Pemuda adalah Agen Pemersatu di Amerika

Eboo Patel dan Samantha Kirby
HMINEWS, Chicago – Bulan lalu, Zach Jordan, mahasiswa senior di Elon University, North Carolina, terperanjat dengan apa yang ia dengar di media tentang Muslim. Tapi alih-alih mematikan televisi atau memaki-maki, Zach malah melakukan apa yang sosiolog Bob Putnam dan David Campbell sebut sebagai cara paling efektif meningkatkan toleransi agama: ia menciptakan ruang bagi orang-orang dari latar belakang agama berbeda untuk bertemu satu sama lain.

Zach menggelar sebuah acara di kampusnya, yang dihadiri 150 mahasiswa dan staf kampus dari berbagai latar belakang agama berbeda, dan membincangkan keragaman agama di Amerika. Acara itu sangatlah merangsang pikiran – dan minat masyarakat sangat tinggi untuk acara seperti ini – sampai-sampai para mahasiswa pun tetap berdiam di sana berjam-jam setelah acara selesai, mendiskusikan gagasan yang dilontarkan satu sama lain. Mereka terlibat dalam diskusi melalui sebuah kegiatan bersama.

Dalam buku baru mereka, American Grace, Putnam dan Campbell menyebut kegiatan iseng-iseng ini sebagai “sindrom Sahabat A1 Anda”. Mereka menjelaskan bahwa jika Anda berkumpul bersama dengan orang lain dalam sebuah kegiatan bersama – meskipun Anda memulai hubungan itu dengan sikap negatif atau bahkan kecurigaan tentang agama mereka – sikap Anda akan membaik sepanjang ikut serta dalam aktivitas bersama itu.

Jika kita menganggap penting toleransi agama dan kerjasama antaragama, dan jika kita tahu bahwa hal-hal itu bisa meningkat dengan adanya pertemuan yang positif dan penuh kesan antara orang-orang yang berbeda agama, kita harus memperbanyak keberadaan pertemuan-pertemuan ini.

Di Interfaith Youth Core (IFYC), kami berpikir bahwa orang-orang seperti Zach Jordan adalah harapan terbaik kita dalam memperluas kesempatan serupa. Kami percaya bahwa mahasiswa mampu menciptakan kegiatan bersama – awalnya di kampus dan kemudian dalam kehidupan sosial, profesional dan pribadi mereka – bagi orang-orang dari agama yang berbeda untuk berkumpul dan saling mengenal.

Zach terlatih menjadi apa yang kami sebut “pemimpin lintas agama “, orang yang punya kerangka pikir, pengetahuan dan keterampilan untuk mengadakan pertemuan-pertemuan yang bermanfaat seperti itu. Minggu lalu di Washington DC, kami melatih 200 lebih mahasiswa seperti Zach Jordan serta 100 staf kampus yang bisa mendukung mereka dari 136 kampus, dalam acara Interfaith Leadership Institute.

Saat kami pertama kali menggelar acara ini di Georgetown University dengan acara pembukaan di Gedung Putih, kami tidak tahu akan seberapa besar minat pada acara ini. Hanya dalam dua minggu, kami menerima lebih dari 500 pendaftaran untuk 150 jatah peserta dari mahasiswa dan staf kampus dari seluruh Amerika, dan harus menambahkan sesi kedua untuk mengakomodir animo sebesar ini.

Dalam dua sesi intensif tersebut, kami melatih para pemimpin kampus ini untuk angkat bicara tentang pentingnya kerjasama lintas agama di tingkat dunia dan di kampus, menggalang rekan-rekan mereka untuk ikut serta dalam aksi lintas agama dalam masalah sosial tertentu dan meneruskan upaya-upaya ini ke kampus-kampus di seluruh Amerika melalui kampanye aksi lintas agama IFYC, “Better Together” (bersama itu lebih baik).

Intinya di sini adalah bahwa kami telah belajar dari sosiologi bahwa perjumpaan yang positif dan penuh kesan bisa mengubah sikap orang terhadap orang-orang dari latar belakang agama yang berbeda. Dan kami tahu bahwa kami tidak harus menunggu hal ini terjadi secara kebetulan. Ada puluhan ribu Zach Jordan di luar sana, yang sangat ingin menciptakan kesempatan ini dan ingin belajar bagaimana caranya. Kami hanya melatih dan memobilisasi mereka untuk melakukannya.

###

* Eboo Patel adalah pendiri dan Presiden Interfaith Youth Core. Samantha Kirby adalah Ahli Komunikasi dan Kebijakan di IFYC. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM seizin kedua penulis.