HMINEWS.COM

 Breaking News

Kita Semua: Mari Pulihkan Akal Sehat di Amerika

November 14
18:53 2010

Kita semua: mari pulihkan akal sehat di Amerika

Susan Koscis
HMINEWS.COM, Washington, DC
– “Peluklah Seorang Muslim Hari Ini” adalah poster pertama yang saya lihat saat tiba di Unjuk Rasa untuk Pulihkan Akal Sehat, yang baru-baru ini diadakan pada suatu siang musim gugur yang indah di National Mall di Washington DC. Poster itu memengaruhi suasana yang selanjutnya terjadi.

Saya adalah anak generasi 1960-an, ini mungkin yang membuat saya familiar dengan suasana unjuk rasa. Meskipun kerumunan diperkirakan mencapai 200.000 orang, dan sulit untuk mendengar atau melihat apa yang terjadi di panggung, orang-orang tetap bersikap sopan, damai dan positif.

Selama tiga jam kami berkerumun mendengarkan musik dan pertunjukan lainnya. Orang-orang bersorak ketika penyanyi kondang Cat Stevens, yang kini bernama Yusuf Islam, naik ke panggung dan menyanyikan lagu klasiknya, “Peace Train”. Orang-orang juga mendengarkan puisi, tapi kebanyakan datang karena komedi – yang semuanya menyelipkan kegembiraan di tengah iklim politik dan budaya yang sangat terpolarisasi di Amerika sekarang.

Sebuah pesan menyeruak bagi “Kita Semua”, tidak saja bagi mereka yang ikut unjuk rasa, tapi bagi semua orang Amerika – dan bahkan bagi mereka yang di luar sana: “Kita bisa mempunyai kebencian tapi tetap tidak punya musuh, dan kita perlu tahu beda keduanya. Jika kita selalu berteriak, kita tak akan mendengar apa-apa,” kata Jon Stewart.

Stewart, pembawa acara The Daily Show di televisi kabel Comedy Central, yang menggalang unjuk rasa ini. Hingga akhir unjuk rasa, Stewart bersikap serius dan menyampaikan pidato yang menjadi salah satu pidato paling brilian yang pernah saya dengar.

Stewart menganggap polarisasi di Amerika Serikat sebagiannya adalah salah media. Ia mengkritik media-media yang melebih-lebihkan perbedaan kita dan menyulut ketegangan di antara kita. Ia mengakui bahwa retorika ekstremis di media mungkin berdampak bagus untuk menaikkan rating, tapi tidak berdampak bagus untuk negara kita.

Menanggapi cara media melebih-lebihkan perbedaan di antara orang-orang, Stewart mengatakan, “Media bisa mengarahkan lensanya pada masalah-masalah yang ada dan menyoroti masalah-masalah yang sebelumnya tak terlihat, tapi media juga bisa menggunakan lensanya untuk memperburuk suasana.” Ia menambahkan bahwa orang Amerika “tidak hidup dalam TV kabel; tempat kita hidup adalah dalam nilai-nilai kita dan dalam prinsip-prinsip yang menjadi fondasi yang menopang kita.”

Mengomentari meningkatnya ketakutan orang Amerika terhadap Muslim, ia mengatakan bahwa ketidakmampuan membedakan para teroris dan orang Muslim justru membuat kita merasa kurang aman, dan bukannya lebih aman.

Stewart tidak sepakat dengan media yang mengatakan bahwa Amerika tengah terpecah secara ideologis karena kenyataannya sebagian besar orang Amerika tidak menjalani hidup sebagai orang Demokrat atau orang Republik, maupun orang konservatif atau orang liberal. Kita mengerjakan rutinitas harian kita sebaik yang kita bisa, sebagai orang-orang dan bukan sebagai para ideolog.

Dalam bukunya, Practical Intelligence, Karl Albrecht menjelaskan bahwa kata-kata punya arti penting: “Kata-kata bisa menjadi senjata, bisa menjadi alat, dan bisa menjadi seni. Kata-kata bisa menginspirasi, menghasut, mengobarkan, menenangkan, memberi tahu, mendidik, menyesatkan, memanipulasi, dan merancukan. Banyak pemimpin terkenal telah memahami dan memanfaatkan psikologi bahasa dan telah menggunakan pengetahuan ini untuk menggugah dan menggalang orang-orang, baik untuk hal yang baik ataupun buruk. Puisi, sastra, slogan populer, metafor, dan lagu-lagu patriot semuanya punya kekuatan untuk menggerakkan orang-orang secara dahsyat.”

Bagaimana kita menggunakan kata-kata menjadi inti unjuk rasa itu. Tidak ada yang diminta untuk mengabaikan atau melupakan bahwa kita punya perbedaan-perbedaan yang sangat nyata. Tapi unjuk rasa ini mengingatkan kita bahwa kita bisa tetap santun satu sama lain, kita bisa mendengarkan satu sama lain, dan kita bisa saling belajar satu sama lain.

Apa salahnya mencoba?

Menengok sekeliling, saya melihat poster-poster yang mencerminkan semangat ini: “Jadilah yang Terbaik bagi Satu Sama Lain”, “Bersikap Baik itu Keren”, “Peradaban Membutuhkan Keberadaban”, dan yang mungkin kita semua sepakat, tak peduli apa pandangan politik, agama atau keyakinan kita; seorang gadis belia memegang poster berbunyi, “Coklatnya Tambah Dong”.

###

* Susan Koscis adalah Direktur Komunikasi Search for Common Ground. Artikel ini mulanya dimuat di The Sacramento Bee dan ditulis ulang untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.