BEM Nusantara dan SBY

HMINEWS- Disesalkan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memecah belah mahasiswa melalui pembelahan BEM  Nusantara versus BEM Indonesia, suatu adu domba  pembodohan angkatan muda.Pembentukan BEM Nusantara merupakan tandingan atas BEM Indonesia, dan kehadiran SBY dalam temu mahasiswa BEM Nusantara di Universitas  Cendrawasih merupakan sinyal pembelahan dan  pecah belah gerakan mahasiswa antara yang pro-penguasa dan yang kritis-oposisionis. Mungkin SBY menyadari, mungkin juga tidak menydarinya. Namun jelas, BEM Nusantara memecah kampus jadi pro-kontra.

Para pengamat dan aktivis menyesalkan bahwa ,  SBY yang mustinya justru mengikuti jejakJenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo yang pro-mahasiswa dan memahami  gerakan mahasiswa sebagai kekuatan moral dan kontrol sosial, bukannya malah menjinakkan dan memecah mahasiswa melalui BEM Nusantara versus BEM Indonesia. ‘’ SBY malah sudah seperti Soeharto,  merayu dan  mengkooptasi mahasiswa dengan berbagai cara, padahal itu kan pekerjaan sekelas Menegpora,  bukan kelas presiden. Degradasi kepresidenan sudah kasat mata, dan saya menduga  ada paranoid dalam istana atas gerakan mahasiswa sehingga istana SBY melumpuhkan gerakan mahasiswa melalui pendekatan ekonomi-politik, bahkan dengan lagu SBY berjudul Lagu Ku Yakin Sampai di Sana  pula. Alangkah lucunya mahasiswa dan penguasa sekarang ya, jadi  kayak bodoh semua’’ kata Supawan Zahary Gabat, mantan aktivis Dewan Mahasiswa UGM yang kini berprofesi advokat.

Ketua PMKRI Stefanus Gusma,  Sekjen GMNI Cokro Wibowo, Ketua IMM Ton Abdillah Has dan Effendy Ghzali PhD  melihat ada upaya kooptasi istana atas mahasiswa melalui menegpora dan menteri  KIB Jilid II lainnya. ”Kooptasi itu untuk melumpuhkan gerakan,” kata Cokro.

Para aktivis itu melihat, upaya adu domba dan pecah belah mahasiswa oleh rezim  SBY itu mengingatkan publik pada cara-cara Soeharto yang kotor.”  Namun BEM Nusantara tidak bisa mewakili semua gerakan mahasiswa, sebab BEM se-Indonesia yang berpijak moral-etis masih perkasa,” kata Ahmad Kasino, aktivis gerakan mahasiswa 1998.

Walapun  BEM Nusantara difasilitasi negara SBY, tetap saja kekuatan kritis dari kampus muncul dan bergerak sebab BEM se-Indonesia adalah kekuatan kritisi.

Dulu mertua SBY, yakni Sarwo Edhie Wibowo amat dekat dengan mahasiswa, namun sekarang justru SBY malah memecah mahasiswa hanya karena berkuasa. ‘’ Ini tragedi  karena legasi SBY ke depan akan dikenang sebagai pemecah-belah gerakan mahasiswa melalui bujuk rayu ekonomi dan politik  transaksional lainnya,’’ kata Umar Hamdani, Direktur Lembaga Studi Islam dan Kebudayan (LSIK) yang juga mantan aktivis UIN Jakarta.

Gerakan mahasiswa sangat ditakuti oleh istana SBY sehingga langkah pecah belah dan adu domba di UNCEN  itu merupakan pilihan Cikeas untuk melumpuhkan perlawanan mahasiswa. ‘’Namun itu tak akan berhasil, malah jadi bumerang politik. Lihat saja, SBY akan dicela dan diketawain banyak orang, sebab mahasiswa yang tak mau turun ke jalan adalah golongan mahasiswa salon yang lembek, ’’ kata M.Ridwan,  mahasiswa pasca sarjana UGM dan ketua PB HMI.

Yang past, kini ada dua BEM di  kampus-kampus yakni BEM Nusantara, suatu sempalan  dukungan istana SBY dan BEM Indonesia yang genuine dan otentik asal mulanya sebab lahir  secara natural dari lingkungan kampus tanpa  tangan halus istana atau penguasa.

”Mahasiswa adalah bagian integral dari  civil society, kalau BEM Nusantara hanya menghamba ke-SBY dan tak kritis, saya kawatir iitu namanya  mereka SMA gedhe. Kasihan deh,”  kata  Herman, aktivis IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)[]RIMANEWS