Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Thamrin Amal Tamagola

HMINEWS.COM- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang suka plesiran keluar negeri menurut  Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Thamrin Amal Tamagola bahwa perilaku anggota DPR saat ini sudah tidak lagi dalam tahap membandel. Pasalnya negeri lagi berduka, wakil rakyat asyik plesiran keluar negeri. Plesiaran ini sendiri dibiayai dengan menggunakan uang rakyat miskin.

“Mereka bukan membandel lagi, tapi sudah membadak. Kulitnya badak, hatinya batu,” kata Thamrin, dalam diskusi dialetika demokrasi bertema “Studi Banding: Prosedur atau Kebutuhan Jalan-jalan”, di press room DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (5/11).

Karena hatinya (dari) batu, lanjut Thamrin, wajar saja jika suatu ketika masyarakat melempar mereka itu dengan batu-batu (kecil) yang berasal dari banjir bandang Wasior, Gunung Merapi, maupun Mentawai.

Dikatakan telah membadak, karena saat bangsa dan negara ini tengah berduka ditimpa musibah bencana alam, yang mereka lakukan justru berpelesiran ke luar negeri dengan menggunakan uang rakyat. “Jadi itu, yang saya maksudkan membadak,” tegasnya.

Studi banding DPR dan pemerintah ke luar negeri itu merupakan tradisi pejabat bangsa ini yang  secara ramai-ramai menjarah uang rakyat, dan hanya bermanfaat bagi penjarah itu.

Terkait rencana DPR untuk menata ulang kembali perihal kunker anggota dewan melalui mekanisme revisi UU MD3 dan Tata-tertib DPR, Thamrin menilai langkah itu tidak akan merubah perilaku anggota DPR.

“Ini bukan soal UU MD3, atau Tata-tertib DPR. Tapi lebih kepada urusan hati nurani anggota dewan. Problem anggota dewan kita saat ini adalah, hati nuraninya sudah kotor, bernajis!” tegas Thamrin.

Selain mengkritisi masalah kunjungan kerja (kunker) anggota DPR ke luar negeri, Thamrin juga meminta pemerintah untuk segera mengeluarkan aturan pembatasan menunaikan ibadah haji. “Pemerintah harus ambil ketegasan. Naik haji cukup satu kali saja,” katanya. Termasuk terhadap para pejabat di legislatif, eksekutif dan yudikatif.

Menurut Thamrin, harus ada pelarangan agar mereka itu tidak berulang kali naik haji dengan biaya dinas, serta melakukan lempar jumroh jauh-jauh ke Jamarat, Mina, Mekkah, Arab Saudi.

“Melempar jumroh kok jauh-jauh? Di Senayan (komplek Parlemen Senayan, Red) dan kantor-kantor pemerintah di Jakarta, juga banyak syetan yang wajib untuk kita lempari dengan batu,” kata Thamrin lagi dengan nada sinis.[]jpnn/dni