(Alm) Des Alwi

HMINEWS.COM- Pagi ini, Indonesia kembali kehilangan seorang tokohnya. Sejarawan Des Alwi menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggalkan kita semua. Des Alwi meninggal dunia pada Jumat 12 November 2010, dini hari. Saat ini jenasah disemayamkan di rumah duka, Jalan Biduri, Blok N 1/7, Permata Hijau.

“Saat ini saya dalam perjalanan ke rumah duka,” kata mantan Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad, Jumat, 12 November 2010.

Des Alwi dilahirkan di Banda Naira pada 17 November 1927. Almarhum memegang tiga bintang penghargaan yakni Bintang Pejuang 45, Bintang Pejuang 50, dan Bintang Mahaputra Pratama 2000.

“Saya Meninggal Hari Jum’at”

Enam hari sebelum wafat, sejarawan Des Alwi sudah memberikan tanda-tanda akan pergi. Cucu Des, Farhas, mengingat hari-hari jelang ulang tahun ke-84 tahun kakeknya itu.

“Malam itu dia bolak balik, dari tempat tidur, kursi roda, tempat tidur, kursi roda. Dia sempat bilang: Saya mau pulang dari rumah sakit, saya mati nanti di hari Jumat,” kata Farhas mengulang perkataan kakeknya saat ditemui di rumah duka, Jumat 12 November 2010.

Des Alwi wafat Jumat subuh tadi dan meninggalkan empat anak dan enam cucu. Rabu lalu, lanjut Farhas, kakeknya sempat mau kabur dari rumah sakit sambil membawa selang infusan. Untungnya, seorang suster memergoki dia tengah memencet tombol lift. Saat ditanya mau kemana, Des menjawab enteng,”Mau ke Surabaya, upacara hari Pahlawan.”

Lalu, keesokan harinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sempat menelepon Des Alwi untuk menanyakan kabar. Dalam perbincangan itu, Des Alwi kembali melontarkan soal kematian. “Saya habis ini  (meninggal).”

Semula, Alwi akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Namun, kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Des Alwi sempat menyatakan permintaan terakhir untuk dimakamkan di kampung halaman, Banda Naira, Maluku.[]ach/viva