32 tahun menurut Wilardjito tak lebih dari penodongan terhadap Sukarno dan penggusuran pemerintahan Orde Lama, hasil konspirasi Suharto bersma Angkatan Darat dan CIA-Amerika yang sejak lama ingin menggulingkan pemerintahan Sukarno karena politik Trisakti Sukarno dan sikap ekstrimnya yang dekat dengan pemerintahan demokrasi-komunis-sosialis. Pada tanggal 11 Maret 1966 ia menyaksikan para jenderal Angkatan Darat M Yusuf, Amir Machmud, Basoeki Rachmat, M Panggabean dua kali mendatangi istana Bogor dini hari dan petang hari membawa Supersemar agar ditandatangani presiden Sukarno, wilardjito menyaksikan dengan matanya sendiri saat Sukarno kaget karena Supersemar menggunakan diktum militer  bukan yang seharusnya diktum kepresidenan, namun saat itu Sukarno tidak dapat mengelak karena salah satu jenderal mencabut pistol FN 46 dan memaksa Sukarno. Wilardjito sempat melawan para jenderal namun dicegah Sukarno, pasca tragedi itu ia tidak lagi bertemu dengan Sukarno dan menjadi tapol orde baru selama 14 tahun.

Terlepas dari keabsahan penuturan Wilrdjito, peristiwa ini sampai sekarang masih misterius dan membutuhkan banyak jawaban. Sebab kebenaran mutlak hanya ada pada Tuhan, sedangkan kebenaran di bidang sejarah lebih merupakan hasil usaha bersama. Sejarah bukanlah persoalan benar dan salah keterkaitan antara narasi dengan peristiwa di masa lalu melainkan pemahaman atas apa yang terjadi di masa silam untuk menentukan apa yang seharusnya dipikirkan dan dilakukan untuk masa sekarang dan masa mendatang.

———————-

Judul Buku       : Mereka Menodong Bung Karno; Kesaksian Seorang Pengawal Presiden

Penulis              : Soekardjo Wilardjito

Penerbit            : Galang Press, Yogyakarta

Cetakan           : Pertama, Agustus 2008

Tebal                : 354 halaman

Peresensi          : Moh Yasin, Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK)  Paramadina. Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS-Paramadina, Jakarta. A Branch of ICAS-London.