Kamis (4/11/2010). Suasana Jogja tenang dengan rintik abu tipis di kota. Lepas isya’ dua orang berpangkat Pengurus Besar (PB) HMI (satunya pejabat penting dan satunya pejabat biasa) berboncengan motor di depan dua penggiat HMI Komisariat Kehutanan UGM. Beriringan merambat naik menuju suara letusan Merapi yang entah sampai kapan akan berhenti.

Malam itu, berempat mereka menaiki kaki lereng yang konon teraktif sejagad. Posko HMI memang berada di atas, berada di barak tertinggi di antara barak pengungsian lainnya pada titik 12 km dari puncak. Desa Bawukan, Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten adalah tujuan mereka sebenarnya. Barak pengungsi yang sejak siang sebenarnya harus segera dipindah karena lokasinya yang terlalu dekat dengan puncak. “Wilayah KRB” (Kawasan Rawan Bencana) kata para jurnalis televisi.

Sempat berputar-putar di Kecamatan Ngemplak karena jalan yang harus dilalui begitu tersembunyi, Team mendapatkan suguhan yang sangat jarang dijumpai. Di Ngemplak Kabupaten Sleman itu, jika kawan-kawan berada di selatan pematang sawah setelah kantor BRI Ngemplak I dan menatap ke Utara, Merapi sedang mencuri perhatian semua mata. Pijar merah berkejap sesekali diikuti gelegar yang menggaung. Guguran lava menghasilkan getaran-getaran kecil merambati kaki, sebagian sempat pula merambati jantung orang-orang yang tidak terbiasa. Abu vulkanik, salju hangat Jogja-pun melebat memerihkan mata Team.

23.35 WIB, ‘Team’ telah beberapa lama sampai di POSKO Relawan HMI di Dusun Bawukan. Informasi saja, tempat barak pengungsian tersebut persis di bawah dusun Balerante yang terlalu sering disebut reporter televisi. Dusun yang menurut Suleman (warga asli Balerante) hanya menyisakan empat rumah, selebihnya mengungsi di Dusun Bawukan, menyatu dengan lokasi Posko HMI.

Kelelahan, sebagian besar relawan HMI tertidur di tenda. Pejabat penting PB yang menjadi bagian ‘Team’ juga segera merebahkan diri dan terlelap di-nina bobokkan getaran-getaran guguran Merapi. Warga pengungsian yang berjumlah 1.700 orang sebagian besar juga telah pulas, mengumpulkan energy untuk naik esok pagi untuk memberi pakan ternak yang tertinggal di atas.

Tiga orang ‘Team’ melekan, ngobrol ngalor-ngidul-ngetan-ngulon (ngulon beneran karena tema pembicaraan seringkali ‘ngrasani’ Merapi di barat (kulon=barat (jawa-red)) yang batuknya tak kunjung sembuh). Klaten-atas memang ditakdirkan untuk melekat di sisi timur Merapi.

Mata-mata yang masih terjaga selalu mendongak melihat kejap-kejap merah Merapi yang muncul sesekali. Mirip suara Guntur tapi lebih antep (seperti gaung yang tertahan di tempat tertutup). Tawa kami berderai-derai ketika menyadari bahwa para pengungsi itu banyak menyimpan kelucuan yang menyumber dari keseharian mereka.

Tengah malam obrolan semakin menghangat. Beberapa warga ikut bergabung. Tiba-tiba ada suara gelegar yang keras sekali. Salah satu pejabat biasa PB masih sempat menunjuk gumpalan awan hitam yang melayang berat melintasi atas tenda. Entah, barangkali itulah wedus gembel yang reputasinya tidak usah dipertanyakan lagi, yang jelas ujung gumpalan itu meliuk masuk ke mulut Merapi. Langit malam masih menyisakan warna terang untuk membedakan gumpalan gelap awan itu dengan warna langit di atasnya. Sejurus kemudian rintik berat berderai, tlepok-tlepok (sebutan orang Jawa untuk menggambarkan suara derai jejatuhan berat dari atas).

Lariii..!!!, mlayu..!!!..mlayu…!!! teriakan yang jelas bersumber dari rasa panic itu segera susul-menyusul. Tenda putih berlambang bulan sabit merah, Posko PB yang didiami para penggiat Cabang Sleman dan empat relawan dari Jakarta Selatan itu segera berubah cokelat oleh lumpur curahan Merapi.

Empat orang relawan yang berlari ke barat mengikuti jalan aspal segera menjumpai cerita lain. Mereka keliru mengambil jalan dan malah naik menuju mulut Merapi. Allah dekat sekali pada saat itu karena berulang kali dipanggil. Satu relawan segera mengambil motor dan menggeber menuju arah Klaten. Suara-suara takbir sepanjang jalan evakuasi mencekam dari sebagian pengungsi yang syok ditambah pijaran api korsleting dari kabel-kabel PLN, rumpun bambu yang rebah ke jalan dan jalan aspal yang dibanjiri lumpur berkombinasi mengerutkan jantung siapapun. Iringan gabungan sebagian relawan dan pengungsi berpacu menuruni jalan makadam yang penuh batu bertonjolan. Malam gelap, lumpur memenuhi mata, motor bergelimpangan di jalan oleh licin yang sulit diatasi.

Satu orang yang lari arah Klaten ‘hanya’ jatuh dua kali. Satu orang ini segera menghubungi ambulance Rumah Sakit Islam lokal, memintanya untuk segera naik mengevakuasi sisa yang tertinggal tapi toh sopir ambulance juga manusia, tak bergeming!! Hingga dini hari mendekati subuh dia hanya bisa berusaha memelototi motor-motor yang melaju ke bawah mencari-cari jika ada oknum HMI yang selamat. Abu vulkanik tebal memenuhi paru-paru sejak malam karena masker sudah tidak bisa dipakai, berlepot oleh lumpur Merapi.

***

Klaten (05/11), jam 03.00 WIB. Relawan dan pengungsi yang tertinggal di Bawukan diangsur ke bawah menggunakan truck. Tenda dan sisa bantuan di gudang ditinggal. “Untung hujan, jadi lumpur hangat yang jatuh” lontar salah satu relawan.

Tidak ada korban. Empat orang yang kesasar menuju atas terselamatkan oleh malaikat lokal, warga Merapi. Ditunjukkan jalan yang benar, dipinjami baju dan disuruh mandi.

***

Sleman (05/11), pkl 06.30 WIB semua relawan telah berkumpul di Sekretariat Cabang Sleman. Menertawai takdir yang tidak bisa ditebak sambil sarapan soto ayam bercampur rintik abu tipis. Semua selamat. Mengintip tema obrolan di bibir maut yang berlangsung di atas ternyata tak jauh dari kekhawatiran status mayoritas para relawan HMI. “Bujangan di ambang maut” barangkali itulah judul yang paling pas. Ada-ada saja.

Ardian, relawan HMI