Naazish YarKhan

Naazish YarKhan
HMINEWS, Chicago– Pemerintah Inggris, keturunan mantan Presiden AS Thomas Jefferson dan budaknya Sally Hemings, Asosiasi Olahraga Pemuda Mathare di Nairobi, dan organisasi multi-media Just Vision, secara sekilas tampak tak memiliki kesamaan. Tapi pada 11 November lalu di National Geographic Society di Washington DC, jelaslah bahwa mereka semua telah bekerja membangun pengertian antarindividu dan antarkomunitas yang terpisahkan oleh kekerasan, kegelapan dan kebodohan.

Organisasi non-profit Search for Common Ground, yang memang berkomitmen menyelesaikan dan mencegah konflik dengan memahami perbedaan dan bertindak atas dasar kesamaan, memberikan penghargaan kepada mereka atas contoh positif yang telah mereka berikan.

David Works, Shay Banks-Young dan Julia Jefferson Westerin—semuanya keturunan Thomas Jefferson dari budaknya Sally Hemings dan istrinya Martha, mendapatkan penghargaan atas usaha-usaha mereka dalam menjembatani jurang antara orang Amerika kulit putih dan kulit hitam. Mereka memulai dengan mendorong toleransi dan penerimaan antar-ras dalam keluarga mereka sendiri. Baru setelah pembicaraan publik Banks-Young dengan Westerin mengenai pentingnya rekonsiliasi antar-ras semakin populer, keturunan Jefferson dari Hemings diakui sebagai keluarga oleh keturunan Jefferson dari Martha.

Perpecahan berdasarkan ras adalah satu masalah di Amerika Serikat. Jika Anda membaca berbagai artikel daring atau mendengarkan bincang-bincang di radio di Amerika Serikat, Anda akan tahu betapa semakin panasnya debat publik mengenai isu ini. Jim Leach, Ketua National Endowment for the Humanities, mendapatkan penghargaan untuk tur yang dilakukannya di seluruh Amerika Serikat untuk menyuarakan pentingnya memulihkan sikap saling menghargai dan kesopanan dalam dialog publik.

Takkan ada yang setuju dengan gerakan serupa lebih dari Eboo Patel, seorang visioner di balik gerakan Interfaith Youth Core di Chicago. Lelaki Muslim yang bahkan belum berumur 35 tahun ini, telah membangun gerakan dialog antaragama global di kalangan pemuda dengan membawa mereka untuk bekerja bersama dan berdialog mengenai nilai-nilai bersama. Dalam pidatonya ketika menerima Penghargaan Common Ground, Patel bercerita mengenai penulis Italia, Italo Calvino, yang menulis mengenai penggunaan batu untuk membangun jembatan yang kokoh— bukannya untuk membangun sekat atau untuk menjadikannya senjata.

Ronit Avni, Pendiri dan Direktur Just Vision, serta Julia Bacha, Produser dan Direktur Media Just Vision, mendapatkan penghargaan untuk film dokumenter mereka yang terbaru Budrus yang memperlihatkan perlawanan tanpa kekerasan terhadap pendudukan Israel. Menurut The Boston Globe, “Film ini akan bisa mengubah bagaimana orang memandang konflik. Film ini bagus dan penting.”

Film ini mengungkapkan cerita yang tak pernah terceritakan, kisah yang tak pernah terdengar dalam media arus utama di AS dan di dunia pada umumnya. Film ini menggambarkan upaya-upaya untuk menyelamatkan Budrus, sebuah desa di Palestina, yang rencananya akan dibelah dengan tembok pemisah. Upaya penyelamatan itu dilakukan oleh tokoh-tokoh politik dan masyarakat lokal serta pendukung mereka dari Israel dan dari belahan dunia lain. Film ini akan diputar di bioskop-bioskop di Amerika hingga pertengahan Februari tahun depan. Ratu Noor dari Yordania, yang memang aktif dalam berbagai organisasi perdamaian, menyerahkan penghargaan tersebut kepada para penerima.

Di hadapan hadirin yang berjumlah kira-kira 350 orang, Search for Common Ground juga memberikan penghargaan kepada Tim Rugby Springbok 1995 dari Afrika Selatan atas upaya mereka memelihara persatuan di negara yang terpecah-pecah karena ras ini. Bagi penduduk Afrika yang non-kulit putih, Springbok melambangkan sejarah negara itu di bawah rezim apartheid. Di bawah presiden Nelson Mandela, baik orang kulit putih maupun kulit hitam di Afrika Selatan merayakan kemenangan Springbok dan Afrika Selatan dalam Kejuaraan Dunia Rugby pada 1995 sebagai warga yang bersatu dari sebuah negara.

Asosiasi Olahraga Pemuda Mathare (MYSA) di Nairobi juga menggunakan olahraga sebagai katalisator perubahan, melampaui batas-batas agama, politik dan kesukuan. MYSA mendapatkan penghargaan atas kerja-kerja inspiratif mereka bagi hampir 25.000 anak-anak, laki-laki dan perempuan, di kawasan kumuh Afrika setiap tahun melalui program-program berbasis komunitas yang mereka lakukan seperti, gotong royong kebersihan, aktivitas pencegahan AIDS dan pelatihan kepemimpinan.

Pemerintah Inggris juga mendapatkan penghargaan untuk permintaan maaf atas peran mereka dalam tragedi Minggu Berdarah (Bloody Sunday), di mana 13 demonstran hak-hak sipil yang tak bersenjata terbunuh dan sejumlah lainnya cedera oleh tentara Inggris di Irlandia Utara pada 1972.

Selain mereka, perusahaan manufaktur di Pennsylvania, Center Rock, Inc., juga menerima penghargaan atas komitmen mereka menyediakan peralatan inovatif yang berhasil menyelamatkan 33 penambang di Chili dalam kecelakaan yang terjadi baru-baru ini. Keteguhan mereka untuk menemukan solusi bagi masalah yang tampak tak mungkin diselesaikan ini telah menyatukan kembali para penambang tersebut dengan orang yang mereka cintai. Sungguh merupakan sebuah inspirasi bagi kita semua.

Para penerima penghargaan ini sendiri telah melintasi batas-batas negara untuk menerima penghargaan atas prestasi mereka. Mereka memperlihatkan bahwa konflik dan perpecahan tidaklah permanen, apa pun kesulitannya, selalu ada harapan.

* Naazish YarKhan adalah editor, pengarah media sosial, komentator NPR dan bloger di Huffington Post. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM.