Mahasiswa ITS Ciptakan Game Peduli Merapi

HMINEWS- Kejadian meletusnya gunung merapi beberapa waktu lalu menjadi inspirasi bagi sebagian mahasiswa Indonesai. Bagaimana tida, Mahasiswa Teknik Informatika ITS Surabaya berhasil membuat game edukasi untuk mengajak masyarakat peduli kepada korban bencana alam Merapi.

“Game yang berbentuk visual novel itu menggambarkan suasana bencana letusan Gunung Merapi yang menelan ratusan orang dan puluhan ribu orang mengungsi,” kata Imam Kuswardayan SKom MT, dosen pembimbing ITS, di Surabaya, Minggu (28/11).

Ada dua game yang diperkenalkan yaitu Merapi Joe dan Merapi Boy.

Merapi Joe bercerita tentang seseorang anak orang kaya raya asal Jakarta yang bernama Jonathan atau dipanggil Joe yang menjadi relawan.

Sementara Merapi Boy menceritakan warga Merapi yang menjadi korban Merapi, kemudian menjadi relawan membantu menyelamatkan penduduk lainnya.

Game berjudul Merapi Joe dibuat oleh Iq Pulshashi, Retno Mumpuni, dan Putri Nikensasi, sedangkan “Merapi Boy” dikembangkan oleh Intan Dzikria dan Sangkurnia Sekar Anom.

Menurut Imam Kuswardayan SKom MT, game itu diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap musibah yang menimpa penduduk di sekitar Merapi.

“Setidaknya dengan game itu, masyarakat diperlihatkan visualisasi bencana Merapi lewat foto-foto yang memang diambilkan dari internet yang menggambarkan kondisi letusan Merapi,” katanya.

Selain itu juga bentuk visual novel memberikan pemahaman kepada masyarakat keputusan-keputusan yang diambil dan bagaimana akibatnya.

Menurut mahasiswa pembuat ‘game’ Merapi Boy, Intan, game itu dibuat dengan alur cerita yang dihadapkan untuk memilih beberapa pilihan.

“Tapi hanya satu pilihan yang alur ceritanya berakhir bahagia atau happy ending, sedangkan lainnya sad ending,” katanya.

Sementara itu, mahasiswa dari – Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menggelar kompetisi bagi komunitas urban bertajuk “Surabaya Urban City Life” di Skate Park and BMX, Jl Ketabang Kali, Surabaya (26/11).

“Masyarakat kota membentuk budayanya sendiri yang lebih dikenal dengan urban culture. Cirinya adalah munculnya berbagai komunitas-komunitas untuk mengekspresikan diri,” kata Panitia ‘Surabaya Urban City Life’, Agustino Sasongko.

Namun, komunitas-komunitas semacam itu kurang mendapatkan ruang untuk mengekspresikan diri, karena itu Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Unair menggelar kompetisi untuk memberi “ruang bernapas” bagi mereka, seperti komunitas Mural, Skate Board, BMX, dan Fotografi. []Ant/ian