Obama memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia, Depok. (Foto : NYtimes)

JAKARTA, Indonesia – Presiden AS, Barack Obama, berusaha mempromosikan kembali hubungan yang lebih baik antara Amerika Serikat dan dunia Muslim dalam perjalanan kepulangannya ke Indoensia dengan melakukan kunjungan simbolik pada hari Rabu pagi (10/11) ke Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara – bahkan ia menyatakan bahwa tugas untuk memperbaiki hubungan ini merupakan tugas yang belum selesai dan masih banyak yang perlu dilakukan untuk memenuhi janji yang dibuatnya pada tujuh belas bulan yang lalu di Kairo yang dikenal sebagai “new beginning.”

Indonesia adalah negara dengan mayoritas Islam terbesar di dunia, dan pada perjalanan sepuluh hari ke empat-negara ke kawasan Asia, Obama menggunakan perjalanan yang singkat di Indonesia  ini untuk menjadikan nya sebagai contoh dari sebuah negara dengan keragaman, toleransi dan demokrasi.

Saat  menutup pidatonya di sebuah konferensi pers pada Selasa malam (9/11) di Istana Negara, Obama mengucapkan salam Muslim, “asasalamualaikum “, dan mengatakan ia akan membangun kembali hubungan Amerika dengan negara-negara Muslim sehingga mereka tidak “hanya berfokus pada isu-isu keamanan,” tapi lebih pada kerjasama yang lebih luas, dari kerjasama ilmu pengetahuan sampai dengan pendidikan.

Ketika ditanya pada konferensi pers tentang kemajuan sejak pidato di Kairo,  Obama mengatakan, “Saya rasa ini adalah proyek yang belum selesai, Kami punya banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. “Di Masjid Istiqlal, Mr Obama dan istrinya, Michelle, mengikuti adat Islam dengan melepas sepatu mereka;  Michelle mengenakan kerudung dengan bercorak manik-manik. Mereka berjalan sepanjang halaman dengan  didampingi oleh imam besar Istiqlal, Ali Mustafa Yaqub  yang mengatakan kepada Obama bahwa ada sebuah gereja sebelah Mesjid Istiqlal dan bahwa selama Natal umat Kristen menggunakan tempat parkir masjid, karena gereja tidak memiliki cukup tempat untuk parkir. Lalu, Obama berbalik dari pembicaraannya dengan imam untuk mengatakan kepada wartawan, “Itu adalah contoh dari jenis hubungan antara agama di Indonesia.

Di Istiqlal, Imam Ali  menunjukkan pesan Islam yang damai melalui sebuah bedug .  Ali mengatakan  dari bedug yang merupakan budaya lokal yang bisa diterima menunjukkan bahwa Islam bukan sebagai sebuah ancaman, Islam mengajak hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain. Sebagai orang yang memiliki posisi kuat dalam menciptakan perdamaian dunia, Ali berharap Obama bisa membantu menciptakan toleransi beragama.  Dan sekali lagi dengan mengunakan ucapan umat Muslim, Obama menjabawab permintaan itu dengan kalimat “Insya Allah.”

Bagi Obama, yang mengalami serangan balik dari lawan politiknya di dalam negerinya  karena menyetujui  pembangunan Islamic Center di Manhattan – dan sejarah pribadi yang membuat dia menjadi sasaran sentimen anti-Muslim – berbicara tentang  dunia Islam disini merupakan kesempatan yang strategis.  Di sini, di Indonesia, penderitaan Palestina menjadi salah satu isu utama yang dibicarakannya dengan Indonesia. Pada konferensi pers dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Obama marah kepada beberapa orang Yahudi Amerika ketika dia menanggapi pertanyaan tentang keputusan Israel yang membangun 1000 unit rumah baru di Timur Yerusalem pada saat  berlangsungnya perundingan perdamaian dengan Bangsa Arab.

“Kegiatan semacam ini tidak pernah membantu perundingan perdamaian, dan saya khawatir bahwa kita tidak memiliki terobosan untuk menyelesaikan masalah ini” katanya.
Jakarta , tempat Obama kecil tinggal juga  tak lapas dari banyak rumor,  termasuk rumor bahwa ia adalah Muslim (dia Kristen), bahwa Obama bersekolah di sebuah madrasah yang berhubungan dengan Islam radikal (ia bersekolah dua sekolah di sini, satu sekolah Katolik dan satu sekuler (negeri), meskipun sebagian besar siswanya Muslim), dan bahwa ia tidak dilahirkan di Amerika Serikat (ia lahir di Hawaii).

Terakhir kali  Obama di Indonesia, pada tahun 1992, ia menghabiskan satu bulan mengasingkan diri di sebuah pondok tepi pantai di Bali, di mana ia berenang setiap pagi dan menghabiskan sore hari menulis “Dreams From My Father,” memoar yang kemudian menjadi buku best seller.  Di dalamnya, ia berbagi kenangan hidup di Indonesia sebagai anak laki-laki yang , “berlari bertelanjang kaki menyusuri sawah, dengan kaki tenggelam ke dalam lumpur dingin dan basah, dan mengejar layang-layang.”

Saat memberi kuliah di Balairung Universitas Indonesia pada Rabu pagi  (10/11), Obama bercerita bahwa  ia pertama kali mengenal kemajemukan saat tinggal di Indonesia selama lima tahun. Dia mengaku banyak belajar dari keberagaman suku, agama, dan bahasa di Indonesia.  “Ini juga yang membuat saya menghargai semua pihak. Toleransi beragama tertuang dalam konstitusi Indonesia,” kata Obama.
Obama mengapresiasi nilai Bhinneka Tunggal Ika yang dianut bangsa Indonesia. “Bhinneka Tunggal Ika, unity in diversity,” kata Obama. ” Ini menunjukkan ratusan juta orang bisa hidup merdeka di bawah satu bendera,”

Obama menegaskan Amerika tidak pernah menjudge suatu agama. Karena itu,  Amerika aktif mendukung perdamaian di Afghanistan. Amerika  juga mendukung terbentuknya pemerintahan di Irak dan proses perdamaian Israel-Palestina. “Tidak ada klaim AS dalam hal agama, apalagi terhadap Islam,”

Sekitar 30 menit Presiden AS Barack Obama menyampaikan kuliah umum di depan 6.000-an undangan di kampus UI Depok.  Kuliah Obama disambut tepukan gemuruh dari para tamu undangan.  Dan dia mengakhiri pidatonya dengan kalimat penutup yang sungguh manis. “Sebagai penutup saya mengucapkan kepada seluruh rakyat Indonesia, terima kasih, terima kasih. Assalamualaikum,” ucap Obama yang kemudian melambaikan tangannya kepada ribuan orang yang mendengarkan pidatonya di ruangan itu.

Muhammad AS