Prakarsa global lintas agama untuk ubah dunia

Rahim Kanani
HMINEWS.COM, Cambridge, Massachusetts – Lebih dari dua per tiga penduduk dunia – lebih dari empat miliar – adalah penganut agama. Bayangkan apa jadinya bila energi empat miliar orang ini digunakan sebagai kekuatan untuk menggerakkan perubahan sosial global. Entah untuk mengatasi masalah kemiskinan, penyakit, kesehatan, energi, pendidikan, ketidaksetaraan jender ataupun apa saja tantangan mendesak yang dunia hadapi sekarang, dengan empat miliar pikiran dan delapan miliar tangan bekerja bersama-sama, semuanya menjadi serba mungkin.

Inilah potensi kekuatan agama.

Luar biasa, bukan?

Salah satu cara menyalakan potensi ini adalah dengan membentuk dan mengembangkan sebuah gerakan, sebuah Korps Relawan Lintas Agama Dunia, untuk secara profesional menyatukan para penganut agama yang berbeda dalam kerja-kerja layanan publik di tingkat internasional, nasional maupun lokal. Tujuan interaksi semacam ini adalah untuk mendemistifikasi “orang lain” melalui keterlibatan bersama dalam kegiatan dan prakarsa yang bermanfaat tidak hanya bagi komunitas mereka saja tapi juga masyarakat secara lebih luas.

Banyak penganut agama yang telah mengabdi pada masyarakat mereka dan saling membantu dalam berbagai macam cara, seperti menjadi relawan di gereja, sinagog, masjid ataupun kuil setempat. Namun, Korps Relawan Lintas Agama Dunia, akan ditujukan untuk mengatasi masalah yang lebih besar yang diakibatkan pesatnya globalisasi. Ketika dunia menjadi semakin terhubung, ketegangan-ketegangan mudah meletup. Meningkatnya ketegangan ini sangat baik digambarkan oleh Yang Mulia Aga Khan, pemimpin Ismailiyah dan Ketua Aga Khan Development Network, dalam sebuah pidatonya tentang pluralisme di Toronto:

“Keragaman di dunia tidak saja semakin nyata, tapi nyaris tak terelakkan. Perbedaan antar manusia semakin dekat – dan semakin menguat… Hampir tiap sesuatu kini tampak “mengalir” secara global – orang dan gambar, uang dan utang, barang dan jasa, mikroba dan virus, polusi dan senjata, kejahatan dan teror. Tapi, mari ingat pula bahwa dorongan-dorongan konstruktif juga menjadi lebih mudah mengalir, seperti ketika organisasi-organisasi internasional bergandengan tangan melampaui sekat-sekat.”

Pengabdian masyarakat atas dasar keyakinan dan etika yang dimiliki bersama bisa diwujudkan di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Pada tingkat lokal, prakarsa-prakarsa lintas agama bisa dibentuk untuk membangun penampungan tunawisma, klinik kesehatan dan sekolah bagi anak berkebutuhan khusus. Di tingkat nasional, rencana-rencana aksi bersama bisa dirancang di kalangan pemeluk agama dari semua lapisan untuk memajukan hak-hak perempuan, pendidikan anak dan perlindungan lingkungan hidup.

Dan di tingkat internasional, peningkatan kerjasama di antara lembaga-lembaga kemanusiaan yang berbasis agama, pernyataan-pernyataan bersama oleh komunitas agama berbeda yang mengungkapkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang tak terwartakan, dan seruan-seruan lintas agama untuk mengurangi cadangan nuklir global, semuanya menjadi mungkin ketika dinding-dinding yang menyekat diganti dengan jembatan-jembatan yang menyatukan. Upaya-upaya lintas agama seperti itu tidak hanya mendekatkan suatu agama pada yang lain, tapi juga membangun rasa saling percaya di antara berbagai macam pemeluk agama.

Ide menciptakan Korps Relawan Lintas Agama Dunia, tidaklah sekadar tentang menciptakan sikap saling menerima dan saling mengerti akan agama lain. Ini juga tentang menanamkan etika pluralisme yang lebih luas, yang menerima dan mengerti segala perbedaan – dalam hal agama, etnis, budaya, dan bahasa.

Korps relawan bisa menjadi sebuah badan dunia untuk meningkatkan kerjasama di antara lembaga agama, organisasi berbasis agama, dan prakarsa yang dimotivasi agama, dan akhirnya menjadi forum yang menumbuhkembangkan segala macam pluralisme.

Sekelompok pemimpin agama bisa ditunjuk menjadi anggota dewan komunitas lokal, nasional, maupun internasional yang mendorong aksi lintas agama. Para pemimpin ini harus berani, terbuka dan mau bergerak. Yang lebih penting lagi, mereka bisa menjadi teladan bagi para pengikut mereka, baik dalam pemikiran maupun aksi. Bayangkan bila dewan komunitas ini dibuat di mana-mana – di daerah demi daerah, dan kota demi kota – lintas negara di seluruh dunia.

Perbedaan di antara kita, meski penting dan nyata, kalah penting dibandingkan kesamaan kita. Kemurahan hati, belas kasih, kebajikan, maaf, penghormatan, kedermawanan, dan penerimaan bukanlah milik suatu agama tertentu, tapi merupakan pengikat keimanan kita bersama. Komitmen bersama pada kebaikan bersama ini, yang dituntun oleh tradisi agama yang berbeda-beda, mungkin adalah sumber daya terbesar untuk mengatasi tantangan-tantangan abad ke-21.

Kita harus saling memanusiawikan keyakinan orang lain dengan secara bersama-sama menjadi warga yang aktif dan menjadi pelayan bagi yang lain.

Dan kita harus segera memulainya, karena seperti antropolog kondang Margaret Mead pernah katakan, “Tak diragukan bahwa sekelompok kecil warga yang penuh komitmen dan bijak bisa mengubah dunia. Bahkan, hanya dengan itu lah caranya.”

###

* Rahim Kanani tengah menempuh studi master keduanya di Harvard Divinity School di bidang agama, etika dan politik, di mana ia menggeluti kajian Islam, HAM dan kebijakan keamanan internasional. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).