Kasus IPO KS Bisa Jadi Century Kedua

HMINEWS- Polemik berkepanjangan tentang kasus penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) PT Krakatau Steel Tbk (KS) dinilai bisa berkembang ke pembentukan panitia khusus (pansus) atau panita kerja (panja) DPR kasus IPO KS. Jika demikian, kasus IPO KS ini berpotensi menjadi semacam kasus Century kedua.

“Saudara-saudara tahu konsekuensinya kalau Komisi XI putuskan perlu untuk bikin pansus atau panja. Politis dan hukum kalau sudah jadi satu, ini bisa jadi Century kedua,” ujar anggota Komisi XI dari Fraksi PDIP Maruarar Sirait dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XI DPR dengan pihak-pihak terkait IPO KS di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (29/11) malam.

Komisi XI DPR mulai memanggil sejumlah pihak yang terkait dengan proses pelaksanaan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) PT Krakatau Steel Tbk.

“Kehadiran bapak-bapak di sini merupakan tindak lanjut atas kecurigaan publik terhadap keseluruhan proses IPO Krakatau Steel. Karena itu DPR memanggil semua pihak terkait ke sini,” kata anggota Komisi XI lainnya, Edwin Kawilarang.

Di internal Komisi XI sendiri berkembang usul untuk melaksanakan audit investigatif oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), maupun pembentukan pansus atau panja. Anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Demokrat I Wayan Gunastra mengatakan, untuk menuntaskan polemik berkepanjangan serta kecurigaan yang beredar di masyarakat, maka perlu dilakukan audit investigatif oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap penetapan harga.

“Sangat penting dilakukan audit investigasi terhadap penetapan harga. Agar masyarakat tahu bahwa tidak ada yang main-main di sini. Agar semua terbuka dan clear. Tidak ada duga-menduga. Sementara soal penjatahan, kita tunggu saja hingga lock up period selesai. Nanti akan terbuka semua,” tegasnya.

Mutya Hafidz dari Fraksi Partai Golkar pun menegaskan diperlukan adanya audit investigasi untuk mengamankan IPO-IPO lain, khususnya IPO BUMN ke depan. “Agar kontroversi semacam ini tidak terulang lagi,” tukasnya.[]MI/dni